Ikuti Kami

Charles Honoris: Napak Tilas Sumpah Pemuda Jadi Pengingat Semangat Persatuan Generasi Muda

Charles menjelaskan, setiap lokasi yang dilalui memiliki nilai historis yang dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda.

Charles Honoris: Napak Tilas Sumpah Pemuda Jadi Pengingat Semangat Persatuan Generasi Muda
Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris,

Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, menegaskan bahwa kegiatan Napak Tilas Sumpah Pemuda dalam rangkaian Merah Muda Fest 2026 menjadi momentum untuk mengenalkan sejarah perjuangan bangsa sekaligus mengingatkan generasi muda tentang pentingnya semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928.

“Kita bersyukur hari ini kita dapat berkumpul untuk mengikuti Napak Tilas Sumpah Pemuda sebagai bagian dari rangkaian Merah Putih Fest Mohon maaf, Merah Muda Fest 2026 dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98. Teman-teman, Napak Tilas ini bukan sekedar kegiatan berjalan bersama menyusuri sejumlah tempat bersejarah tetapi lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya untuk mengenalkan sekaligus mengingatkan generasi muda tentang sejarah lahirnya Sumpah Pemuda tentang keberanian para pemuda pada tahun 1928 dan tentang semangat persatuan yang menjadi salah satu fondasi berdirinya bangsa Indonesia,” kata Charles, Minggu (25/10).

Charles menyampaikan hal tersebut saat membuka kegiatan Napak Tilas Sumpah Pemuda yang diikuti perwakilan pemuda-pemudi dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, kehadiran peserta dari berbagai latar belakang mengingatkan kembali pada perjuangan pemuda yang berhasil membangun kesepakatan kebangsaan di tengah keberagaman.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

“Kehadiran teman-teman dari berbagai daerah hari ini mengingatkan kita pada sejarah perjuangan para pemuda pada tahun 1928. Saat itu, para pemuda berhimpun melalui berbagai organisasi kedaerahan yang dikenal dengan namanya JONG seperti JONG Jawa, JONG Sumateranbon, JONG Celebes, JONG Ambon, dan berbagai organisasi pemuda lainnya. Mereka datang dengan identitas dan latar belakang daerah yang berbeda, tetapi memiliki cita-cita yang sama yaitu mewujudkan Indonesia sebagai satu bangsa,” ucapnya.

Ia menilai, semangat persatuan yang ditunjukkan para pemuda pada 1928 perlu terus dihidupkan oleh generasi muda saat ini. Perbedaan budaya, bahasa, dan pengalaman, menurutnya, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersama-sama membangun Indonesia.

“Hari ini, semangat itu kita lahirkan kembali. Teman-teman datang dari berbagai daerah dengan budaya, bahasa, dan pengalaman yang berbeda. Namun, kita dipersatukan oleh semangat kebangsaan dan tanggung jawab untuk membangun Indonesia,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memulai perjalanan dari Museum Sumpah Pemuda, melintasi kawasan Gereja Katedral Jakarta, dan mengakhiri perjalanan di Taman Lapangan Banteng. Rute sepanjang kurang lebih tiga kilometer itu dirancang untuk mengajak peserta mengenal kembali sejumlah tempat yang berkaitan dengan sejarah perjuangan dan kebangsaan Indonesia.

Charles menjelaskan, setiap lokasi yang dilalui memiliki nilai historis yang dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda. Museum Sumpah Pemuda, misalnya, mengingatkan masyarakat pada peristiwa ketika para pemuda dari berbagai daerah menyatukan tekad untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.

“Dari Museum Sumpah Pemuda, kita diingatkan pada peristiwa bersejarah ketika para pemuda dari berbagai daerah menyatukan tekad untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia. Mereka datang dengan latar belakang suku, agama, dan budaya yang berbeda, tetapi memiliki cita-cita yang sama tentang masa depan bangsa,” jelasnya.

Selain Museum Sumpah Pemuda, kawasan Gereja Katedral Jakarta juga menjadi bagian dari perjalanan napak tilas. Charles mengajak peserta melihat kembali keterkaitan tempat-tempat bersejarah dengan rangkaian peristiwa yang mengiringi lahirnya Sumpah Pemuda.

“Ketika melintasi Gereja Katedral Jakarta, kita juga diingatkan akan bahwa Gereja Katedral Jakarta memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah kebangsaan Indonesia melalui Gedung Katolik Gejonggelingden Bon yang berada di lingkungannya. Gedung tersebut menjadi salah satu tempat penyelenggaran Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928 yang kemudian menjadi bagian dari rangkaian sejarah lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928,” ungkapnya.

Perjalanan kemudian berakhir di Taman Lapangan Banteng. Melalui kegiatan tersebut, peserta juga diajak memahami proses historis lahirnya Sumpah Pemuda serta peran sejumlah tokoh yang terlibat dalam perjuangan membangun persatuan nasional.

“Melalui perjalanan sejauh kurang lebih 3 km ini, kita tidak hanya menyusuri tempat-tempat bersejarah, tetapi juga diajak memahami proses historis lahirnya Sumpah Pemuda, serta peran tokoh-tokoh penting di dalamnya seperti Muhammad Yamin, Sugondo Jojo Puspito, dan Tabrani. Mereka menjadi bagian dari sejarah perjuangan pemuda yang menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari keberanian menyampaikan gagasan, membangun persatuan, dan memperjuangkan cita-cita bersama,” tegasnya.

Charles menekankan, sejarah Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai catatan dalam buku atau peringatan tahunan. Nilai-nilai perjuangan tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan pengabdian generasi muda kepada bangsa.

“Melalui napaktilah Sumpah Pemuda, kita ingin sejarah tidak berhenti sebagai catatan di dalam buku atau cerita yang kita dengar setiap tahun. Kita ingin sejarah menjadi sumber inspirasi yang menggerakkan anak muda untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia,” tuturnya. 

Ia juga menyebut Napak Tilas Sumpah Pemuda sebagai bagian dari perjalanan menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Momentum tersebut, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan membangun generasi muda yang siap berkontribusi bagi masa depan Indonesia.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

“Kegiatan ini juga merupakan bagian dari perjalanan kita menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028. Karena itu, mari kita gunakan momentum ini untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan membangun generasi muda yang tidak hanya bangga terhadap sejarah bangsanya, tetapi juga bersedia melanjutkan perjuangan untuk masa depan Indonesia,” imbuhnya. 

Menutup sambutannya, Charles menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ia mengajak para peserta mengikuti napak tilas dengan semangat sekaligus merefleksikan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.

“Kita tidak hanya berjalan menyusuri jejak sejarah, tetapi juga membawa semangat para pemuda 1928 menuju masa depan Indonesia. Selamat mengikuti Napak Tilas Sumpah Pemuda dalam rangkaian Merah Muda Fest 2026 Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan. Terima kasih. Merah Berani, Muda Beraksi, Merdeka, Merdeka, Merdeka!,” pesannya. 

Melalui kegiatan ini, semangat Sumpah Pemuda diharapkan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menjaga keberagaman, memperkuat persatuan, dan mengambil peran aktif dalam pembangunan Indonesia.

Quote