Jakarta, Gesuri.id - Wali kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa program Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bukan sekadar proyek fisik, melainkan sarana menumbuhkan kembali semangat kebersamaan warga.
“Pekerjaannya tidak project-minded, tapi dikerjakan bersama. Bukan hanya mengandalkan CSR, tapi juga swadaya masyarakat sekitar dan partisipasi keluarga penerima manfaat,” ujarnya saat meninjau pelaksanaan bedah rumah di Mantrijeron.
Baca: Kisah Keluarga Ganjar Pranowo Jadi Inspiratif Banyak Pihak
Pernyataan tersebut menjadi penegasan arah kebijakan Pemkot Yogyakarta di tahun 2026. Program RTLH akan terus dilanjutkan dengan pola pendanaan yang tetap mengandalkan dukungan Corporate Social Responsibility (CSR), disertai swadaya masyarakat dan bantuan APBD untuk kasus darurat seperti kebakaran.
Sepanjang tahun 2025, tercatat 67 rumah warga telah diperbaiki. Dari jumlah itu, 63 unit berasal dari dana CSR, dua rumah dari swadaya masyarakat, dan dua rumah lainnya melalui APBD. Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kota Yogyakarta, Subarjilan, menjelaskan bahwa pola pendanaan ini menunjukkan keterlibatan aktif berbagai pihak.
“Ada yang murni urunan warga, ada pula perusahaan yang secara spontan membantu. Pola seperti ini kemungkinan besar berlanjut di 2026,” katanya.
Dalam praktik swadaya, warga membentuk kepanitiaan di tingkat kelurahan. Tokoh masyarakat menggalang donasi, lalu pengerjaan dilakukan secara gotong royong. Model ini sempat berjalan di Mergangsan dan Ngampilan pada 2025, sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat masih memegang erat nilai kebersamaan.
Untuk memastikan sasaran tepat, Pemkot membentuk Tim Bedah Rumah lintas perangkat daerah. Dinas Pekerjaan Umum bertugas melakukan survei lapangan, sementara koordinasi CSR dijalankan oleh Bagian Tata Pemerintahan dan Kesra. Patokan utama penilaian RTLH mengacu pada kondisi atap, lantai, dan dinding (ALADIN), ditambah aspek sanitasi dan MCK.
“Kita bantu yang paling membutuhkan di antara yang membutuhkan. Karena CSR terbatas, maka skala prioritas menjadi kunci,” tegas Subarjilan.
Baca: Ganjar Harap Kepemimpinan Gibran Bisa Teruji
Baznas Kota Yogyakarta menjadi salah satu mitra CSR yang konsisten. Sepanjang 2025, lembaga ini menyalurkan Rp 545 juta untuk program RTLH di berbagai kemantren, dengan besaran bantuan berbeda sesuai kebutuhan.
Ketua Baznas Kota Yogyakarta, Syamsul Azhari, menyebutkan bahwa pada 2026 pihaknya menargetkan setiap minggu ada satu unit rumah yang diperbaiki.
“Untuk kategori rusak sedang, alokasi bantuan sebesar Rp 20 juta per unit,” jelasnya.
















































































