Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, meminta Kementerian Peternakan (Kementan) mendesain ulang skema pemenuhan daging ternak ruminansia dalam kerangka mencukupi kebutuhan nasional agar kenaikan harga daging tidak kembali terjadi.
“Sepanjang impor daging sapi dan kerbau masih jadi instrumen utama dalam menutup kebutuhan nasional, gonjang-ganjing harga akan selalu mewarnai hari-hari masyarakat sepanjang tahun 2026 ini,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Alex menyampaikan permintaan tersebut sebagai respons terhadap rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat harga rata-rata nasional daging sapi dan kerbau telah mencapai Rp143.737 per kilogram (kg).
“Di pekan pertama Agustus 2026 ini dihadapkan pada kenyataan harga daging sapi kembali berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP),” kata dia.
Di sejumlah daerah, harga daging sapi bahkan telah menembus Rp200 ribu per kg pada pekan pertama Agustus 2026. Menurut Alex, kondisi tersebut tidak terlepas dari produksi daging sapi dan kerbau dalam negeri yang hanya diproyeksikan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar 421,2 ribu ton pada 2026.
“Sementara, kebutuhan nasional diproyeksikan mencapai 794,3 ribu ton,” katanya,
Alex mengatakan, kekurangan stok tersebut di atas kertas ditutupi dengan pemotongan sapi dan kerbau bakalan hasil impor sebesar 189,7 ribu ton. Selain itu, terdapat tambahan pasokan impor daging sehingga total ketersediaan daging sapi dan kerbau nasional mencapai 949,7 ribu ton.
Angka tersebut memang berada di atas kebutuhan konsumsi nasional yang diproyeksikan sebesar 794,3 ribu ton, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun non-rumah tangga.
“Jika pemerintah gagal menjaga stok, kemudian juga gagal memetakan kebutuhan masyarakat, fenomena harga melebihi HAP seperti saat ini dan akan terus berulang sepanjang tahun,” kata pria yang menjabat Ketua PDIP Sumatera Barat itu.
Menurut Alex, persoalan serupa juga terlihat pada pasokan dan harga ayam pedaging yang telah melebihi HAP di banyak daerah di Indonesia.
Ia mengatakan catatan BPS menunjukkan kenaikan harga daging ayam ras lebih dominan disebabkan keterbatasan pasokan yang diiringi peningkatan permintaan.
“Tergambar jelas, pasokan yang aman di atas kertas, tak serta merta menyelesaikan tekanan harga di tingkat masyarakat,” kata dia.
Alex menilai pemerintah perlu memperbaiki tata kelola pemenuhan kebutuhan daging nasional dengan memperkuat produksi dalam negeri, memetakan kebutuhan secara akurat, serta memastikan distribusi dan ketersediaan pasokan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, ketergantungan terhadap impor tidak boleh terus menjadi solusi utama. Skema pemenuhan daging perlu didesain secara lebih berkelanjutan agar stabilitas pasokan dan harga dapat terjaga sepanjang tahun.

















































































