Medan, Gesuri.id – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan menegaskan perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh.
Justru dari perbedaan itulah lahir perjumpaan, kebersamaan, dan keharmonisan yang menjadi wajah ruang kebhinnekaan Indonesia.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Sofyan saat menjadi pembicara dalam acara bedah buku Tionghoa Medan: Merajut Kebhinnekaan dalam Keharmonisan Berbangsa karya Dr. Mariana Makmur, M.A. Acara ini diselenggarakan oleh Program Studi Bahasa Mandarin, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, pada Rabu (6/8).
Sofyan Tan menegaskan bahwa buku tersebut tidak hanya mengulas masyarakat Tionghoa di Medan, tetapi juga memotret potret besar Indonesia. Perjalanan masyarakat Tionghoa merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa dalam merawat perbedaan tanpa harus kehilangan identitas budaya.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo

"Keberagaman bukanlah masalah yang harus diselesaikan, melainkan modal sosial yang harus dikelola," ujar legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara 1 tersebut.
Ia juga menjuluki Kota Medan sebagai "laboratorium kebhinnekaan". Berbagai suku seperti Melayu, Batak, Jawa, India, Aceh, hingga Tionghoa telah lama saling berinteraksi dan membentuk karakter khas kota tersebut.
Menurut Sofyan Tan, kebudayaan pada dasarnya tidak mengenal sekatan atau "pagar". Unsur budaya Tionghoa telah melebur dalam keseharian masyarakat Indonesia, mulai dari kuliner hingga busana. Kehadiran bakmi, tauco, siomay, angpau, istilah cincai, hingga pakaian seperti baju koko dan kebaya encim menjadi bukti nyata proses pembauran tersebut.
"Budaya itu saling meminjam dan saling memperkaya," tuturnya.
Selain itu, ia mengapresiasi karya ini karena dinilai berhasil meruntuhkan stereotip negatif. Menurutnya, kontribusi masyarakat Tionghoa tidak boleh hanya dilihat dari aspek ekonomi semata, tetapi juga dari bidang pendidikan, sosial, filantropi, politik, dan seni.
Ia pun mengingatkan bahwa masalah kemiskinan tidak memandang suku ataupun agama. Oleh karena itu, anggapan bahwa seluruh warga etnis Tionghoa hidup berkecukupan adalah pandangan yang keliru.
"Mengenal budaya lain adalah cara paling sederhana untuk mengikis prasangka. Ketika kita mengenal, kita akan memahami. Ketika kita memahami, akan tumbuh rasa saling menghargai," tambahnya.
Sofyan Tan berharap pembahasan buku ini dapat terus dikembangkan dengan melibatkan perspektif generasi muda serta tantangan modern, seperti digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), globalisasi, dan perkembangan UMKM.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur

"Indonesia lahir bukan karena semua orang memiliki identitas yang sama, melainkan karena kita sepakat untuk hidup bersama dalam perbedaan," pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, penulis buku sekaligus antropolog Sumatra Utara, Dr. Mariana Makmur, M.A., menjelaskan bahwa buku ini diangkat dari riset disertasinya. Ia tergerak menulis karya ini untuk meluruskan stigma negatif yang sering melekat pada masyarakat Tionghoa Medan—seperti kesan eksklusif, tidak mau membaur, hingga culas.
"Melalui buku ini, saya ingin membongkar pandangan keliru tersebut dan memperlihatkan bahwa kebudayaan Tionghoa kini sangat terbuka serta telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang berbhinneka," jelas Mariana.
Tak hanya dari sisi budaya, buku ini juga mengulas prinsip ekonomi dan strategi bisnis etnis Tionghoa yang relevan dijadikan inspirasi bagi para pelaku usaha.

















































































