Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., menyampaikan tausiyah reflektif berjudul NERACA HATI dari Qingdao, China, pada Sabtu, 19 September 2026. Tausiyah tersebut mengupas makna QS. Al-Qasas [Surat ke-28] ayat 77 yang menjadi landasan tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
"Ketika salah satunya menjadi terlalu berat, sisi yang lain perlahan akan terangkat dan kehilangan bobotnya. Begitulah hati manusia diciptakan; ia memiliki ruang yang terbatas, sehingga apa yang paling banyak mengisinya akan menentukan ke mana arah langkah dan pandangannya," tulis Prof Rokhmin.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu mengibaratkan kehidupan dunia dan akhirat di dalam hati manusia seperti dua sisi timbangan atau neraca yang terus bergerak mencari titik keseimbangan.
Ia menegaskan, Islam tidak pernah melarang umatnya untuk mencintai dunia. Menurutnya, dunia merupakan arena aktualisasi diri, tempat manusia hidup, berinteraksi, bekerja secara profesional, berkarya, menafkahi keluarga, serta menebar manfaat bagi sesama.
Persoalannya, lanjut Menteri Kelautan dan Perikanan RI di era Presiden Megawati dan Presiden Abdurrahman Wahid itu, bukan terletak pada kecintaan terhadap dunia, melainkan pada posisi dunia tersebut dalam kehidupan manusia.
"Yang menjadi persoalan adalah ketika dunia tidak lagi berada di tangan, melainkan mengambil alih seluruh isi hati," tegasnya.
Prof Rokhmin kemudian menjabarkan tiga indikator ketika neraca hati mulai condong dan dunia telah berpindah dari tangan ke dalam hati. Pertama, ketika harta menjadi satu-satunya ukuran kemuliaan seseorang. Kedua, ketika jabatan menjadi sumber kebanggaan dan keangkuhan. Ketiga, ketika pujian manusia lebih dicari dan lebih membahagiakan daripada ridha Allah SWT.
"Pada saat itulah timbangan mulai condong ke satu sisi," ujarnya.
Inti tausiyah tersebut terletak pada sebuah kaidah yang disampaikan Prof Rokhmin mengenai bagaimana manusia seharusnya menempatkan dunia dalam kehidupannya.
"Dunia yang berada di tangan akan menjadi alat untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar, tetapi dunia yang berada di hati akan menjadi penghalang untuk kita mengerjakan amal saleh."
Menurutnya, ketika dunia berada di tangan, harta, ilmu, jabatan, dan jaringan yang dimiliki dapat digunakan untuk bersedekah, membantu orang lain, membangun masjid, menyekolahkan anak yatim, hingga menegakkan kebenaran. Dengan demikian, dunia menjadi alat untuk berbuat kebaikan.
Sebaliknya, apabila dunia telah bersemayam di dalam hati, manusia dapat menjadi kikir, takut miskin, mencintai jabatan secara berlebihan, serta merasa berat untuk beramal. Dalam kondisi tersebut, dunia justru menjadi penghalang hubungan manusia dengan Allah.
Prof Rokhmin juga meluruskan anggapan bahwa mengejar akhirat berarti harus meninggalkan dunia, hidup miskin, dan tidak produktif.
"Sebaliknya, ketika akhirat menjadi tujuan utama, dunia tidak serta-merta ditinggalkan. Justru dunia ditempatkan pada posisi yang semestinya. Ia menjadi ladang amal. Menjadi jalan untuk berbuat baik. Menjadi sarana mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal di akhirat kelak," paparnya.
Menurutnya, orang yang cerdas secara spiritual adalah mereka yang memahami bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara dan tempat transit, sedangkan akhirat merupakan tujuan akhir perjalanan yang abadi.
Ia kemudian mengingatkan manusia agar tidak terlena dengan kehidupan dunia yang bersifat sementara.
"Betapa banyak manusia yang sibuk mempercantik kehidupan yang hanya sementara, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang abadi. Padahal umur terus berkurang seperti pasir yang jatuh dari genggaman. Hari-hari yang berlalu tidak pernah kembali. Dan setiap detik yang pergi sejatinya sedang mendekatkan kita kepada perjumpaan dengan Allah."
Sebagai penutup, Anggota Komisi IV DPR RI itu memberikan formula praktis untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
"Karena itu, jagalah keseimbangan timbangan hati. Bekerjalah seprofesional dan sebaik mungkin, seakan hidup masih panjang. Namun beribadahlah seakan esok adalah hari terakhir," pesannya.
Prof. Rokhmin Dahuri mengajak umat untuk meraih dunia secukupnya dan menikmati karunia Allah tanpa terlena oleh gemerlap kehidupan. Menurutnya, kenikmatan dunia tidak boleh membuat manusia kehilangan orientasi terhadap kehidupan akhirat.
"Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya harta yang akan menyelamatkan manusia. Bukan pula tingginya jabatan atau banyaknya pujian. Yang akan menjadi cahaya dalam perjalanan panjang menuju akhirat adalah iman, amal saleh, dan hati yang selalu terhubung kepada Allah," tuturnya.
Tausiyah tersebut ditutup dengan kutipan ayat yang menjadi landasannya:
"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan" (QS. Al-Qasas : 77).[28]
Tausiyah dari Qingdao itu menjadi pengingat tentang pentingnya menempatkan dunia dan akhirat secara seimbang. Dunia tidak seharusnya menguasai hati, melainkan menjadi sarana untuk berbuat baik dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

















































































