Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mufti Anam, mendesak Indonesia keluar dari Board of Peace (BOP) menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Ia menilai keikutsertaan Indonesia dalam forum bentukan AS itu perlu dievaluasi demi menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif.
"Negara non-blok yang berdiri di atas prinsip bebas aktif? Atau negara yang perlahan secara sengaja menjual diri dan kemudian tersandera dalam pusaran Amerika? Setelah Amerika dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran (bahkan sepulang Presiden kita pulang dari Amerika), sekarang saya bertanya: di mana posisi Indonesia hari ini?" tulis Mufti di Instagramnya @mufti.anam, dikutip Rabu (4/3/2026).
Legislator dari daerah pemilihan Jawa Timur II yang meliputi Pasuruan dan Probolinggo itu mempertanyakan posisi Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto menandatangani Piagam (Charter) Board of Peace di sela World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026). Penandatanganan tersebut menandai Indonesia sebagai anggota pendiri dewan perdamaian internasional itu.
Mufti juga menyoroti peran Presiden AS, Donald Trump, yang disebutnya sebagai Ketua BOP dan inisiator serangan terhadap Iran. Ia mempertanyakan relevansi forum tersebut ketika eskalasi konflik justru meningkat.
"Fakta yang terjadi hari ini justru eskalasi perang, apakah kita masih berada di jalur yang benar? Ataukah kita sedang membayar mahal, secara politik dan anggaran, untuk sesuatu yang tidak memberi dampak nyata bagi kepentingan rakyat. Rp 1 miliar USD uang rakyat yang sangat besar. Uang yang seharusnya bisa untuk pendidikan, kesehatan, pangan, dan desa," kata Mufti.
Menurutnya, Indonesia harus konsisten pada prinsip non-blok dan bebas aktif sebagaimana diwariskan para pendiri bangsa. Ia mengingatkan peran historis Indonesia sebagai pelopor Konferensi Asia Afrika yang memperjuangkan kedaulatan dan perdamaian dunia.
"Indonesia sejak dulu dikenal sebagai pelopor Konferensi Asia Afrika. Bung Karno mengajarkan kita berdiri tegak, bukan ikut arus. Bebas aktif, bukan bebas mengikuti. Hari ini sudah terbukti BOP tidak lagi mencerminkan perdamaian dan tidak membawa manfaat sedikitpun. maka saya Mendesak agar Indonesia mundur dengan terhormat demi menjaga prinsip non-blok dan kedaulatan bangsa," pungkasnya.

















































































