Jakarta, Gesuri.id – Akses komunikasi yang inklusif dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan dua persoalan berbeda yang sama-sama membutuhkan keterlibatan generasi muda.
Keduanya menjadi bagian penting dalam rangkaian Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (25/10).
Workshop bahasa isyarat bersama Rumah Kencana memperkenalkan peserta pada bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi dengan komunitas Tuli. Sementara itu, lokakarya Art and Recycle Ecoprint mengajak peserta memanfaatkan pigmen alami dari daun dan bunga untuk menghasilkan motif pada media kain.
Kedua kegiatan tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda, tetapi sama-sama mendorong peserta untuk memperluas pemahaman terhadap kehidupan di sekitarnya.

Baca: Ganjar Dikenal Akur dan Harmonis dengan Saudara Kandung
Kader muda PDI Perjuangan Jawa Timur, Tasya Ayu Anggraeni, menilai pemahaman terhadap bahasa isyarat menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan sosial yang inklusif.
Menurutnya, perbedaan cara berkomunikasi tidak semestinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk berinteraksi dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.
“Memahami bahasa isyarat membuat kita belajar bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara dan mendengar, tetapi juga tentang kemauan untuk saling memahami. Teman-teman Tuli memiliki hak yang sama untuk berkomunikasi dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial,” ungkap Tasya usai mengikuti workshop di Lapangan Banteng, Jakarta.
Dalam workshop tersebut, kegiatan diawali dengan sesi ice breaking, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi yang dipandu Kak Alim. Peserta diperkenalkan pada bahasa isyarat yang digunakan dalam komunikasi dengan komunitas Tuli.
Inklusivitas tidak berhenti pada pengetahuan mengenai bahasa isyarat. Pemahaman tersebut perlu tercermin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kesediaan menyediakan ruang komunikasi yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas.
Selain isu inklusivitas, Merah Muda Fest 2026 menghadirkan lokakarya Art and Recycle Ecoprint bersama Rumah Kencana, yang didirikan oleh Nada Kencana. Kegiatan ini memperkenalkan ecoprint, teknik pembuatan motif pada kain atau media lain dengan memanfaatkan pigmen alami dari tumbuhan, seperti daun dan bunga.
Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai teknik tersebut, tetapi juga berkesempatan mempraktikkannya secara langsung.
Dengan menggunakan teknik pounding atau teknik pukul, peserta meletakkan bunga di atas tas putih, kemudian memukulnya secara perlahan agar pigmen tumbuhan berpindah ke permukaan tas dan membentuk motif alami.
Proses tersebut memperlihatkan bagaimana unsur alam dapat dimanfaatkan menjadi karya kreatif. Motif yang dihasilkan memiliki karakter tersendiri karena bentuk dan pigmen setiap tumbuhan berbeda.
Tasya menilai kegiatan kreatif seperti ecoprint dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan gagasan sekaligus membangun kepekaan terhadap lingkungan. Baginya, kreativitas perlu berjalan beriringan dengan kesadaran untuk menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan bersama.
“Anak muda perlu memiliki kepekaan untuk melihat hal-hal di sekelilingnya. Alam menyediakan banyak sumber inspirasi, tetapi juga harus dijaga keberlanjutannya,” jelasnya.
Pengalaman belajar di luar forum formal juga menjadi bagian dari perjalanan Anugrah Dwi Rachman, kader muda PDI Perjuangan Jawa Timur yang mengikuti Sekolah Partai DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.
“Sebagai peserta Sekolah Partai DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang terbilang masih baru bergabung, saya merasa mendapatkan kesempatan dan pengalaman yang sangat berharga,” tutur Anugrah.

Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Ia mengaku semula mengira pengalaman yang diperolehnya akan berhenti setelah mengikuti Sekolah Partai. Namun, kesempatan yang datang kemudian membawanya terlibat dalam berbagai kegiatan berskala besar hingga tingkat DPP PDI Perjuangan.
“Awalnya, saya mengira bahwa pengalaman saya akan berhenti setelah mengikuti Sekolah Partai. Namun, ternyata kesempatan yang diberikan jauh lebih luas. Saya dilibatkan dalam berbagai kegiatan besar, bahkan hingga tingkat DPP PDI Perjuangan,” terangnya.
Menurut Anugrah, keterlibatan tersebut memberinya kesempatan untuk belajar, memperluas wawasan, dan mengenal lebih dekat dinamika kegiatan serta kehidupan berorganisasi di partai.
“Pengalaman ini memberikan banyak hal baru bagi saya, mulai dari kesempatan untuk belajar, memperluas wawasan, hingga mengenal lebih dekat dinamika kegiatan dan kehidupan berorganisasi di partai,” pungkasnya.

















































































