Jakarta, Gesuriid.id - Duta Besar Kuba untuk Indonesia, Dagmar Gonzalez Grau memaparkan kondisi kesulitan kehidupan perekonomian akibat tekanan Amerika Serikat (AS) yang berniat menguasai Kuba, serta menyampaikan pentingnya kerja sama Pemerintah Kuba dengan Kementerian Kesehatan; Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah; hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hal ini disampaikan Dubes Kuba Dagmar Gonzalez Grau saat berdialog dengan Presiden Ke-5 Republik Indonesia yang juga Ketua Dewan Pengarah BRIN Megawati Soekarnoputri di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/5).
Megawati didampingi Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah dan Direktur Hubungan Luar Negeri PDI Perjuangan, Hanjaya Setiawan.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

Dalam pertemuan itu, Hasto menjelaskan, selain kerja sama dengan BRIN di bidang kesehatan, khususnya mengembangan obat kanker dan juga vaksin halal serta obat-obatan juga mendorong terwujudnya kerja sama dengan Kementerian Kesehatan, mereka juga berharap bisa kerja sama dengan beberapa rumah sakit seperti RS Harapan Kita dan RS Pusat Otak Nasional (RS PON).
"Kepada Dubes Kuba, Ibu Megawati mengatakan kesehatan penting sekali untuk rakyat sehingga ketika saat menjabat presiden berinisiatif membangun RS PON," jelas Hasto.
Saat pertemuan, Megawati juga sempat menyinggung kunjungannya ke Kuba pada tahun 2011, lalu.
"Ibu Mega bernostalgia ketika berkunjung ke Kuba melihat secara langsung pabrik cerutu. Ternyata ada insentif bagi pekerja yang bisa mencapai target, kemudian ketika ada produksi lebih dari target maka kelebihan itu menjadi hak pekerja tersebut," kata Hasto.
Dubes Grau juga menjelaskan Kuba memiliki program khusus pemberantasan buta huruf, teknologi terapan hingga spesialis.

Program pemberantasan buta huruf sangat efektif dan sudah diterapkan di 30 negara dan menjangkau 10 juta orang.
Selain itu, saat pertemuan, Dubes Kuba memaparkan kesulitan kehidupan perekonomian akibat tekanan Amerika Serikat yeng berniat menguasai Kuba. Banyak analis menggambarkannya sebagai krisis ekonomi terburuk di negara itu sejak ‘Periode Khusus’ tahun 1990-an setelah runtuhnya Uni Soviet.
Dubes Kuba menyinggung krisis energi dan listrik yang parah, dengan dampaknya ke sektor pariwisata yang menjadi andalan perekonomian Kuba.
Langkah-langkah tambahan AS yang membatasi ruang gerak pengiriman bahan bakar dan jalur pelayaran meningkatkan tekanan pada perekonomian Kuba. Atas berbagai persoalan tersebut, Megawati mengungkapkan pentingnya solidaritas antarbangsa-bangsa merdeka dan berdaulat, termasuk berjuang melalui Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Dalam pertemuan tersebut, Dubes Kuba menyerahkan buket bunga mawar, parfum oles yang bahannya dari bunga Mariposa Putih, yang merupakan bunga nasional Kuba dan cerutu Kuba.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
“Setelah menerima parfum, Ibu Mega spontan menjelaskan bahwa Beliau juga telah memiliki bunga Mariposa Putih yang ditanam di kebunnya di Bali," ujar Ahmad Basarah.
Ditambahkan Basarah, Megawati menyerahkan miniatur Candi Borobudur dan satu set cangkir tradisional sebagai cendera mata.
Dubes Kuba pun mengutarakan ketertarikannya dengan lukisan Megawati kecil yang sedang dipangku ayahandanya, Soekarno. Lantas, Megawati pun menerangkan soal lukisan tersebut.

















































































