Ikuti Kami

Kami Jengah Merayakan Sumpah Pemuda

Oleh: Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar, Wasekjen DPP Taruna Merah Putih, Melki Sedek Huang.

Kami Jengah Merayakan Sumpah Pemuda
Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Kalbar, Wasekjen DPP Taruna Merah Putih, Melki Sedek Huang.

Jakarta, Gesuri.id - Saya yakin tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa generasi muda hari ini mulai jengah membicarakan momentum Sumpah Pemuda yang kita peringati di tanggal 28 Oktober setiap tahunnya. Kejengahan ini muncul bukanlah karena tak lagi menyadari bahwa sakralnya masa muda harus terus dirayakan, melainkan muncul karena cara kita semua memperingati Sumpah Pemuda yang kurang tepat. 

Setiap tahunnya, Sumpah Pemuda diperingati dengan teknis perayaan yang berbeda-beda, ada kelompok yang merayakannya dengan menyelenggarakan lomba pidato, menampilkan teatrikal historis Sumpah Pemuda, membuat diskusi-diskusi kepemudaan, serta banyak lagi cara-cara muda-mudi Indonesia dengan kreativitasnya merayakan Sumpah Pemuda. Namun, di tengah produk perayaan yang berbeda-beda setiap tahunnya tersebut, pemaknaan Sumpah Pemuda sejak 98 tahun lalu tak berubah, yakni meminta generasi muda untuk selalu mengingat ikrar persatuan kaum muda yang dulu diucapkan disertai pesan-pesan golongan tua untuk kaum muda agar terus berkontribusi pada kemajuan bangsa dan negaranya.

Sejatinya tak ada yang salah, kemajuan Bangsa Indonesia nanti memanglah buah pikir buah tangan dari generasi muda hari ini yang memilih mendobrak rasa nyaman demi mengusahakan yang terbaik bagi bangsanya. Kesalahan berulang ini mulai muncul ketika kini yang lebih gembira merayakan Sumpah Pemuda adalah orang-orang tua, yang merayakannya dengan memberi pesan bagi muda-mudi untuk rajin belajar, memikirkan bangsanya, berkontribusi baik untuk negeri, dan imbauan agar generasi muda tak lelah menjaga NKRI. Momentum Sumpah Pemuda hanya jadi momen untuk kembali memberikan generasi muda tuntutan-tuntutan dan tekanan-tekanan, hal-hal yang sehari-harinya anak-anak muda Indonesia hindari dari orang tua, sekolah, dan dunia kerjanya.

Bung Karno, sebagai satu di antara banyak pemuda di zamannya yang memilih mengorbankan rasa nyamannya dan menantang pemerintahan kolonial zaman itu untuk kemerdekaan kita, adalah “pensiunan muda-mudi Indonesia” yang memberikan apresiasi tinggi bagi kaum muda. Dalam kutipan kalimat-kalimatnya yang sering kita baca, ia menyebut bahwa seribu orang tua bisa mencabut Semeru dari akarnya, namun hanya butuh 10 anak muda untuk mengguncangkan seisi dunia. Kutipan tersebut mengandung optimisme dan harapan, agar anak-anak muda tak hanya jadi kacung dalam pergulatan zaman, melainkan terus diberikan tempat dan kepercayaan, tak ragu diberikan peranan, apalagi dihambat kaum tua ruang geraknya, agar mampu memimpin perjuangan zamannya.

Hal ini juga selaras dengan Bung Karno yang kerap kali menyebut tentang "zeitgeist, "ungkapan Jerman yang secara terjemahan berartikan semangat zaman. Bung Karno meyakini bahwa setiap perjuangan haruslah selaras dengan perkembangan kebutuhan zaman. Tak ada seorang pun yang mampu melawan dan melebihi garis semangat zaman tempatnya bernaung. Anak-anak muda hari ini, adalah pemilik zaman hari ini dan pejuang-pejuang kebutuhan zamannya hari ini, bukannya generasi tua dengan segudang mimpi dan cerita perjuangan yang telah berlalu zamannya tersebut. Kita perlu memberikan emansipasi lebih, ruang gerak, dan kesempatan yang setara bagi setiap muda-mudi Indonesia untuk dapat memikirkan, bertindak, dan melakukan gerakan yang terbaik untuk negerinya.

