Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi III DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Mercy Chriesty Barends, membagikan 10 ribu paket buku tulis dan pena kepada siswa di Maluku dalam rangkaian kunjungan kerja reses sekaligus pengawasan pelaksanaan Program Indonesia Pintar (PIP) 2025.
"Per hari ini saya mulai membagi satu program pembagian 10.000 paket buku dan pena bagi seluruh anak-anak sekolah di Maluku. Kita mulai dari SMP Negeri 3 Ambon lalu dilanjutkan ke SMA Swasta 45 Ambon," ujar Mercy, dikutip Sabtu (7/3).
Pembagian bantuan tersebut diawali di SMP Negeri 3 Ambon yang berada di Desa Hative Kecil, kemudian dilanjutkan di SMA Swasta 45 Ambon yang terletak di Karang Panjang (Karpan), Kecamatan Sirimau. Pada tahap awal, masing-masing sekolah menerima 100 paket bantuan berupa buku tulis dan pena untuk para siswa.
Mercy menjelaskan bahwa bantuan tersebut diprioritaskan bagi siswa dari keluarga kurang mampu yang bahkan mengalami kesulitan untuk datang ke sekolah maupun membeli perlengkapan dasar belajar.
Ia menilai bantuan sederhana seperti buku tulis dan pena diharapkan dapat meringankan beban para siswa sekaligus memotivasi mereka agar tetap semangat mengikuti proses belajar di sekolah.
"Kejadian itu menjadi pelajaran sangat berharga bagi kita semua. Jangan sampai hal yang sama terjadi di Maluku," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Mercy juga mengingatkan pihak sekolah, guru, serta para siswa untuk menumbuhkan budaya saling membantu di lingkungan pendidikan, khususnya terhadap teman-teman yang berasal dari keluarga kurang mampu.
"Kalau ada teman yang susah dan tidak punya buku atau pena, harus saling tolong-menolong, bukan malah menghina atau mengucilkan. Anak-anak yang miskin ini bisa hancur hatinya kalau diperlakukan demikian," tegasnya.
Menurut Mercy, siswa yang mengalami keterbatasan ekonomi tidak boleh dipermalukan atau dikucilkan, sebab kondisi tersebut bukan kesalahan mereka. Ia menekankan bahwa lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang aman dan mendukung bagi semua siswa untuk belajar.
"Anak-anak punya tugas untuk belajar dengan tenang. Lingkungan yang kondusif itu kita yang harus ciptakan," pintanya.
Ia juga menjelaskan bahwa program pembagian paket buku dan pena tersebut tidak berasal dari program pemerintah maupun kementerian, melainkan dari pengelolaan dana kegiatan reses yang dialihkan untuk kegiatan sosial yang lebih bermanfaat.
"Daripada kita sewa gedung untuk pertemuan dengan biaya mahal, lebih baik dana reses itu kita kelola untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat," tutur Mercy.
Dalam program tersebut, setiap siswa penerima bantuan memperoleh lima buku tulis dan tiga pena. Meski jumlahnya terbatas, Mercy berharap bantuan itu dapat menjadi bentuk kepedulian terhadap anak-anak Maluku yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
"Semua pihak harus bekerja sebaik-baiknya dan mengelola anggaran dengan benar, karena ini uang rakyat untuk kepentingan rakyat," pungkas Mercy.

















































































