Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPR RI dari Dapil Jambi, Edi Purwanto menegaskan, pentingnya reformasi pendidikan nasional yang tidak hanya menyejahterakan guru dan dosen, tetapi juga memastikan peserta didik dibekali kemampuan hidup (life skill) yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Hal itu disampaikan Edi dalam Rapat Kerja terkait Pemantauan dan Peninjauan Undang-Undang Guru dan Dosen.
Dalam paparannya, Edi menekankan bahwa guru dan dosen memiliki peran strategis dalam meningkatkan derajat masyarakat melalui ilmu pengetahuan.
Karena itu, ia menilai negara memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan kesejahteraan yang layak bagi tenaga pendidik di seluruh Indonesia.
“Guru dan dosen itu orientasinya transfer ilmu, bukan sekadar mencari profit. Maka negara wajib memastikan mereka sejahtera, karena mereka telah mengajarkan ilmu kepada seluruh anak bangsa,” katanya, Jumat (28/11).
Namun Edi juga menyoroti persoalan klasik yang terjadi setiap tahun, banyak lulusan sarjana justru menjadi pengangguran produktif. Ia menilai sistem pendidikan Indonesia belum sepenuhnya mengarah pada penguatan keterampilan hidup yang aplikatif.
“Setiap tahun kita mencetak sarjana baru, tetapi banyak yang akhirnya menganggur. Ini karena pendidikan kita belum mendorong life skill secara maksimal,” jelasnya.
Edi mengusulkan perubahan fundamental pada kurikulum SMA. Menurutnya, SD dan SMP cukup memberikan pendidikan umum sebagai dasar. Namun ketika siswa memasuki SMA, pembelajaran harus difokuskan pada tiga aspek inti, Agama untuk membentuk moral, Bahasa sebagai instrumen komunikasi, Fokus Kealihan, yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa.
Ia mencontohkan, bila seorang anak sejak kecil gemar bertani, maka di SMA ia harus langsung diarahkan pada keahlian pertanian.
“Kalau anak ini hobinya bertani, ya sudah. Dari SMA ia harus belajar tiga tahun soal pertanian-menyemai padi, memupuk, hingga mengembangkan bibit. Dengan begitu, ketika lulus ia betul-betul siap dan produktif,” ujarnya.
Edi berharap Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dapat lebih berani melakukan penyederhanaan sekaligus penajaman kurikulum, sehingga lulusan SMA benar-benar memiliki kompetensi yang dapat langsung diterapkan di masyarakat.
Ia menegaskan, pendidikan Indonesia harus bergerak dari pola lama yang teoretis menuju pola baru yang berbasis kemampuan praktis, relevan, dan memiliki nilai ekonomi.

















































































