Jakarta, Gesuri.id - Komisi VII DPR RI berencana menggelar diskusi bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk guna mencari solusi atas hambatan pasokan gas bagi industri manufaktur di Karawang, Jawa Barat, Jumat (18/9).
Langkah ini ditempuh menyusul keterbatasan suplai energi yang membuat kapasitas operasional pabrik keramik, ubin, dan genteng tidak dapat berjalan optimal.
Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot, mengungkapkan bahwa kendala suplai gas tersebut, termasuk pengurangan volume pada periode tertentu, telah menahan efisiensi lini produksi manufaktur di angka 80 persen serta memicu penurunan volume produksi secara drastis.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
"Selama ini, utilitas terpasang mereka itu tidak bisa berjalan maksimal, hanya 80 persen kapasitas produksi dari utilitas terpasang mereka. Itu pun sudah luar biasa," ujar Banyu Biru.
Ia menambahkan, masalah pasokan gas menjadi salah satu hambatan utama (bottleneck) bagi produktivitas sektor industri keramik, ubin, dan genteng nasional.
Sebelum membawa persoalan ini ke tingkat kementerian, Komisi VII DPR RI memilih untuk memprioritaskan koordinasi awal dengan pihak penyedia utama.
"Pertama, kita harus berdiskusi dulu dengan PGN ya, karena kan yang menyuplai gas ini PGN. Kita tidak bicara langsung ke Kementerian ESDM," jelas Banyu Biru.
Melalui forum dialog tersebut, DPR berharap dapat mendalami kendala teknis yang dihadapi PGN untuk kemudian merumuskan solusi bersama demi menjaga keberlangsungan serta daya saing sektor manKomisi VII DPR RI berencana menggelar diskusi bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk guna mencari solusi atas hambatan pasokan gas bagi industri manufaktur di Karawang, Jawa Barat, Jumat (18/9/2026). Langkah ini ditempuh menyusul keterbatasan suplai energi yang membuat kapasitas operasional pabrik keramik, ubin, dan genteng tidak dapat berjalan optimal.
Anggota Komisi VII DPR RI, Banyu Biru Djarot, mengungkapkan bahwa kendala suplai gas tersebut, termasuk pengurangan volume pada periode tertentu, telah menahan efisiensi lini produksi manufaktur di angka 80 persen serta memicu penurunan volume produksi secara drastis.
"Selama ini, utilitas terpasang mereka itu tidak bisa berjalan maksimal, hanya 80 persen kapasitas produksi dari utilitas terpasang mereka. Itu pun sudah luar biasa," ujar Banyu Biru.
Baca: Ganjar Pranowo Sosok Pemimpin yang Disukai Semua Kalangan
Ia menambahkan, masalah pasokan gas menjadi salah satu hambatan utama (bottleneck) bagi produktivitas sektor industri keramik, ubin, dan genteng nasional.
Sebelum membawa persoalan ini ke tingkat kementerian, Komisi VII DPR RI memilih untuk memprioritaskan koordinasi awal dengan pihak penyedia utama.
"Pertama, kita harus berdiskusi dulu dengan PGN ya, karena kan yang menyuplai gas ini PGN. Kita tidak bicara langsung ke Kementerian ESDM," jelas Banyu Biru.
Melalui forum dialog tersebut, DPR berharap dapat mendalami kendala teknis yang dihadapi PGN untuk kemudian merumuskan solusi bersama demi menjaga keberlangsungan serta daya saing sektor manufaktur nasional manufaktur nasional.

















































































