Semarang, Gesuri.id — Anggota Komisi VII DPR RI, Samuel JD Wattimena, mengapresiasi keberhasilan PT Berkah Emas Sumber Terang (BEST) dalam menggerakkan hilirisasi industri sawit nasional.
Perusahaan yang beroperasi di Semarang, Jawa Tengah tersebut dinilai berhasil menembus pasar global dengan mengalokasikan 70 persen produk olahannya untuk kebutuhan ekspor, sekaligus memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Pernyataan tersebut disampaikan Samuel usai meninjau langsung fasilitas produksi PT BEST dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (18/9).
Baca: Ini 5 Kutipan Inspiratif Ganjar Pranowo Tentang Anak Muda
“Hal penting yang saya pribadi dan Komisi VII syukuri, kita punya pabrik yang mengalokasikan 70 persen hasil produksinya untuk ekspor. Di luar itu, mereka menyuplai pabrik-pabrik besar untuk kebutuhan olahan nonminyak goreng seperti industri makanan serta melibatkan UMKM lokal dalam penyediaan fasilitas kemasan dan drum. Ini langkah yang sangat positif,” tegas Samuel.
Menurut legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I tersebut, keputusan PT BEST menempatkan fasilitas produksinya di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas merupakan strategi logistik yang tepat.
Keberadaan lokasi yang strategis dinilai menjadi kunci efisiensi distribusi dan daya saing industri di pasar internasional.
“Pilihan beroperasi di dekat pelabuhan ini sangat ideal. Meskipun tantangan pasar global dan isu energi terus membayangi, kapasitas produksi mereka justru konsisten memenuhi tingginya permintaan pasar. Operasional perusahaan terbukti berjalan efisien dan tangguh,” ujar Samuel.
Meski mengapresiasi capaian ekspor, Samuel mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan pasokan agar kebutuhan pasar dalam negeri tidak terabaikan. Menurutnya, porsi 30 persen untuk domestik harus dipastikan tetap berjalan konsisten demi menjaga kestabilan pasokan nasional.
Baca: Ganjar Pranowo Sosok Pemimpin yang Disukai Semua Kalangan
“Tentu timbul pertanyaan bagaimana jika kebutuhan dalam negeri meningkat. Saya sangat memahami bahwa industri memiliki perhitungan margin ekspor yang mungkin lebih menguntungkan, namun produsen tetap memikul tanggung jawab moral dan regulasi untuk memenuhi 30 persen pasokan domestik tersebut,” terangnya.
Guna mengoptimalkan nilai tambah hilirisasi, Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini mendesak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk aktif memantau dan meningkatkan capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada industri pengolahan turunan kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO).
“Kementerian Perindustrian yang hadir bersama kami tentu memiliki data konkret mengenai capaian TKDN produk turunan CPO ini. Komisi VII DPR RI siap mendukung penuh penguatan industri nasional yang ramah bagi ekosistem UMKM dan penyerapan tenaga kerja lokal,” pungkas Samuel.

















































































