Jakarta, Gesuri.id — Kecaman keras atas dugaan penyadapan komunikasi Presiden Prabowo Subianto terus bergemuruh di lingkaran politik nasional. Kali ini, kemarahan terbuka dilontarkan oleh kader PDI Perjuangan, Afthon Lubbi.
Ia menuding dalang di balik gerakan manipulatif dan aksi spionase tersebut sebagai sosok berwatak sadis, menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaan.
Dalam pernyataannya yang bernada tinggi, Afthon bahkan menggunakan istilah-istilah ekstrem untuk menggambarkan pihak yang dinilainya menjadi otak di balik kekacauan ini.
“Serius! Ini orang sadis banget, berdarah dingin, manipulatif, penipu, dan pembohong. Lebih kejam dari ajaran Machiavelli yang menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaan,” kecam Afthon, Rabu.
Baca: Ini 7 Fakta Unik & Menarik Tentang Ganjar Pranowo
Bagi Afthon, dugaan penyadapan ini bukan sekadar dinamika politik biasa, melainkan ancaman telanjang terhadap kewibawaan kepala negara dan konstitusi Republik Indonesia.
Afthon menilai skandal ini telah mencatatkan sejarah kelam baru di tubuh penegak hukum Indonesia. Ia mengaku habis pikir bagaimana institusi kepolisian, yang seharusnya menjadi garda terdepan pengamanan negara, justru diduga mendalangi aksi mata-mata terhadap pucuk pimpinan tertinggi pemerintahan.
“Polri dirusak, pertama dalam sejarah Indonesia. Mungkin pertama di dunia, jenderal-jenderal polisi menyadap percakapan presiden,” tandasnya dengan nada geram.
Ia pun merinci kerusakan sistemik yang diklaimnya akibat nafsu kekuasaan pihak tertentu, mulai dari pelemahan organisasi kemasyarakatan keagamaan, intervensi terhadap KPK, hingga pembajakan konstitusi.
“Ormas keagamaan dirusak, KPK dirusak, konstitusi dirusak, apa saja dirusak, bahkan menumbalkan anaknya sendiri untuk nafsu kekuasaannya,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Afthon turut membongkar latar belakang politik di balik layar. Ia mengungkapkan bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, sebelumnya pernah secara tegas menolak permintaan pihak tertentu yang berambisi memperpanjang kekuasaan. Ditolak oleh Megawati, sosok tersebut lantas mendekati kubu Presiden Prabowo.
Afthon menduga, Presiden Prabowo berpotensi dijadikan instrumen atau batu loncatan oleh pihak tersebut demi mengamankan kepentingannya. Kendati demikian, ia melihat Presiden Prabowo mulai mengambil jarak dan mendengarkan petuah-petuah bijak dari Megawati.
Ia lantas mengenang kembali pesan khusus yang pernah dititipkan Megawati kepada lingkaran terdekat Presiden.
“Nampaknya, Presiden Prabowo mendengarkan nasihat Bu Mega. Bu Mega pernah bilang ke orang-orang dekat Pak Presiden, ‘Jaga Pak Prabowo!’” ungkap Afthon.
Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres
Peringatan Megawati tersebut, sebut Afthon, kini terbukti nyata dengan mencuatnya skandal penyadapan ilegal yang melibatkan sejumlah petinggi kepolisian, termasuk dugaan keterlibatan mantan Kapolri. Ia mendesak agar kejahatan luar biasa ini diusut tuntas tanpa pandang bulu untuk membersihkan institusi negara dari unsur-unsur makar.
“Ini di luar logika. Kekuatan apa yang merasuki para abdi negara ini, sehingga berani melakukan kejahatan makar?” tanyanya retoris.
Menutup pernyataannya, Afthon meluapkan kekesalannya dengan sebutan-sebutan bernada mistis untuk menggambarkan karakter sang dalang politik.
“Kekuatan yang hanya dimiliki iblis, setan, demit, genderuwo,” pungkasnya.
Kasus dugaan penyadapan ini, menurut Afthon, tidak boleh sekadar menjadi bahan polemik di ruang publik, melainkan harus dibuka seterang-terangnya agar motif dan aktor intelektual di balik layar terseret ke meja hijau.

















































