Bung Karno pun menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah tujuan akhir dari perjuangan kolektif Bangsa Indonesia. Kemerdekaan hanyalah tujuan antara, jembatan emas, menuju Indonesia yang adil, makmur, yang mampu berikan kesejahteraan materiil dan batiniah untuk seluruh warganya. Hari-hari ini, jembatan emas tersebut tak membawa kita pada gerbang, pintu, dan rumah emas, kemerdekaan diisi orang-orang tua hari ini yang gagal mengelola bangsanya. Muda-mudi Indonesia kesulitan mencari kerja, ada anak muda Indonesia yang harus berenang menyusuri sungai lalu berjalan puluhan kilometer menuju ruang kelasnya, generasi muda di Kalimantan kesulitan bernapas akibat masifnya Karhutla, banyak rumah sakit dipenuhi pasien berseragam sekolah akibat keracunan, dan masih banyak lagi potret miris generasi muda pengguncang dunia menghadapi 81 tahun merdekanya bangsanya.

Setiap muda-mudi Indonesia hari ini, termasuk yang memilih garis politik sebagai jalan juangnya kerapkali mengalami praktik senioritas beracun yang tak berfaedah. “Generasimu payah, baru sedikit berjuang tapi keluhannya sudah segudang, generasi kami dulu lebih kuat, lebih militan, dan lebih pejuang.” Saya seringkali jijik pada tiap generasi senior yang mengungkap ungkapan serupa tersebut di berbagai momentum perjuangan generasi muda hari ini. Alih-alih memberikan dukungan suportif dan dorongan untuk terus berkarya sesuai kebutuhan zamannya, mereka malah merendahkan perjuangan generasi muda hari ini lalu membandingkannya dengan perjuangan generasinya yang kegagalan perjuangannya terus terasa bagi generasi kami hingga hari ini.

Emansipasi bagi golongan muda harusnya tak hanya jadi kesempatan bagi golongan lainnya untuk mendorong keterlibatannya lalu mengajukan tuntutan-tuntutan. Emansipasi, menurut Jurgen Harbermas, seharusnya bermakna pembebasan dari pola komunikasi yang terdistorsi, emansipasi semestinya bermakna hadirnya komunikasi yang setara dan membebaskan. Emansipasi bagi kaum muda Indonesia harusnya menghadirkan ruang pengertian antargenerasi untuk saling mendengar, saling menguatkan, saling bertukar pandang, lalu mempercayakan garis perjuangan itu pada sang empunya semangat zaman, yakni kaum muda pada zamannya.

Sumpah Pemuda setiap tahunnya menjadi pengingat bahwa generasi muda di tiap zamannya selalu menjadi garda terdepan, corong suara, dan ujung tombak perjuangan kegelisahan bersama. Anak-anak muda, dengan kelebihan energinya, dengan semangat mudanya, dengan kesadaran nilainya, selalu akan menemukan jalan untuk terus bergerak, berdampak, dan berkarya sesuai kebutuhan serta relevansi zamannya. Tak perlu untuk terus diimbau dan diingatkan, naluri berjuang adalah titik bawah sadar termulia dalam tiap otak generasi muda. Sumpah Pemuda tak boleh jadi momen terus memberikan tuntutan-tuntutan bagi muda-mudi Indonesia, sebaliknya, Sumpah Pemuda harus jadi momen penghargaan dan penguatan bagi muda-mudi Indonesia yang di tiap zamannya tak kenal lelah memikirkan yang terbaik dan merawat hal-hal baik dari Indonesia.

Quote