Bandung, Gesuri.id - Anggota DPC PDI Perjuangan Kota Bandung, Endang Darmaayu, menilai Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap 28 Oktober, melainkan pengingat bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang berani berpikir, bersikap, dan bertindak.
“Bagi saya selaku Gen Z, Sumpah Pemuda bukan hanya sekadar peristiwa sejarah yang selalu diperingati setiap tanggal 28 Oktober, melainkan pengingat bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi yang berani berpikir, bersikap, dan bertindak,” ujar Endang dalam tulisannya tentang makna Sumpah Pemuda bagi generasi muda, pada Minggu (25/10/2026).
Menurut Endang, jika dahulu para pemuda berjuang melawan penjajahan dengan menyatukan perbedaan suku, bahasa, dan daerah, kini generasi Z (Gen Z) menghadapi tantangan yang berbeda. Tantangan tersebut meliputi derasnya arus globalisasi, disinformasi di media sosial, krisis identitas, lunturnya kepedulian sosial, hingga polarisasi di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, ia menilai semangat Sumpah Pemuda perlu dimaknai secara relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini, terutama dalam menjaga identitas nasional, merawat persatuan, bijak bermedia sosial, dan berkontribusi nyata bagi bangsa.
“Gen Z boleh memiliki wawasan internasional, tetapi tetap harus mengenal, menjaga, dan melestarikan identitas nasionalnya. Modern boleh, global boleh, tetapi jangan sampai tercerabut dari akar budaya sendiri,” ucap Endang.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan, termasuk dalam pilihan politik, agama, suku, dan pandangan hidup. Menurutnya, perbedaan pendapat yang berkembang di ruang digital tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan yang merusak hubungan antarsesama.
“Padahal, semangat Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa persatuan tidak mengharuskan kita menjadi sama. Sehingga Gen Z harus mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita lupa bahwa kita memiliki rumah yang sama, yaitu Indonesia,” ungkapnya.
Selain menjaga persatuan, Endang menekankan pentingnya etika berkomunikasi di era digital. Ia mengingatkan bahwa komentar kebencian, perundungan siber, penyebaran hoaks, dan budaya menghakimi merupakan tantangan yang harus dihadapi generasi muda.
Menurutnya, media sosial harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk menyebarkan gagasan, pengetahuan, dan inspirasi, bukan sebagai tempat merendahkan orang lain. Kecerdasan digital, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kesadaran untuk mempertanggungjawabkan informasi yang disebarkan.
“Gen Z harus menjadikan media sosial sebagai ruang untuk menyebarkan gagasan, pengetahuan, dan inspirasi, bukan sebagai tempat untuk merendahkan sesama. Sebab, kecerdasan digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga tentang kemampuan mempertanggungjawabkan apa yang kita sebarkan,” tulisnya.
Lebih lanjut, Endang mengajak generasi muda untuk beralih dari sekadar pengguna teknologi menjadi penggerak perubahan. Ia menilai keberanian menyampaikan pendapat harus disertai tindakan nyata dalam menjawab berbagai persoalan, mulai dari pendidikan, hukum, hingga lingkungan.
“Kepedulian terhadap pendidikan harus diwujudkan melalui kontribusi nyata. Kepedulian terhadap hukum harus diwujudkan melalui sikap menghormati keadilan. Kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan, bukan sekadar unggahan di media sosial,” tegas Endang.
Ia menambahkan, setiap anak muda memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing. Menurutnya, perubahan tidak hanya dapat dilakukan oleh pejabat, pengusaha, akademisi, atau tokoh publik, tetapi juga oleh siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
“Saya mengajak para gen Z untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi pelaku perubahan. Tidak semua pemuda harus menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, atau tokoh publik. Namun, setiap pemuda dapat memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing,” ujarnya.
Endang juga mengajak generasi muda untuk merenungkan kembali perjuangan para pemuda pada 1928 yang memilih bersatu demi masa depan bangsa, meskipun Indonesia saat itu belum merdeka. Semangat tersebut, menurutnya, tetap relevan untuk menghadapi persoalan bangsa saat ini.
“Para pemuda tahun 1928 tidak menunggu Indonesia menjadi sempurna untuk berani bersatu. Mereka justru bersatu karena menyadari bahwa masa depan bangsa tidak akan berubah jika setiap orang hanya memperjuangkan kepentingannya sendiri,” tulisnya.
Ia menilai perjuangan generasi muda saat ini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan, melainkan melalui upaya melawan kebodohan, ketidakadilan, intoleransi, korupsi, dan ketidakpedulian.
Perjuangan tersebut, lanjut Endang, dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti berani berkata jujur ketika kebohongan dianggap biasa, membela kebenaran ketika ketidakadilan terjadi, serta menghargai perbedaan ketika kebencian lebih mudah mendapatkan perhatian.
“Karena pada akhirnya, nasionalisme bukan hanya tentang seberapa lantang kita mengatakan cinta Indonesia, melainkan tentang seberapa besar kesediaan kita melakukan sesuatu untuk Indonesia,” ungkapnya.
Menutup pesannya kepada generasi muda, Endang menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diteruskan melalui tindakan nyata untuk menjaga masa depan bangsa. Ia mengingatkan agar Gen Z tidak hanya mengejar popularitas di ruang digital, tetapi juga menghadirkan dampak positif bagi masyarakat.
“Jika pemuda tahun 1928 menyatukan tekad untuk melahirkan sebuah bangsa, maka pemuda hari ini harus menyatukan tindakan untuk menjaga masa depan bangsa itu sendiri,” pesannya.
“Jangan hanya menjadi generasi yang viral, jadilah generasi yang berdampak. Jangan hanya menjadi generasi yang bersuara, jadilah generasi yang membawa perubahan. Dan jangan hanya bangga menjadi anak Indonesia, tapi jadilah alasan mengapa Indonesia pantas dibanggakan,” lanjutnya.
Endang menegaskan, Sumpah Pemuda bukan hanya tentang janji yang pernah diucapkan oleh generasi terdahulu, melainkan tanggung jawab yang harus dilanjutkan oleh generasi saat ini untuk menjaga persatuan, memperkuat kepedulian sosial, dan mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih baik.
“Sebab, Sumpah Pemuda bukan hanya tentang janji yang pernah diucapkan oleh generasi terdahulu, melainkan tentang tanggung jawab yang harus dilanjutkan oleh generasi hari ini,” pungkasnya.
Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

















































































