Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin, mengingatkan pemerintah pusat dan daerah untuk tidak "gagap" dalam menghadapi potensi bencana kemarau panjang atau "El Nino Godzilla" yang diprediksi akan melanda dalam waktu dekat.
Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian Kunjungan Kerja Reses Komisi VIII DPR RI di Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan, Kamis (23/4/2026).
Dalam kesempatan tersbut, Azis menekankan bahwa langkah mitigasi harus dilakukan jauh sebelum bencana terjadi, berkaca pada pengalaman bencana banjir rutin di Sumatera Utara yang kerap menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar rupiah.
Baca: Masuk Parpol di Usia 24 Tahun, Ganjar: Saya Lahir dari Ideologi
"Jangan sampai kita mengulang kesalahan yang sama. Ketika BMKG sudah memberikan imbauan mengenai curah hujan tinggi maupun ancaman El Nino Godzilla, kita harus siap. Mencegah jauh lebih baik dan lebih murah daripada mengobati atau menangani dampak yang sudah terjadi," ujarnya.
Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini juga menyoroti tren kebencanaan nasional yang mencapai hampir 4.000 kejadian setiap tahunnya. Menurutnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) harus mulai menggeser fokus dari sekadar penanganan pascabencana menjadi penguatan sosialisasi dan pencegahan.
"Kapasitas BNPB saat ini lebih banyak tersedot untuk penanganan. Kita perlu mendorong kebijakan nasional yang mampu memetakan daerah rawan bencana secara presisi sejak dini. Selain itu, pengawasan terhadap izin-izin lahan dan hutan harus diperketat untuk mencegah longsor dan banjir bandang yang berdampak sistemik pada pembangunan nasional," imbuhnya.
Selain itu, Legislator dari Dapil Jabar III ini memberikan perhatian khusus pada kerentanan anak-anak saat bencana terjadi. Data menunjukkan bahwa mayoritas korban jiwa dalam berbagai peristiwa bencana adalah anak-anak karena minimnya pengetahuan mengenai cara menyelamatkan diri.
Baca: Strategi Ganjar Pranowo untuk Hubungkan Langsung Dunia
"Secara fisik, daya tahan anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Mereka seringkali tidak tahu harus lari ke mana saat terjadi tsunami atau gempa. Karena itu, saya pribadi mendorong pemerintah untuk serius memasukkan kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah, seperti yang diterapkan di Jepang," ujar Azis.
Ia menjelaskan bahwa dengan adanya kurikulum tersebut, anak-anak Indonesia yang tinggal di wilayah Ring of Fire akan memiliki naluri bertahan hidup yang kuat. Mereka akan memahami jalur evakuasi dan langkah-langkah darurat sesuai dengan karakteristik wilayahnya, baik di pesisir maupun pegunungan.
"Menanamkan budaya sadar bencana sejak dini tidak hanya menyelamatkan nyawa mereka hari ini, tetapi juga membentuk generasi masa depan yang lebih bijak dalam memilih tempat tinggal yang layak dan aman di masa depan," pungkas Azis.

















































































