KEBUDAYAAN tidak pernah benar-benar tinggal di masa lalu. Ia bergerak mengikuti zaman, menemukan bentuk baru, lalu kembali hadir dalam kehidupan generasi yang berbeda.
Hari ini, panggung kebudayaan semakin luas. Ia tidak hanya berada di gedung kesenian, galeri, museum, atau panggung pertunjukan, tetapi juga hadir melalui TikTok, YouTube, musik digital, fesyen, film, dan berbagai ruang kreatif anak muda.
Di ruang itulah generasi muda menemukan cara baru untuk mencintai identitas bangsanya. Mereka tidak selalu menggunakan bahasa tradisional, tetapi membawa nilai dan warisan Nusantara ke dalam bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Swara Gembira menjadi salah satu contoh menarik. Kolektif seni ini menghadirkan kembali kekayaan busana dan budaya Nusantara melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda, termasuk gerakan berkain yang membuat kain tradisional semakin akrab digunakan dalam keseharian.
Bersama Laleilmanino, semangat tersebut menemukan ekspresi melalui musik dan kreativitas pop. Proyek seperti Remaja Nusantara memperlihatkan bahwa unsur tradisional dapat dikemas secara modern tanpa harus kehilangan karakter Indonesia.
Di dunia musik dan sinematografi, Alffy Rev membawa pendekatan yang berbeda. Melalui seri Wonderland Indonesia, kekayaan lagu daerah, lanskap, cerita, dan simbol Nusantara dipertemukan dengan musik modern serta teknologi visual sehingga dapat dinikmati oleh penonton lintas generasi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi kebudayaan. Jika digunakan secara kreatif, teknologi justru dapat menjadi kendaraan untuk membawa kebudayaan Indonesia melampaui batas geografis.
Hal serupa terlihat dalam dunia fesyen. Didiet Maulana melalui IKAT Indonesia menunjukkan bagaimana kain tradisional, khususnya tenun ikat, dapat diterjemahkan menjadi busana modern yang elegan dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Tradisi akhirnya tidak harus dipertahankan dengan cara membekukannya. Tradisi justru dapat bertahan ketika diberi kesempatan untuk beradaptasi, digunakan, ditafsirkan kembali, dan diwariskan melalui bahasa zaman.
Namun, kebudayaan bukan hanya perkara musik dan fesyen. Ia juga berkaitan dengan cara masyarakat membangun solidaritas dan menjaga ruang hidup bersama.
Pandawara Group memperlihatkan bagaimana media sosial dapat menjadi ruang penggerak aksi kolektif. Melalui konten mengenai lingkungan dan aksi bersih-bersih, gerakan anak muda ini menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam bentuk yang sangat dekat dengan budaya digital.
Di sini terdapat pelajaran penting. Nilai lama tidak selalu membutuhkan kemasan lama untuk tetap hidup.
Gotong royong yang dahulu berlangsung di halaman kampung kini dapat menemukan ruang baru melalui media sosial. Pesannya tetap sama: persoalan bersama membutuhkan kepedulian bersama.
Semangat kebudayaan juga membutuhkan jembatan menuju ruang kebijakan publik. Ketika generasi muda semakin besar perannya dalam masyarakat, suara mereka perlu hadir dalam proses pengambilan keputusan yang menentukan masa depan.
Sosok seperti Larasati Moriska menjadi bagian dari fenomena tersebut. Sebagai anggota DPD RI periode 2024–2029 dari Kalimantan Utara, ia merepresentasikan generasi muda daerah di tingkat nasional, termasuk dalam perhatian terhadap pembangunan daerah dan kepentingan masyarakat di wilayah perbatasan.
Di DPR RI, figur muda seperti Novita Hardini juga menunjukkan pentingnya keterhubungan antara generasi muda, ruang digital, pemberdayaan masyarakat, dan kebijakan publik. Percakapan mengenai politik bagi Gen Z tidak harus selalu hadir dalam bahasa yang kaku dan berjarak.
Pinka Haprani juga menjadi salah satu figur muda yang dapat ditempatkan dalam konteks keterhubungan antara industri kreatif, fesyen, UMKM, dan generasi muda. Ruang politik menjadi penting ketika kreativitas anak muda membutuhkan ekosistem kebijakan yang mendukung agar dapat berkembang.
Pada titik inilah kebudayaan dan partisipasi publik bertemu. Anak muda tidak cukup hanya menjadi konsumen kebudayaan, tetapi juga perlu menjadi pencipta, penggerak komunitas, sekaligus warga yang memahami bagaimana kebijakan memengaruhi kehidupan mereka.
Sebab ketika mayoritas masyarakat Indonesia berasal dari generasi muda, masa depan kebudayaan dan demokrasi tidak mungkin dibangun tanpa keterlibatan mereka. Mereka memiliki kreativitas untuk menciptakan bentuk baru, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan perubahan tidak membuat Indonesia kehilangan akar identitasnya.
Semangat itu memiliki hubungan erat dengan Sumpah Pemuda. Para pemuda 1928 tidak menghapus identitas daerah untuk menemukan Indonesia, tetapi menjadikan keberagaman sebagai bagian dari identitas bersama.
Hampir satu abad kemudian, tantangannya berubah. Generasi muda tidak lagi sekadar dituntut mempertahankan kebudayaan dari ancaman kolonialisme, tetapi menghadapi arus globalisasi, algoritma, budaya populer, dan perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Karena itu, Merah Muda Berkebudayaan bukan nostalgia terhadap masa lalu. Ia adalah keberanian membawa warisan leluhur ke masa depan melalui kreativitas, teknologi, gotong royong, dan partisipasi publik.
Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu berkain tanpa merasa kuno, menikmati musik tradisional tanpa merasa tertinggal, menggunakan teknologi tanpa kehilangan akar, serta aktif dalam kehidupan publik tanpa kehilangan sikap kritis.
Pada akhirnya, kebudayaan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan kepada anak muda. Kebudayaan adalah sesuatu yang harus mereka hidupkan kembali.
Dari panggung musik hingga layar ponsel, dari kain Nusantara hingga ruang parlemen, dari komunitas lingkungan hingga forum kebijakan, semuanya dapat menjadi ruang untuk merawat Indonesia.
Sebab bangsa yang berdaulat bukan hanya bangsa yang mampu menciptakan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Bangsa yang berdaulat juga adalah bangsa yang mengenal dirinya sendiri, menjaga kebudayaannya, dan memberi generasi mudanya ruang untuk menentukan masa depan.
Merah Muda Berkebudayaan dengan demikian adalah sebuah ajakan sederhana: jangan biarkan modernitas membuat kita tercerabut dari akar. Justru jadikan kreativitas generasi muda sebagai cara baru untuk membuat kebudayaan Indonesia terus hidup, tumbuh, dan berbicara kepada dunia.
Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

















































































