Ikuti Kami

Tangis Nirma Pecah di Kursi Kuliah: Dari Cuci Piring Menuju Gerbang PTN Berkat KIP Kuliah

Acara ini mempertemukan lebih dari 100 orang tua dan mahasiswa penerima KIP Kuliah jalur aspirasi.

Tangis Nirma Pecah di Kursi Kuliah: Dari Cuci Piring Menuju Gerbang PTN Berkat KIP Kuliah
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan.

Jakarta, Gesuri.id - Bagi Nirma Br. Ginting (50), mencuci piring dan berjualan kerupuk keliling bukan sekadar pekerjaan untuk menyambung hidup. Di balik lelahnya, tersimpan satu harapan besar: anaknya bisa kuliah dan memiliki masa depan yang lebih baik.  

​Suaminya bekerja sebagai sopir, sementara Nirma warga Simalingkar B, Kecamatan Pancur Batu—harus banting tulang membantu ekonomi keluarga. Oleh karena itu, ketika sang anak memperoleh kesempatan berkuliah melalui bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah jalur aspirasi, air matanya tak terbendung.  

​Di hadapan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, Nirma mengungkapkan rasa syukurnya. Perjuangan panjang yang ia jalani seolah menemukan titik terang ketika keterbatasan ekonomi tak lagi menjadi tembok tebal bagi cita-cita sang buah hati.  

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

​Kisah haru tersebut mengemuka dalam kegiatan Serap Aspirasi Masyarakat bersama dr. Sofyan Tan di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Medan Sunggal, Sabtu (31/10). 

Acara ini mempertemukan lebih dari 100 orang tua dan mahasiswa penerima KIP Kuliah jalur aspirasi yang berhasil menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di berbagai penjuru Indonesia.  

​Bukan hanya Nirma, cerita penuh air mata juga datang dari Anita Br. Surbakti, seorang guru honorer asal Simalingkar. Dengan gaji berkisar Rp1 juta per bulan, membiayai anak hingga jenjang perguruan tinggi rasanya nyaris mustahil. Namun, secercah harapan hadir lewat KIP Kuliah, yang mengantarkan anaknya diterima di Politeknik Negeri Medan (Polmed).  

​“Saya adalah guru honorer, Pak, dengan gaji satu juta rupiah. Saya tak menyangka anak saya bisa kuliah dengan bantuan Bapak. Terima kasih, Ibu Lisna, Pak Tamba, dan Pak Sofyan Tan,” ungkap Anita dengan suara bergetar.  

​Kisah menyentuh lainnya dibagikan oleh Evi Purba, warga Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Ia harus membesarkan kedua anaknya seorang diri setelah sang suami meninggal akibat jeratan narkoba. Ketika anaknya sempat terkendala masalah administrasi perkuliahan, Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan hadir menjadi penolong hingga anaknya bisa melanjutkan kuliah di Fakultas Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Medan (UNIMED) tanpa biaya.  

​Hal senada dirasakan Santi Dewi, buruh harian lepas asal Simalingkar B. Berpenghasilan di bawah upah minimum, ia tetap gigih memperjuangkan pendidikan anaknya hingga akhirnya diterima di jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur yang sama.  

​Deretan kisah para ibu ini membuktikan bahwa di balik kesuksesan seorang mahasiswa, terdapat pengorbanan orang tua yang luar biasa—mulai dari tenaga yang terkuras, gaya hidup yang sangat hemat, hingga doa yang tak pernah putus.  

​Program KIP Kuliah jalur aspirasi melalui Rumah Aspirasi dr. Sofyan Tan sendiri telah menjangkau mahasiswa di berbagai perguruan tinggi ternama. Mulai dari USU, UNIMED, Polmed, sejumlah kampus di Aceh, Universitas Jember, Universitas Udayana di Bali, hingga berbagai PTN di Pulau Jawa.  

Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo

​Menanggapi berbagai kisah inspiratif tersebut, dr. Sofyan Tan berpesan kepada para mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan emas ini dengan bersungguh-sungguh.  

​“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Pendidikan adalah salah satu jalan paling ampuh untuk mengubah nasib keluarga. Jangan pernah patah semangat, kejarlah citamu setinggi langit, karena negara harus hadir untuk memastikan anak-anak kurang mampu berhak memiliki masa depan yang cerah,” tegas Sofyan Tan.\

​Bagi para ibu tangguh ini, ketiadaan harta warisan berlimpah bukan lagi halangan. Melalui pendidikan tinggi, mereka menitipkan mimpi agar anak-anaknya mampu mengubah jalan hidup keluarga—membuktikan bahwa di balik peluh orang tua yang berjuang dalam diam, selalu ada harapan yang menemukan jalannya.

Quote