Ikuti Kami

Merah Muda Lestari & Merah Muda Berdaulat: Ketika Anak Muda Menjaga Tanah Air

Gagasan Merah Muda Lestari berangkat dari kesadaran sederhana: tanah air tidak cukup hanya dicintai dalam pidato.

Merah Muda Lestari & Merah Muda Berdaulat: Ketika Anak Muda Menjaga Tanah Air
Ilustrasi anak muda cinta Tanah Air - Foto: Pexels/Yaomil Akbar

PAGI belum terlalu tinggi ketika sekelompok anak muda mulai menanam bibit. Tangan mereka kotor oleh tanah, tetapi percakapan bergerak jauh melampaui kebun kecil itu.

Mereka bicara tentang perubahan iklim, pekerjaan masa depan, pangan lokal, energi bersih, hingga bagaimana desa dapat menciptakan penghidupan baru. Bagi mereka, menjaga lingkungan bukan sekadar kampanye, melainkan bagian dari cara membangun masa depan.

Di tengah perubahan itu, muncul generasi muda yang melihat isu ekologis sebagai ruang perjuangan. Mereka tidak hanya menyuarakan krisis iklim, tetapi mulai menghubungkannya dengan pekerjaan, ekonomi lokal, dan kedaulatan pangan.

Gagasan Merah Muda Lestari berangkat dari kesadaran sederhana: tanah air tidak cukup hanya dicintai dalam pidato. Tanah, air, hutan, laut, dan pangan harus dijaga melalui tindakan yang membuat kehidupan masyarakat tetap berlangsung.

Sementara Merah Muda Berdaulat membawa pertanyaan yang lebih mendasar. Apa arti kedaulatan jika meja makan masyarakat masih terlalu bergantung pada sedikit pilihan pangan?

Data BPS menunjukkan beras memang masih menjadi bagian dominan dalam pola konsumsi pangan. Pada 2024, rata-rata konsumsi beras lokal/ketan mencapai sekitar 1,521 kilogram per kapita per minggu, jauh di atas singkong 0,090 kilogram dan ubi jalar 0,057 kilogram.

Angka itu bukan alasan untuk meninggalkan beras. Justru sebaliknya, ia menunjukkan pentingnya memperluas pilihan pangan agar kekayaan hayati Nusantara kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Badan Pangan Nasional mencatat Indonesia memiliki beragam sumber karbohidrat lokal. Jagung, sagu, sorgum, talas, ubi jalar, ubi kayu, pisang, porang, dan sukun merupakan bagian dari kekayaan pangan yang dapat dikembangkan.

Di banyak daerah, pangan tersebut bukan barang baru. Ia pernah menjadi bagian dari tradisi, kebun keluarga, pasar lokal, bahkan menu sehari-hari sebelum pola konsumsi semakin seragam.

Karena itu, diversifikasi pangan sesungguhnya bukan sekadar mengganti nasi dengan singkong. Ia adalah upaya menghidupkan kembali pengetahuan, budaya, petani, UMKM, teknologi pengolahan, dan ekonomi lokal.

Di titik inilah anak muda memiliki ruang yang sangat luas. Mereka dapat mengubah singkong menjadi produk pangan modern, mengembangkan bisnis sagu, menciptakan rantai pasok lokal, atau memanfaatkan teknologi untuk mempertemukan petani dengan pasar.

Hal serupa terjadi dalam dunia pekerjaan. Perubahan menuju ekonomi hijau membuka ruang baru bagi generasi yang tumbuh dengan kesadaran terhadap krisis iklim.

Survei Yayasan Indonesia CERAH dan Suara Mahasiswa UI menemukan 71 persen mahasiswa menganggap green jobs memberikan peluang menarik bagi anak muda. Sebanyak 99 persen responden juga menilai krisis iklim merupakan persoalan serius yang membutuhkan penanganan segera.

Studi Koaksi Indonesia pada 2024 bahkan menemukan 76 persen responden muda tertarik bekerja di sektor hijau setelah memperoleh pemahaman lebih jelas mengenai green jobs. Namun, tantangannya juga nyata karena 52 persen responden masih ragu, kurang memahami, atau tidak memahami konsep tersebut.

Artinya, persoalannya bukan semata kekurangan minat. Tantangan berikutnya adalah menciptakan pendidikan, keterampilan, ekosistem usaha, dan kebijakan yang mampu mengubah minat tersebut menjadi penghidupan yang nyata.

Pemerintah sendiri mulai menempatkan green jobs dalam agenda transformasi ekonomi. Bappenas pada 2026 mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan generasi muda untuk mempercepat pengembangan pekerjaan hijau yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

Ruang seperti ini semestinya juga menjadi ruang politik anak muda. Politik tidak cukup hanya berbicara tentang siapa yang berkuasa, tetapi juga bagaimana kekuasaan digunakan untuk menciptakan pekerjaan, melindungi lingkungan, dan memastikan pangan tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Bagi kader muda PDI Perjuangan, isu tersebut dapat menjadi arena pengabdian yang konkret. Politik dapat turun dari panggung pidato menuju kebun komunitas, desa pangan, ekonomi sirkular, kewirausahaan hijau, konservasi sungai, dan inovasi energi bersih.

Di sinilah konsep Eco-Sovereignty & Sustainable Livelihood mendapatkan maknanya. Kedaulatan ekologis berarti menjaga sumber daya alam, sementara penghidupan berkelanjutan memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa menghancurkan sumber kehidupan.

Semangat “bertanah air satu” yang diwariskan Sumpah Pemuda pun menemukan tafsir baru. Bertanah air satu berarti memiliki tanggung jawab bersama menjaga tanah, air, pangan, dan lingkungan yang menjadi rumah bagi seluruh generasi.

Pada akhirnya, Merah Muda Lestari bukan hanya tentang menanam pohon. Ia tentang menciptakan masa depan ketika menjaga alam dapat menjadi pekerjaan, pangan lokal menjadi kebanggaan, petani menjadi bagian dari ekonomi modern, dan teknologi menjadi alat memperkuat masyarakat.

Merah Muda Berdaulat juga bukan sekadar tentang swasembada. Ia adalah keberanian membangun pilihan, memperkuat produksi lokal, menghidupkan kembali pengetahuan pangan Nusantara, dan memastikan anak muda memiliki alasan untuk tinggal serta berkarya di daerahnya.

Jika politik mampu membuka ruang bagi gagasan-gagasan semacam itu, anak muda tidak lagi sekadar menjadi objek kampanye. Mereka menjadi subjek yang merancang masa depan—menjaga bumi, menciptakan pekerjaan, mengembangkan pangan, dan merawat Indonesia dari tingkat paling dekat: tanah tempat mereka berpijak.

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote