Jakarta, Gesuri.id — Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abidin Fikri, menilai skema baru pembiayaan Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) tahun 2027 sebagai terobosan positif.
Skema ini dinilai berhasil meringankan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayar langsung oleh jemaah, tanpa mengorbankan keberlanjutan dana haji.
Pernyataan tersebut disampaikan Abidin menjelang Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (8/10).
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Abidin memaparkan, komposisi pembiayaan haji 2027 kini ditopang 55,5 persen dari Nilai Manfaat yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan 44,5 persen dari Bipih yang dibayarkan jemaah.
Skema ini dinilai lebih sehat dan proporsional dibandingkan tahun sebelumnya yang membebankan Nilai Manfaat hingga 62 persen dan Bipih 38 persen.
"Ini adalah terobosan berkat adanya subsidi dari Presiden. Berdasarkan perhitungan awal, jemaah semestinya membayar sekitar Rp26 juta. Namun, dengan subsidi sebesar Rp3,2 juta, rata-rata biaya yang ditanggung jemaah turun menjadi Rp23 juta. Selain itu, jemaah masih mendapatkan virtual account sebesar Rp3,4 juta," ujar Abidin.
Ia menegaskan, skema efisien ini tetap menjaga keamanan dana bagi calon jemaah yang masih berada dalam daftar tunggu.
"Bagi jemaah tunggu, ada alokasi sekitar Rp2,7 triliun yang dibagikan dari Nilai Manfaat. Skemanya sangat memungkinkan. Kendati demikian, formulasi ini tentu perlu didiskusikan kembali untuk tahun-tahun berikutnya agar BPKH tetap sustain dalam memberikan nilai manfaat," jelasnya.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Di samping penyesuaian pembiayaan, Abidin menekankan pentingnya kestabilan anggaran yang diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan di Arab Saudi. Pada penyelenggaraan haji 2027, standar layanan jemaah Indonesia resmi naik ke Tipe C.
Peningkatan fasilitas tersebut paling terasa pada fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), serta penyediaan konsumsi harian.
"Wujud paling signifikan dari Tipe C ini terlihat pada fasilitas tempat istirahat di Armuzna. Jika sebelumnya hanya menggunakan kasur biasa, kini sudah beralih ke sofa bed. Kapasitas tenda juga disesuaikan agar tidak ada lagi penumpukan jemaah seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk konsumsi, kini disajikan full board yang disiapkan langsung oleh Syarikah di hotel," pungkas Abidin.

















































































