Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto mengomentari adanya perbedaan nasib antara pegawai SPPG dan guru honorer yang sedang ramai diperbincangkan.
Hal tersebut disampaikan Edy dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Badan Gizi Nasional
Menurutnya, status yang didapatkan pegawai SPPG sebenarnya adalah titik ideal untuk para pekerja di Indonesia dan harus jadi contoh yang baik bagi negara.
Baca: Ganjar Pranowo Tegaskan Marsinah Lebih Layak
"Soal P3K yang selama yang akhir-akhir ini banyak dikomentari itu, ya memang bagus kalau BGN bisa mengangkat P3K bagi SPPI, ahli gizi accounting. Bagus tuh. Karena di dalam ketenagakerjaan kita yang menjadi concern juga Komisi 9 bahwa setiap pemberi kerja itu wajib mengikuti norma perintah, upah, dan status." ujarnya
Menurutnya ada 3 hal yang wajib dipenuhi oleh pemberi kerja dalam mempekerjakan tenaga kerja. Satu perintah, dua upah, tiga status. Sehingga menjadi standar tinggi di Indonesia
"Jadi ini contoh yang baik bagi negara. Kalau ingin mengambil karyawan statusnya harus jelas. " lanjutnya
Namun, ia memberikan penekanan bahwa status yang didapatkan oleh pegawai SPPG ini menjadi tidak adil jika dibandingkan dengan guru dan para nakes
"Nah yang tidak adil, itu kan para nakes dan para guru protes, terutama yang sudah mengabdi lama. Jadi, Saya berharap ini menjadi efek domino bagi presiden untuk menyelesaikan P3K yang ada, terutama di tenaga guru dan kesehatan." tuturnya.
Baca: Megawati Soekarnoputri Kunjungi Kantor Baru Megawati Institute
ia menghimbau jika hal tersebut segera untuk diurus dan didiskusikan dengan Presiden Prabowo agar protes para guru tidak berlarut-larut
"ini jika tidak diurus, nanti protesnya akan berlanjut lanjut. Sopir MBG yang mengantar gajinya lebih tinggi dari guru yang mendidik anak-anak. Mereka kuliahnya berdarah-darah kok tiba-tiba sama negara yang memberi kerja kok perlakuannya berbeda." pungkasnya

















































































