JAKARTA, Gesuri.id — Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memperingatkan generasi muda agar tidak tergiur oleh harta dan pragmatisme politik. Di hadapan ribuan peserta Milenium Public Pulse 28 di Jakarta, Ahok menegaskan bahwa kekayaan tidak pernah menjamin kebahagiaan, sementara reputasi dan integritas jauh lebih berharga di tengah disrupsi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, Ahok membongkar realitas pahit dunia politik dan persaingan modern yang kerap merusak mentalitas kaum muda.
Ahok lantas menyoroti bagaimana kehadiran teknologi AI dan robot humanoid telah mengubah lanskap persaingan global secara drastis. Saat ini, hambatan untuk masuk ke berbagai sektor (entry barrier) menjadi sangat rendah karena informasi dapat diakses oleh siapa saja dalam hitungan menit.
"Hari ini manusia menciptakan AI... Anak muda menghadapi satu persoalan, entry barrier persaingan menjadi rendah. Kamu bisa, saya juga tahu. Tiba-tiba ada profesor atau doktor, saya bisa kalahkan dalam 15 menit asal sudah keluar di kertas," ungkap Ahok di hadapan ribuan peserta.
Kondisi ini, menurut Ahok, menuntut anak muda untuk tidak sekadar mengandalkan kepintaran intelektual semata, melainkan memperkuat karakter dan jati diri.
Sentil Politisi Muda: Jangan Bermental "Lobi Partai"
Ahok juga menyoroti mentalitas sebagian anak muda yang berniat terjun ke dunia politik namun mengandalkan cara-cara instan—seperti mendekati elite partai atau kerabat (paman/tante) alih-alih turun langsung merebut kepercayaan rakyat.
Ia membagikan pengalamannya saat merintis karier politik dari bawah, di mana seorang calon pemimpin harus teruji di tingkat akar rumput. Jika tetangga atau saudara terdekat saja tidak percaya, kata Ahok, maka integritas orang tersebut patut dipertanyakan.
"Banyak anak muda mau jadi pejabat, datang ke partai, ke pante-pante. Padahal waktu saya mulai, saya membidik rakyat. Jangan main di partai kalau rakyat sudah tidak percaya kepada kalian," tegasnya.
Godaan Jabatan dan Pentingnya Kalibrasi Diri
Secara terbuka, Ahok turut membagikan refleksi personal mengenai godaan materi yang kerap menghantui para pejabat maupun mantan pejabat yang takut kehilangan status sosial. Ia mengingatkan bahwa jebakan mental untuk menumpuk kekayaan demi kenyamanan semu adalah bentuk pengkhianatan terhadap nurani.
Ia menegaskan bahwa kekuasaan dan harta berlimpah tidak pernah menjadi jaminan kebahagiaan. Oleh karena itu, generasi muda didorong untuk senantiasa melakukan kalibrasi spiritual setiap hari agar tetap merdeka secara moral dan berpihak pada kebenaran.
"Kekuasaan dan harta tidak jaminan Anda bahagia. Reputasi yang baik buat anak muda itu mengarahkan segala kekayaan. Anda butuh kalibrasi setiap hari agar tetap sesuai panggilan kita sebagai manusia di dunia ini," pungkasnya.

















































































