Jakarta, Gesur.id - Tingginya angka pengangguran dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Provinsi Banten menjadi sorotan serius kalangan legislatif. Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat bahwa sebanyak 411 ribu warga Banten masih menjadi pengangguran di tahun 2026.
Berdasarkan data BPS, jumlah pengangguran tersebut setara dengan 6,59 persen dari total angkatan kerja di Banten yang mencapai 6,24 juta orang.
Meski angka pengangguran mengalami penurunan jika dibandingkan dengan data di November 2025 yang mencapai 430 ribu orang, kondisi ini menunjukkan jika persoalan ketenagakerjaan belum sepenuhnya teratasi.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
BPS juga mencatat, pada periode Agustus-November 2025 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK mencapai 10,13 persen dari 430 ribu pengangguran Banten.
Sedangkan pada periode Februari-Mei 2026 TPT lulusan SMK mengalami kenaikan mencapai 11,88 persen dari total pengangguran Banten sebanyak 411 ribu jiwa.
Guna menekan angka pengangguran tersebut, legislator Banten dari PDI Perjuangan Banten, Yeremia Mendrofa menekankan tentang pentingnya membekali para siswa dengan literasi digital agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri modern.
Anggota Komisi V DPRD Banten ini juga menegaskan bahwa persoalan pengangguran ini tidak semata-mata disebabkan oleh ketidaksiapan lulusan dalam bekerja.
Menurutnya, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap relevansi kurikulum, fasilitas praktik, kualitas pendidik, hingga efektivitas pola kerja sama antara SMK dan dunia industri.
“Tingginya angka pengangguran dari lulusan SMK di Banten harus menjadi catatan serius bagi pemerintah, dunia pendidikan, dan dunia industri. Persoalannya tidak semata-mata karena lulusan SMK tidak siap bekerja. Kita harus berani mengevaluasi apakah kurikulum, kompetensi yang diajarkan, fasilitas praktik, kualitas guru, hingga pola kerja sama SMK dengan industri benar-benar sudah mengikuti perubahan kebutuhan dunia kerja,” ujar Yeremia, Senin (14/9).
Ia memaparkan bahwa pergeseran struktur industri dan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan hingga otomatisasi harus disikapi secara bijak oleh dunia pendidikan vokasi di Banten.
Menurutnya, Banten selama ini memiliki basis industri yang besar. Namun, kini industri padat karya semakin menghadapi tekanan. Sementara di sisi lain, otomatisasi, digitalisasi, artificial intelligence, robotisasi, dan perubahan teknologi membuat kebutuhan tenaga kerja semakin minim.
“SMK harus diperkuat dengan kompetensi digital dan teknologi. Lulusan SMK tidak cukup hanya memiliki keterampilan teknis konvensional. Mereka perlu dibekali literasi digital, data, otomasi, AI, computer-aided design, teknologi manufaktur modern, serta kemampuan menggunakan perangkat teknologi sesuai bidangnya,” tegasnya.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
Sebagai upaya nyata menekan pengangguran, Legislator Banten ini juga menyampaikan beberapa catatan dan koreksi strategis bagi pembenahan pendidikan vokasi Banten selain literasi digital.
Ia menilai bahwa kurikulum vokasi harus cepat menyesuaikan dengan permintaan pasar. Yang mana, kompetensi yang diajarkan harus berdasarkan demand pasar kerja, bukan semata-mata berdasarkan program keahlian yang sudah tersedia di sekolah.
Yeremia juga meminta pemerintah daerah untuk secara rutin memetakan kebutuhan tenaga kerja per wilayah dan sektor industri.
“Pekerjaan apa yang tumbuh, pekerjaan apa yang menyusut, serta kompetensi apa yang akan dibutuhkan dalam 5–10 tahun ke depan itu harus dipetakan,” ujarnya

















































































