Serang, Gesuri.id - Anggota Komisi V DPRD Provinsi Banten, Yeremia Mendrofa, memberikan catatan kritis terkait penetapan enam Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banten sebagai sekolah percontohan implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI).
Yeremia mengingatkan agar program tersebut tidak sekadar menjadi ajang pencitraan teknologi yang modern, tetapi melupakan persoalan inti pendidikan.
"Kita harus melihat persoalan mendasar pendidikan kita. Ketika kemampuan literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran masih menjadi tantangan, penerapan AI jangan sampai hanya menjadi program yang terlihat modern, tetapi tidak menyentuh persoalan inti," tegas Yeremia di Serang, Minggu (25/10).
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini menekankan bahwa AI harus berfungsi sebagai alat bantu meningkatkan kualitas belajar, bukan jalan pintas bagi siswa untuk menyelesaikan tugas secara instan. Ia mengkhawatirkan penggunaan teknologi tanpa pengawasan ketat dapat mengikis daya kritis dan kemampuan berpikir mandiri para siswa.
"Jangan sampai siswa mahir menggunakan AI, tetapi justru kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Kita ingin AI membantu siswa belajar lebih baik, bukan sekadar menghasilkan jawaban serba instan," ujarnya.
Yeremia mendesak agar implementasi AI di Banten dikaitkan secara nyata dengan peningkatan skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia, khususnya pada literasi membaca, matematika, dan sains.
Keberhasilan program ini, menurutnya, tidak boleh hanya diukur dari jumlah sekolah yang menggunakan teknologi, melainkan dari kemajuan kompetensi peserta didik.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya kesiapan tenaga pengajar dan pemerataan infrastruktur. Menurutnya, pemanfaatan AI tidak akan optimal jika guru belum terlatik dengan baik serta fasilitas internet dan perangkat digital belum merata di seluruh daerah.
"Pemerintah Provinsi Banten harus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan pelatihan guru, ketersediaan perangkat, akses internet, serta perlindungan data pribadi siswa berjalan secara berkelanjutan. Enam sekolah model ini harus dievaluasi secara ketat sebelum praktiknya diperluas ke sekolah lain," tambah Yeremia.
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI menetapkan enam SMA di Provinsi Banten sebagai satuan pendidikan pelaksana program Sekolah Model Implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding dan Kecerdasan Artifisial (PM-KKA). Ketetapan ini tertuang dalam Surat Keputusan Dirjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen Nomor 0010 Tahun 2026 tertanggal 12 Maret 2026.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Enam sekolah yang ditunjuk meliputi SMAN 1 Pandeglang, SMAN 1 Jawilan, SMAN 1 Kramatwatu, SMAN 1 Cilegon, SMA Swasta Hellomotion, dan SMAN 2 Kota Tangerang Selatan.
Kepala SMAN 1 Cilegon, Agus Pancasusila, menyambut baik penunjukan tersebut. Ia menjelaskan bahwa penerapan AI di sekolahnya tidak terbatas pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), melainkan diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran.
"Setiap guru dalam setiap pembelajaran diharapkan dapat menggunakan kecerdasan buatan agar proses belajar mengajar lebih menyenangkan," kata Agus.
Senada dengan Agus, Kepala SMAN 1 Pandeglang, Jubaedi, membenarkan bahwa pihak sekolah mulai menerapkan kurikulum AI pada tahun ajaran 2026/2027, baik sebagai mata pelajaran khusus koding untuk kelas X maupun sebagai alat bantu pembelajaran bagi para guru.

















































































