Ikuti Kami

Ketika Anak Muda Mulai Memilih Pekerjaan yang Menyelamatkan Masa Depan

Ketika ditanya tentang pekerjaan masa depan, sebagian tidak lagi hanya memikirkan gaji, jabatan, atau nama besar perusahaan.

Ketika Anak Muda Mulai Memilih Pekerjaan yang Menyelamatkan Masa Depan
Bupati Trenggalek Luncurkan Program Sangu Sampah - Foto: Netrawarga.com

ADA perubahan kecil yang diam-diam tumbuh di kalangan anak muda. Ketika ditanya tentang pekerjaan masa depan, sebagian tidak lagi hanya memikirkan gaji, jabatan, atau nama besar perusahaan.

Mereka mulai bertanya lebih jauh tentang dampak pekerjaannya. Apakah pekerjaan itu memberi manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan kehidupan generasi setelah mereka?

Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika krisis iklim mulai hadir dalam kehidupan sehari-hari. Cuaca berubah, suhu meningkat, bencana ekologis datang lebih sering, sementara biaya untuk beradaptasi semakin besar.

Di tengah situasi itu, muncul istilah yang semakin sering terdengar: green jobs. Pekerjaan hijau bukan sekadar pekerjaan yang dilakukan di tengah hutan atau berkaitan langsung dengan lingkungan.

Spektrumnya jauh lebih luas. Energi terbarukan, transportasi berkelanjutan, pengelolaan sampah, pertanian ramah lingkungan, teknologi bersih, konstruksi hijau, hingga ekonomi sirkular menjadi bagian dari ekosistem pekerjaan tersebut.

Menariknya, minat generasi muda terhadap sektor ini mulai terlihat kuat. Sejumlah survei menunjukkan sekitar tujuh dari sepuluh anak muda memiliki ketertarikan terhadap peluang pekerjaan hijau.

Survei Yayasan Indonesia CERAH bersama Suara Mahasiswa UI, misalnya, menemukan 71 persen mahasiswa melihat green jobs sebagai peluang menarik bagi anak muda. Temuan tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan mulai masuk ke dalam pertimbangan mengenai masa depan karier.

Lebih jauh, studi Koaksi Indonesia pada 2024 menemukan 76 persen responden muda tertarik bekerja di sektor hijau setelah memperoleh pemahaman tentang konsep green jobs. Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan dapat mengubah cara anak muda melihat peluang pekerjaan.

Di sini persoalannya menjadi menarik. Generasi muda tidak selalu kekurangan minat, tetapi sering kali kekurangan informasi tentang bagaimana minat tersebut diterjemahkan menjadi profesi.

Seorang mahasiswa mungkin tertarik energi bersih, tetapi belum mengetahui profesi apa yang tersedia. Anak muda lain mungkin peduli persoalan sampah, tetapi belum melihat bahwa keahliannya dapat menjadi bagian dari industri ekonomi sirkular.

Karena itu, pembicaraan mengenai green jobs tidak boleh berhenti pada jargon. Kita membutuhkan ekosistem yang mempertemukan pendidikan, keterampilan, industri, teknologi, dan kebutuhan tenaga kerja.

Sekolah dan kampus memiliki peran penting dalam perubahan tersebut. Pendidikan masa depan tidak cukup hanya menyiapkan lulusan agar diterima perusahaan, tetapi juga membekali mereka untuk menghadapi perubahan struktur ekonomi.

Dunia usaha pun harus ikut bergerak. Transformasi hijau membutuhkan tenaga kerja baru yang memahami teknologi, data, energi, lingkungan, sekaligus memiliki kemampuan bekerja lintas disiplin.

Di sinilah anak muda sebenarnya memiliki keunggulan tersendiri. Mereka tumbuh dalam era ketika teknologi digital, perubahan iklim, dan inovasi berlangsung secara bersamaan.

Seorang anak muda dapat menjadi pengembang aplikasi pemantauan kualitas udara. Yang lain dapat membangun bisnis pengolahan limbah, mengembangkan teknologi pertanian presisi, atau menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien.

Dengan demikian, green jobs bukan hanya tentang menyelamatkan lingkungan. Ia juga tentang menciptakan jenis pekerjaan baru yang sesuai dengan perubahan ekonomi.

Ada dimensi lain yang tak kalah penting: kualitas pekerjaan. Pekerjaan hijau harus tetap menawarkan penghidupan yang layak, perlindungan pekerja, kesempatan berkembang, dan kepastian karier.

Jangan sampai istilah hijau hanya menjadi label baru bagi pekerjaan lama. Transisi menuju ekonomi rendah karbon harus sekaligus menjadi transisi menuju pekerjaan yang lebih berkualitas dan inklusif.

Bagi generasi muda, inilah kesempatan untuk mendefinisikan ulang keberhasilan. Karier tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa tinggi seseorang naik dalam struktur organisasi, tetapi juga dari seberapa besar pekerjaannya memberi manfaat.

Pilihan itu pada akhirnya akan memengaruhi arah ekonomi. Ketika semakin banyak anak muda memilih perusahaan, profesi, dan usaha yang memperhatikan keberlanjutan, pasar pun perlahan dipaksa mengikuti perubahan tersebut.

Karena itu, angka sekitar 70 persen tersebut seharusnya dibaca bukan sekadar sebagai statistik. Ia adalah sinyal bahwa sebagian generasi muda sedang mencari masa depan kerja yang berbeda.

Mereka tidak hanya ingin bekerja untuk bertahan hidup. Mereka juga ingin pekerjaan yang terasa memiliki makna.

Di situlah green jobs menemukan relevansinya. Ia mempertemukan dua kebutuhan yang selama ini sering dianggap berseberangan: kebutuhan manusia untuk memperoleh penghidupan dan kebutuhan bumi untuk tetap dirawat.

Masa depan pekerjaan akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang profesi apa yang akan hilang karena teknologi. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah profesi apa yang akan tumbuh karena manusia semakin sadar bahwa bumi memiliki batas.

Dan mungkin, dari sanalah perubahan besar itu dimulai. Bukan dari ruang konferensi, bukan dari slogan, melainkan dari keputusan seorang anak muda ketika memilih pekerjaan yang sekaligus memberi penghidupan dan menjaga masa depan.

Quote