Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Prof. sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Rokhmin Dahuri, M.S., memaparkan tujuh solusi berbasis Al-Qur’an dan Hadis untuk menjawab berbagai krisis yang dihadapi manusia modern, mulai dari gangguan kesehatan mental, dekadensi moral, pengangguran, kemiskinan, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, konflik geopolitik, hingga persoalan kepemimpinan.
“Ini paradoks. Petani dan nelayan yang memberi makan bangsa, upahnya paling rendah,” tegas Prof. Rokhmin.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Ngaji Bareng Online (NBO) #1759 yang diselenggarakan Human Studies Institute (HSI), Minggu (18/10/2026). Dalam kegiatan bertema “Islam Satu-Satunya Solusi Permasalahan Kehidupan Manusia” itu, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 tersebut menguraikan berbagai persoalan dari tingkat individu hingga global, sekaligus menawarkan solusi berdasarkan nilai-nilai Islam.
Menurut Prof. Rokhmin, salah satu persoalan yang banyak dihadapi manusia modern adalah gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, kegelisahan, stres, frustrasi, hingga kecenderungan bunuh diri. Ia menjelaskan, Al-Qur’an memberikan tuntunan agar manusia mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh ketenteraman hati.
Hal tersebut merujuk pada Q.S. Ar-Ra’d ayat 28 yang menjelaskan bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Nilai spiritual tersebut, menurutnya, dapat menjadi landasan bagi manusia dalam menghadapi tekanan kehidupan.
Persoalan kedua adalah dekadensi moral yang tercermin dalam berbagai perilaku menyimpang, seperti penyalahgunaan narkoba, seks bebas, korupsi, dan intoleransi. Untuk mengatasinya, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya memperkuat iman dan takwa (IMTAQ) sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Ia merujuk pada Q.S. Ali ‘Imran ayat 131 dan 133 yang memuat peringatan terhadap perbuatan yang membawa manusia pada keburukan serta seruan untuk bersegera meraih ampunan dan surga Allah.
Memasuki persoalan sosial dan ekonomi, Prof. Rokhmin menyoroti pengangguran dan kemiskinan yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, berikhtiar, bertawakal, serta mengoptimalkan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) guna membantu masyarakat yang membutuhkan.
Prinsip tersebut, antara lain, merujuk pada Q.S. Al-Insyirah ayat 7–8 dan Q.S. Al-Jumu’ah ayat 10 yang mengajarkan pentingnya berusaha dan tetap mengingat Allah dalam menjalani kehidupan.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin membandingkan angka kemiskinan berdasarkan dua pendekatan pengukuran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang dikutipnya, garis kemiskinan tercatat sekitar Rp650.000 per orang per bulan, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 25,20 juta orang atau 8,47 persen.
Sementara itu, berdasarkan standar Bank Dunia sebesar US$6,85 per hari yang dicantumkan dalam paparannya, jumlah penduduk Indonesia yang masuk kategori miskin mencapai sekitar 172 juta orang atau 60,3 persen dari total penduduk. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka kemiskinan sangat dipengaruhi oleh garis dan metodologi pengukuran yang digunakan.
Persoalan berikutnya adalah kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin. Menurut Prof. Rokhmin, kesenjangan sosial dapat diperparah oleh perilaku menumpuk harta tanpa kepedulian terhadap sesama.
Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan pesan dalam Q.S. Al-Humazah ayat 2–3 dan Q.S. At-Takatsur ayat 1–2, yang mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam keserakahan dan kebanggaan terhadap kekayaan. Sebagai jalan keluar, ia mendorong umat Islam memperbanyak infak dan membantu masyarakat yang membutuhkan, sejalan dengan ajaran hadis riwayat Bukhari yang disinggungnya.
Pada aspek lingkungan, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa kerusakan alam dan pemanasan global merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Ia merujuk pada Q.S. Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menerapkan nilai-nilai Islam dalam menjaga kelestarian alam. Pesan tersebut juga sejalan dengan Q.S. Al-Qasas ayat 77 yang melarang manusia berbuat kerusakan di bumi.
Selain persoalan lingkungan, Prof. Rokhmin menyoroti kondisi geopolitik dunia yang diwarnai konflik dan peperangan. Menurutnya, Islam mengajarkan prinsip etika dalam peperangan serta melarang tindakan yang melampaui batas.
Ia merujuk pada Q.S. Al-Baqarah ayat 190 sebagai landasan mengenai larangan melampaui batas dalam peperangan. Prinsip tersebut, menurutnya, relevan untuk mendorong penyelesaian konflik yang lebih beretika dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.
Persoalan ketujuh yang disorotinya adalah kepemimpinan yang tidak amanah dan tindakan zalim. Prof. Rokhmin menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan iman, takwa, keadilan, serta tanggung jawab terhadap masyarakat.
Dalam paparannya, ia mengaitkan persoalan kepemimpinan dengan Q.S. Al-Ma’idah ayat 51 dan Q.S. Al-A’raf ayat 96, yang menurutnya mengandung pelajaran mengenai pentingnya keimanan dan ketakwaan serta kaitannya dengan keberkahan kehidupan suatu negeri.
Selain memaparkan persoalan kemiskinan dan kesenjangan, Prof. Rokhmin menyoroti rendahnya upah pekerja, terutama mereka yang bekerja di sektor pangan. Berdasarkan data upah buruh nasional Agustus 2025 yang disampaikannya, rata-rata upah buruh tercatat sebesar Rp3,09 juta per bulan.
Sementara itu, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memiliki rata-rata upah sebesar Rp2.540.158 per bulan. Angka tersebut menempatkan sektor itu sebagai salah satu sektor dengan tingkat upah terendah secara nasional.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena petani dan nelayan memiliki peran penting dalam menyediakan kebutuhan pangan masyarakat. Menurut Prof. Rokhmin, kesejahteraan para pekerja di sektor pangan perlu menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan nasional.
Ia juga menyinggung posisi Indonesia dalam pembangunan ekonomi global. Berdasarkan data GNI per kapita 2026 versi Bank Dunia yang dipaparkannya, pendapatan nasional bruto per kapita Indonesia tercatat sebesar US$5.120. Angka tersebut masih berada di bawah Malaysia yang mencapai US$12.380, Tiongkok sebesar US$14.230, dan Singapura sebesar US$81.760.
Menurut Prof. Rokhmin, berbagai persoalan tersebut menunjukkan pentingnya pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keadilan sosial, kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan kualitas kepemimpinan.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis dapat menjadi pedoman dalam menjawab berbagai tantangan tersebut. Melalui penguatan spiritualitas, perbaikan moral, kerja keras, kepedulian sosial, perlindungan lingkungan, etika dalam konflik, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab, ia mengajak masyarakat menjadikan ajaran Islam sebagai landasan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan.

















































































