Ikuti Kami

Kendal Rehabilitasi DAS Bodri dengan Menanam Sekitar 260 Ribu Pohon di Lahan Seluas 650 Ha

“Harapan kita, kegiatan penanaman pohon ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan investasi untuk kita bersama."

Kendal Rehabilitasi DAS Bodri dengan Menanam Sekitar 260 Ribu Pohon di Lahan Seluas 650 Ha
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menegaskan penanaman pohon dalam program rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi lingkungan untuk menjaga fungsi ekologis, tata air, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Jakarta, Gesuri.id - Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menegaskan penanaman pohon dalam program rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi lingkungan untuk menjaga fungsi ekologis, tata air, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Harapan kita, kegiatan penanaman pohon ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan investasi untuk kita bersama di masa depan dan warisan berharga bagi generasi yang akan datang,” kata Dyah saat menanam pohon di Desa Wonosari, Kecamatan Pegandon, Kendal, Senin (7/9/2026).

Program rehabilitasi DAS Bodri tersebut menargetkan penanaman sekitar 260 ribu pohon di lahan seluas 650 hektare yang tersebar di Blok Wonosari, Sukodadi, Singorojo, dan Kaliputih. Penanaman ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan dan dilanjutkan dengan pemeliharaan selama tiga tahun hingga 2029.

Dyah mengatakan keberadaan pepohonan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mencegah erosi, mempertahankan ketersediaan air tanah, sekaligus mengurangi risiko bencana. Terlebih, Kabupaten Kendal memiliki beragam potensi ancaman bencana, mulai dari rob, banjir hingga tanah longsor.

Menurut dia, rehabilitasi DAS Bodri diharapkan dapat menjadi langkah konkret untuk memulihkan fungsi lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam bagi masyarakat.

Kepala BPDAS Pemali Jratun Aris Setia Utomo mengatakan tanaman berkayu memiliki fungsi penting dalam menahan air hujan agar tidak langsung mengalir deras ke wilayah hilir.

Air yang tertahan di kawasan hulu, menurut Aris, memiliki kesempatan lebih besar untuk meresap ke dalam tanah sehingga dapat membantu menjaga ketersediaan air ketika memasuki musim kemarau.

Selain tanaman tegakan seperti sengon dan jabon, program rehabilitasi DAS Bodri juga menanam tanaman buah berupa durian, nangka, dan rambutan. Tanaman tersebut diharapkan dapat memberikan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat ketika memasuki masa produksi.

“Masyarakat jangan hanya menjadi penonton. Mereka punya hak untuk mengelola kawasan sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi,” ujar Aris.

Manajer K3 Lingkungan dan Keamanan PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah Yeni B. Arianto mengatakan PLN turut menggandeng Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah untuk membantu membuka akses pemasaran hasil tanaman buah melalui offtaker.

“Kami akan bantu implementasi ke offtaker, sehingga harapannya masyarakat tidak kesulitan menyalurkan atau menjual hasil tanaman buah-buahan,” katanya.

Program rehabilitasi DAS Bodri juga melibatkan tiga Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam pengelolaan kawasan. Keterlibatan masyarakat tersebut diharapkan memastikan program tidak berhenti pada penanaman, tetapi berlanjut hingga tahap pemeliharaan dan pemanfaatan hasil.

Rehabilitasi DAS Bodri diharapkan tidak hanya memulihkan fungsi lingkungan, tetapi juga memperkuat tata air dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.

Quote