Malang, Gesuri.id - Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi PDI Perjuangan dapil Malang Raya, H. Gunawan, S.H.,M.Hum, melanjutkan pembekalan Wawasan kebangsaan (Wasbang) di Desa Ngajum, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Minggu (20/3). Tepatnya di Dusun Sembon Sumberejo, Ngajum.
Baca Nasdem Pinang Ganjar di 2024? Wajar Tapi Belum Tentu Bisa
Hal itu dilakukannya usai menggelar Wasbang di Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Sabtu (19/3).
Wasbang kali ini mengusung tema, "Gotong royong merupakan esensi, substansi kehidupan bermasyarakat".
H. Gunawan mengatakan masyarakat Indonesia tentunya sudah tidak asing dengan kata kerja yang satu ini, yakni 'Gotong Royong'.
Sebab, orang Indonesia terkenal dengan sifat baiknya yang suka menolong. Namun, apa sebenarnya pengertian dari gotong royong, lanjutnya.
Sebagaimana tema di atas, kata Gunawan, gotong royong adalah salah satu karakteristik orang Indonesia. Hal ini tertuang dalam Pancasila, yakni sila ke-3 yaitu persatuan Indonesia.
Perilaku gotong royong atau saling membantu, sudah ada dan dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak zaman dulu. Gotong royong adalah suatu kepribadian bangsa serta budaya yang sudah melekat dan berakar dalam kehidupan masyarakat.

Gotong royong merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama dan memiliki sifat sukarela. Salah satu contoh yang bisa dilakukan secara gotong royong adalah pembangunan fasilitas umum.
"Karena itu, saya berharap kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya di Desa Sumberejo, agar memiliki sikap gotong royong. Sebab, dengan memiliki sikap gotong, royong, maka masyarakat akan lebih mudah untuk melakukan kegiatan", ujar Gunawan.
"Semua hal yang akan dikerjakan akan lebih mudah dan juga cepat terselesaikan serta lebih lancar dan maju. Tak hanya itu, dengan adanya kesadaran masyarakat dalam bergotong rorong, maka akan tercipta hubungan persaudaraan yang erat", tambahnya.
Pria asal Gondanglegi itu juga menjelaskan, Pancasila mengandung nilai-nilai dan keyakinan yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Maka dari itu, sebagai ideologi bangsa, nilai-nilai Pancasila penting dan perlu ditanamkan dalam diri setiap individu warga negara. Salahsatunya adalah gotong royong", pungkasnya.
Hadir pada kegiatan kal ini, Kepala Desa Ngajum, Setyo Budi, beserta perangkat, K.H. Ashari asal Kecamatan Gondanglegi, mantan Ketua KPU Kabupaten Malang, Santoko (Pemateri) dan Khairul Basar (Pemateri), serta ratusan peserta Wasbang.
Santoko, menerangkan, nilai-nilai Pancasila dan implementasinya, telah dilakukan secara berseri. Ini diharapkan dapat menambah wawasan berpikir bagi masyarakat agar lebih mencintai Pancasila dan menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dasar dari semua komponen dalam Pancasila adalah gotong royong.
Meski tak tercantum secara eksplisit dalam kelima sila pancasila, namun gotong royong merupakan intisari dari dasar negara Indonesia.
"Karena itu, kelima nilai Pancasila harus diaktualisasikan berdasarkan nilai-nilai gotong royong. Artinya, aktivitas ketuhanan harus mengakomodasi nilai-nilai budaya lokal, bersifat lapang, transformatif, serta mampu membina toleransi", tandas Santoko.
Selain itu, ia mengatakan bahwa Pancasila tidak menghendaki ketuhanan yang saling menyerang, mengucilkan dan mendominasi agama-agama yang lain.
Baca Hasanuddin: Komandan Yang Lalai, Seret ke Mahkamah Militer!
"Oleh karenanya, manusia memiliki kewajiban moral untuk bergotong royong. Diharapkan gotong royong lebih dari sekadar ikatan di dalam suku, namun juga antar kesukuan dan agama," demikian Santoko.
Senada, Khairul menjelaskan, kata gotong royong berasal dari bahasa Jawa. ‘gotong’ dipadankan dengan kata ‘pikul atau angkat’. Sedangkan kata ‘royong’ dipadankan dengan bersama-sama.
"Secara sederhana, kata tersebut berarti mengangkat sesuatu secara bersama-sama atau dapat diartikan juga sebagai mengerjakan sesuatu secara bersama-sama," kata Khairul.
"Jadi, gotong royong memiliki pengertian sebagai bentuk ‘partisipasi aktif’ setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi nilai tambah atau nilai positif kepada setiap obyek, permasalahan atau kebutuhan orang banyak di sekeliling kita," pungkasnya.

















































































