Medan, Gesuri.id — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, menegaskan betapa krusialnya peran fotografi dalam merawat keberagaman serta menjaga identitas kebudayaan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikannya dalam acara Semarak Budaya bertajuk "Dalam Satu Bingkai Kebhinnekaan, Ketika Fotografi Bercerita Tentang Indonesia" yang berlangsung di Aula Gedung Anjungan Melayu, Jalan Setiabudi, Tanjung Rejo, Medan, Rabu (23/9).
Kegiatan ini diselenggarakan atas kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Komisi X DPR RI, dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan, dengan menghadirkan puluhan peserta dari kalangan fotografer serta jurnalis foto se-Kota Medan.
Dalam pemaparannya, Sofyan Tan menyoroti betapa pluralnya bangsa Indonesia. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mendiami 1.340 suku bangsa. Sementara itu, Badan Bahasa mencatat ada sekitar 729 bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok nusantara.
Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Keanekaragaman ini melahirkan kekayaan budaya yang begitu melimpah, mulai dari pakaian adat, tradisi, hingga kekayaan kuliner.
Ia sempat membandingkan kekayaan kuliner Indonesia dengan negara tetangga seperti Thailand yang begitu tersohor dengan satu hidangan khasnya, Tom Yum. Berbeda dengan Thailand, Indonesia memiliki variasi hidangan yang sangat kaya, seperti beragam jenis nasi goreng hingga ratusan varian soto.
Menurutnya, kekayaan tradisi dan budaya yang melimpah ini wajib didokumentasikan secara nyata sebagai arsip visual kebudayaan.
"Fotografi adalah arsip visual kebudayaan yang mampu merekam seluruh aktivitas kehidupan tradisi. Foto bukan sekadar ingatan, melainkan wujud nyata yang mengabadikan adat istiadat, busana, hingga gerak tari daerah," ujar legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Sumut 1 tersebut.
Selain menjadi rekam jejak sejarah, Sofyan Tan membeberkan tiga fungsi vital fotografi lainnya:
- Cermin pembentuk identitas bangsa.
- Alat pendidikan dan diplomasi budaya.
- Media kritik sosial yang konstruktif.
Ia menambahkan, sebuah foto mampu menyampaikan pesan moral dan nilai kebersamaan antarsuku tanpa perlu untaian kata. Bahkan lewat momen bencana atau ketidakadilan sosial, bidikan kamera bisa menjadi kontrol sosial yang kuat.
Meski begitu, Sofyan Tan tidak menampik tantangan besar yang membayangi dunia fotografi saat ini, yakni pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Ia mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 83 persen fotografer memanfaatkan teknologi AI dalam karya-karya mereka.
Baca: Inilah Profil dan Biodata Ganjar Pranowo
Tantangan etika dan persoalan plagiarisme akibat disrupsi AI ini sejatinya tidak hanya menerpa bidang fotografi, tetapi juga profesi lain seperti dokter hingga akademisi.
Oleh karena itu, ia berpesan agar para praktisi fotografi tidak hanyut dalam arus teknologi hingga kehilangan sentuhan keaslian (authenticity). Inovasi memang perlu, tetapi esensi kemanusiaan dalam sebuah karya fotografi harus tetap dipertahankan.
"Teknologi AI tidak memiliki perasaan, sedangkan manusia memilikinya. Saat seorang fotografer membidik objek, seluruh jiwanya mengalir ke sana. Walau bidikan kamera hanya berlangsung sepersekian detik, ia mampu meninggalkan kesan sepanjang zaman dan bahkan sanggup memengaruhi kebijakan suatu negara," pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PFI Medan Risky Cahyadi, fotografer senior Dr. Irsan Mulyadi, M.I.Kom. sebagai narasumber, serta jajaran Tenaga Ahli DPR RI yakni Finche Kosmanto, Lisnawati Ginting, dan Padapotan Tamba.

















































































