Tasikmalaya, Gesuri.id — Di balik megahnya gedung-gedung bertingkat dan pusat perbelanjaan Asia Plaza di jantung Kota Tasikmalaya, terselip kisah miris yang luput dari perhatian.
Nana Kustaman (72), seorang penarik becak, harus bertahan hidup di sebuah gubuk yang sangat tidak layak bersama cucunya yang berkebutuhan khusus, Seka Elmansyah (12).
Kondisi keprihatinan lansia yang telah tinggal selama 23 tahun di RT 03/RW 05, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang ini menuai sorotan tajam dari Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Tasikmalaya, Kepler Sianturi.
Baca: Empat Keberhasilan Ganjar Pranowo Selama Menjadi Gubernur
Saat meninjau langsung ke lokasi, Kepler tak kuasa menahan air mata melihat gubuk berukuran sempit yang dihimpit bangunan mewah di kawasan Jalan H.Z. Mustofa tersebut. Ia menyampaikan kritik pedas atas ketimpangan sosial yang terjadi tepat di pusat kota.
"Posisi gubuk ini berada di sela-sela rumah dan gedung bertingkat, tepat di pusat atau jantung Kota Tasikmalaya, tidak jauh dari Asia Plaza. Untuk disebut gubuk pun ini sangat tidak layak, bisa dikatakan mirip kandang. Padahal kandang di daerah lain pun bisa lebih bagus dari ini," tegas Kepler saat mengkritik kondisi tempat tinggal Pak Nana.
Atas temuan tersebut, Kepler mendesak Pemerintah Kota Tasikmalaya di bawah kepemimpinan Wali Kota Viman Alfarizi untuk segera turun tangan dan memberikan bantuan nyata bagi perbaikan hunian maupun kesejahteraan keluarga Pak Nana.
Pak Nana diketahui telah menggantungkan hidup sebagai penarik becak sejak 2005. Di usia senjanya, ia bertindak sebagai orang tua tunggal bagi Seka, anak dari putra bungsunya. Seka ditinggalkan oleh ibunya yang pergi bekerja ke luar kota dan kini telah hilang kontak.
Seka tumbuh dengan keterbatasan tidak dapat berbicara serta mengalami kesulitan bersosialisasi. Hingga usianya menginjak 12 tahun, Seka belum pernah mengenyam pendidikan formal, baik di tingkat TK maupun SD.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Pak Nana hanya mengandalkan pendapatan dari menarik becak serta bantuan pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Program Keluarga Harapan (PKH), dan bantuan beras yang penyalurannya tidak menentu. Meski hidup dalam keterbatasan, Pak Nana menolak jika harus dipisahkan dari sang cucu.
"Saya tidak mau pindah ke panti asuhan. Saya ingin terus bersama dan merawat cucu saya sekuat tenaga," ujar Pak Nana lirih.
Keprihatinan terhadap nasib Seka juga datang dari Ketua LKP Simphony Musik, Eva Revina, yang turut hadir dalam peninjauan tersebut. Eva menilai Seka membutuhkan intervensi pendidikan khusus serta terapi tumbuh kembang agar dapat bersosialisasi dengan baik.
Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo yang Jarang
"Sebaiknya cucu Pak Nana disekolahkan agar bisa bersosialisasi dan memiliki teman. Saran saya masuk ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Sekolahnya gratis dan durasi belajarnya dua jam per hari. Jika masuk sekolah umum, butuh pendampingan ekstra yang akan menyulitkan Pak Nana," jelas Eva.
Selain saran pendidikan, Eva juga mendorong penanganan medis bagi Seka. Menurutnya, layanan terapi di RSUD dapat diakses secara gratis melalui skema Kartu Indonesia Sehat (KIS) dengan mengurus rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke dokter spesialis anak.
Nana menyampaikan rasa terima kasihnya atas kepedulian dan bantuan tunai yang diberikan oleh Kepler Sianturi bersama para dermawan. Bantuan tersebut rencananya akan dipergunakan secara hemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta merenovasi gubuk tempat tinggal mereka.
Kini, Pak Nana berharap adanya perhatian berkelanjutan dari pemerintah daerah dan masyarakat luas agar beban hidupnya berkurang, serta sang cucu bisa mendapatkan hak pendidikan dan layanan kesehatan yang layak.

















































































