Ikuti Kami

Merah Muda Kolaboratif, Merah Muda Inklusif: Anak Muda dan Politik yang Memberi Ruang

Di ruang digital itu, anak muda menemukan cara baru untuk berbicara.

Merah Muda Kolaboratif, Merah Muda Inklusif: Anak Muda dan Politik yang Memberi Ruang
Anak-anak muda PDI Perjuangan - Foto: DPP PDI Perjuangan

GENERASI Z tumbuh dalam dunia yang tidak lagi mengenal batas ruang. Sebuah gagasan dari kamar sederhana dapat menjangkau ribuan orang melalui layar telepon.

Di ruang digital itu, anak muda menemukan cara baru untuk berbicara. Mereka membangun komunitas, mengkritik kebijakan, mengedukasi publik, dan menggalang solidaritas melalui berbagai platform.

Fenomena tersebut menunjukkan perubahan penting dalam cara generasi muda berpartisipasi. Mereka tidak selalu menunggu undangan dari organisasi formal untuk menyampaikan pendapat.

Seorang kader muda partai yang sekaligus konten kreator menjadi salah satu gambaran perubahan tersebut. Melalui konten digital, isu sosial, politik, kesetaraan gender, dan inklusivitas diterjemahkan menjadi bahasa yang lebih dekat dengan keseharian Gen Z.

Bahasa menjadi penting dalam demokrasi digital. Gagasan yang rumit akan kehilangan daya apabila hanya disampaikan melalui istilah politik yang jauh dari pengalaman masyarakat.

Karena itu, edukasi politik melalui media sosial memiliki nilai strategis. Politik tidak lagi hanya berbicara kepada mereka yang sudah memahami politik, tetapi juga mengajak mereka yang baru mulai mengenalnya.

Di sinilah konsep Merah Muda Kolaboratif menemukan relevansinya. Kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama, tetapi membuka ruang agar setiap orang dapat memberikan kontribusi sesuai kemampuan dan pengalamannya.

Sementara Merah Muda Inklusif berbicara tentang keberanian memastikan tidak ada kelompok yang merasa terlalu kecil untuk didengar. Demokrasi yang sehat tidak hanya menghitung suara terbanyak, tetapi juga memperhatikan suara yang selama ini kurang terdengar.

Data pembangunan pemuda memperlihatkan besarnya potensi tersebut. Berdasarkan data BPS 2024 yang digunakan dalam IPP, jumlah pemuda Indonesia berusia 16–30 tahun mencapai sekitar 64,22 juta jiwa, atau sekitar seperlima penduduk Indonesia.

Jumlah sebesar itu merupakan kekuatan sosial yang luar biasa. Jika diberi ruang partisipasi yang sehat, anak muda dapat menjadi penggerak perubahan di lingkungan, komunitas, ekonomi, kebudayaan, dan politik.

Namun, besarnya jumlah belum otomatis berarti besarnya partisipasi. Laporan IPP 2025 menunjukkan indikator pemuda aktif dalam organisasi pada 2024 berada di angka 6,16 persen, sedangkan pemuda yang memberikan pendapat dalam rapat mencapai 8,66 persen.

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa demokrasi membutuhkan lebih dari sekadar jumlah pemilih muda. Demokrasi membutuhkan keberanian untuk hadir, berbicara, mendengar, dan ikut mengambil keputusan.

Media digital dapat menjadi salah satu pintu masuknya. Platform digital memungkinkan pemilih pemula memahami isu tanpa harus terlebih dahulu masuk ke ruang politik formal.

Tetapi ruang digital juga membutuhkan etika. Perbedaan pilihan politik tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan, sementara kritik tidak harus berakhir dengan perundungan.

Di sinilah kepemimpinan setara menjadi penting. Pemimpin muda masa depan bukan hanya mereka yang paling banyak pengikutnya, tetapi mereka yang mampu menciptakan ruang agar orang lain ikut tumbuh.

Kesetaraan juga berarti memberi kesempatan yang sama kepada perempuan, kelompok disabilitas, masyarakat dari berbagai latar sosial, serta mereka yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap ruang pengambilan keputusan.

Data IPP terbaru bahkan menggunakan inklusivitas dan kesetaraan gender sebagai salah satu domain pengukuran pembangunan pemuda. Indikatornya antara lain rasio partisipasi angkatan kerja pemuda perempuan terhadap laki-laki serta persentase pemuda penyandang disabilitas yang bekerja.

Artinya, pembangunan pemuda tidak cukup diukur dari pendidikan dan pekerjaan. Cara sebuah bangsa membuka ruang partisipasi dan memastikan kesetaraan juga menjadi ukuran kemajuan.

Bagi partai politik, perubahan ini seharusnya menjadi pelajaran penting. Anak muda tidak cukup diposisikan sebagai sasaran kampanye atau angka dalam daftar pemilih, tetapi harus diberi ruang untuk menyusun gagasan dan ikut menentukan arah perjuangan.

Pada akhirnya, Merah Muda Kolaboratif dan Merah Muda Inklusif adalah gagasan tentang demokrasi yang memberi tempat bagi semua. Dari layar telepon, ruang komunitas, hingga ruang politik formal, anak muda harus belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang mampu membuat semakin banyak orang berani bersuara.

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote