Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati, menyayangkan adanya dugaan intimidasi terhadap siswa SMAN 1 Sentolo, Kulon Progo.
Dugaan penekanan ini mencuat setelah seorang siswa dipaksa membuat video klarifikasi dan permohonan maaf akibat melayangkan kritik terkait kasus dugaan kekerasan seksual di lingkungan sekolahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Esti usai memantau dinamika isu sosial di media sosial serta melakukan kunjungan kerja ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo pada Kamis (17/9).
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
Esti menilai tindakan siswa yang bersuara kritis tersebut didasari niat baik untuk perbaikan lembaga dan bentuk kepedulian terhadap para korban. Ia mengkritik keras sikap sekolah yang justru menyudutkan siswa pelapor.
"Pelajar yang melayangkan kritik itu seharusnya tidak perlu sampai harus membuat klarifikasi, kasihan. Mentalnya pasti down," tegas Esti.
Esti menekankan pentingnya respons cepat dan tegas dari pihak sekolah dalam menangani dugaan kekerasan seksual. Menurutnya, pembiaran kasus yang berlangsung lama berpotensi menimbulkan trauma mendalam bagi para korban.
- Penanganan internal: Ketegasan sekolah dalam menindak dan mengeluarkan pelaku dari lingkungan edukasi adalah kunci utama agar siswa merasa aman.
- Proses hukum: Jika sekolah bertindak tegas, siswa tidak perlu terbeban membawa kasus ke pihak kepolisian, walau hak hukum korban tetap dihormati.
"Kalau sudah ada ketegasan dari pihak sekolah, pelajar tidak perlu harus lapor ke polisi karena pelakunya sudah tidak ada lagi di lingkungan sekolah," ujar Esti.
Baca: Ini 3 Faktor yang Membuat Ganjar Pranowo Menjadi Capres Terkuat!
Menanggapi isu tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kulon Progo, Triyono, mengonfirmasi bahwa pihak pemkab telah menerima informasi terkait dugaan pelecehan dan intimidasi di SMAN 1 Sentolo.
Namun, langkah tindak lanjut masih menunggu koordinasi mendalam dengan Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) DIY.
Triyono menyayangkan lambatnya keterbukaan informasi atas dugaan pelecehan yang disinyalir telah berlangsung lama tersebut. Saat ini, Pemkab Kulon Progo tengah menghimpun data valid sebelum mengambil langkah resmi.
"Kami akan cek dulu, sebab harus dipastikan datanya," pungkas Triyono.

















































































