Banjarbaru, Gesuri.id — Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, memberikan catatan kritis terhadap Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) terkait rendahnya partisipasi daerah dalam program nasional SMK Go Global.
Ia mendesak pemda untuk memperkuat ekosistem ketenagakerjaan demi menyerap peluang kerja internasional secara optimal.
Evaluasi tersebut disampaikan Edy di sela-sela kunjungan kerja reses Komisi IX DPR RI di Banjarbaru, Kalsel, pada pertengahan Oktober 2026.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Edy menyoroti ketimpangan penyerapan kuota dalam program strategis SMK Go Global. Dari target kuota nasional sebanyak 40.000 peserta, Kalsel hanya mampu menyerap sekitar 200 peserta pada tahun ini. Menurutnya, angka tersebut sangat memprihatinkan dan tidak mencerminkan potensi besar generasi muda di daerah.
“Capaian 200 peserta ini amat memprihatinkan dan tidak mencerminkan potensi besar generasi muda di Kalimantan Selatan. Pemerintah daerah harus segera menyelesaikan jurang ketimpangan penyerapan kuota kerja ini,” ujar politikus PDI Perjuangan tersebut.
Selain minimnya partisipasi, ia juga menyoroti kendala utama di tingkat lokal, yakni kualitas Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang mayoritas belum memenuhi standar kualifikasi internasional. Kurangnya fasilitas pendukung seperti asrama serta minimnya standar instruktur membuat LPK lokal kesulitan memantau kedisiplinan dan meningkatkan kompetensi peserta didik.
Oleh karena itu, Edy mendesak Pemda Kalsel untuk mengalokasikan anggaran khusus guna membina LPK, meningkatkan mutu sarana dan prasarana, serta memperkuat akreditasi lembaga pelatihan. Ia juga mendorong sinergi lintas sektor dengan melibatkan Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah dan perguruan tinggi setempat.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
Tidak hanya fokus pada pasar luar negeri, Edy turut mengevaluasi pelaksanaan pemagangan dalam negeri. Ia meminta pemda merombak total arah kebijakan pemagangan agar benar-benar berbasis kebutuhan riil dunia usaha melalui penerapan konsep link and match antara dunia pendidikan dan industri.
“Tolok ukur keberhasilan magang terletak pada penyerapan kerja. Program ini tidak boleh berjalan sebagai kegiatan seremoni tanpa kejelasan masa depan peserta,” tegasnya.
Menutup evaluasinya, Edy mengingatkan pemda agar menjamin keselamatan dan perlindungan bagi pekerja migran asal Kalsel. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat sejak tahap awal melalui Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) guna mencegah kasus penipuan dan perdagangan orang.

















































































