Jakarta, Gesuri.id – Politisi muda PDI Perjuangan, Muhammad Syaeful Mujab, menegaskan bahwa ideologi Marhaenisme bukanlah sebuah dokumen masa lalu yang kaku dan final.
Menurutnya, gagasan yang dicetuskan oleh Bung Karno tersebut justru sangat relevan bagi generasi muda saat ini untuk membedah realitas sosial yang sedang mereka hadapi.
Hal itu disampaikan Syaeful saat mengulas sebuah buku karya Erlangga dan Roki yang menyoroti relevansi Marhaenisme terhadap Generasi Z (Gen Z). Menurutnya, buku ini hadir sebagai antitesis terhadap stigma negatif yang kerap disematkan kepada generasi muda.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

Selama ini, Gen Z sering kali dilabeli sebagai strawberry generation—sebuah istilah untuk menggambarkan generasi yang kreatif, menarik, dan penuh gagasan, namun rapuh dan mudah hancur saat menghadapi tekanan. Fenomena kesulitan ekonomi yang dihadapi anak muda saat ini kerap kali disederhanakan sebagai masalah personal akibat kurangnya disiplin atau produktivitas.
Namun, Syaeful menilai buku karya Erlangga dan Roki berhasil menggeser sudut pandang tersebut secara tajam.
"Buku ini mencoba meyakinkan kita bahwa kerentanan yang dihadapi Gen Z saat ini—mulai dari upah murah hingga tingginya biaya hidup—bukanlah sekadar kegagalan individu yang bisa diselesaikan hanya dengan healing atau olahraga. Ini adalah persoalan yang terbentuk secara struktural," ujar Syaeful.
Ia menambahkan, jalan keluar dari tekanan mental (burnout) pekerja muda tidak cukup hanya dengan mendaki gunung atau mengikuti tren gaya hidup, melainkan harus menyentuh akar kebijakan sosial dan ekonomi.
Secara spesifik, Syaeful menyoroti bagaimana modernisasi dan ekonomi digital memunculkan kelas pekerja baru yang memiliki kerentanan serupa dengan para petani di era Bung Karno. Konsep ekonomi kemitraan (gig economy), seperti pengemudi ojek daring maupun pekerja lepas (freelancer) digital, sering kali dikemas dalam narasi fleksibilitas dan kebebasan waktu kerja.
Namun pada kenyataannya, kelompok pekerja ini kerap terjebak dalam ketidakpastian.
- Minim Perlindungan: Meskipun memiliki jam kerja yang fleksibel, para pekerja digital ini minim mendapatkan jaminan perlindungan sosial yang memadai.
- Ketergantungan pada Algoritma: Sistem pengupahan dan pemenuhan target diatur sepenuhnya oleh algoritma yang tidak transparan, sehingga posisi tawar pekerja di hadapan penyedia platform menjadi sangat lemah.
"Teknologi itu ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menjadi alat pembebasan dan efisiensi, tetapi di sisi lain justru memperdalam jurang ketimpangan jika tidak diregulasi dengan adil," tegasnya.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Selain membedah masalah ketenagakerjaan dan ekonomi, diskusi ini juga menyinggung isu lingkungan hidup yang menjadi perhatian utama generasi hari ini.
Syaeful menyebutkan bahwa meski pada era Bung Karno isu ekologis belum menjadi arus utama dalam pembahasan global, buku ini mampu mengaitkannya dengan baik melalui ilustrasi populer seperti film Avatar.
Melalui analogi tersebut, penulis mengajak pembaca untuk melihat kembali pentingnya menjaga keharmonisan dan kedekatan hubungan antara manusia dengan alam sekitar.

















































































