Ikuti Kami

Peran Mohammad Yamin dalam Sumpah Pemuda dan Kemerdekaan Indonesia

Yamin kembali memainkan peran penting dalam Kongres Pemuda II yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada 27–28 Oktober 1928.

Peran Mohammad Yamin dalam Sumpah Pemuda dan Kemerdekaan Indonesia
Ilustrasi film dokumenter "YAMIN" (ANTARA/HO)

Jakarta, Gesuri.id - Nama Mohammad Yamin tak bisa dipisahkan dari sejarah lahirnya Sumpah Pemuda dan perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia. Pemikirannya tentang persatuan bangsa, bahasa nasional, dan dasar negara menjadi fondasi penting dalam perjalanan kebangsaan.

Yamin lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 2 Agustus 1903. Setelah menamatkan pendidikan di HIS Palembang dan AMS Solo, ia melanjutkan studi hukum di Rechtshoogeschool te Batavia (cikal bakal Fakultas Hukum Universitas Indonesia) dan lulus pada 1932 dengan gelar Master in de Rechten.

Sejak muda, Yamin aktif dalam pergerakan pemuda dan kebangsaan. Ia bergabung dengan Jong Sumatranen Bond dan dikenal sebagai tokoh yang mendorong ide persatuan Indonesia di atas perbedaan suku dan daerah.

Penggagas Bahasa Persatuan di Kongres Pemuda I

Dalam Kongres Pemuda I yang digelar pada 30 April–2 Mei 1926, Yamin tampil sebagai salah satu tokoh penting. Ia menyampaikan pidato berjudul “Kemungkinan Perkembangan Bahasa-bahasa dan Kesusasteraan Indonesia di Masa Mendatang.”

Di forum itu, Yamin mengemukakan pentingnya bahasa persatuan yang dapat menyatukan berbagai kelompok etnis di Indonesia. Ia menyebut dua bahasa yang berpotensi dijadikan bahasa nasional: Jawa dan Melayu, karena memiliki jumlah penutur besar dan sudah menjadi bahasa pergaulan antardaerah.

Namun, gagasan tersebut belum mendapat kesepakatan bulat. Perdebatan justru melahirkan ide baru dari Mohammad Tabrani yang menyarankan agar bahasa nasional diberi nama “Bahasa Indonesia” — sebuah pandangan yang kelak diabadikan dalam Sumpah Pemuda.

Perumus Naskah Sumpah Pemuda

Dua tahun kemudian, Yamin kembali memainkan peran penting dalam Kongres Pemuda II yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada 27–28 Oktober 1928. Ia duduk sebagai Sekretaris Kongres, mendampingi Sugondo Djojopuspito sebagai ketua.

Pada rapat pertama di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Yamin menyampaikan pidato bertajuk “Dari Hal Persatuan dan Kebangsaan Indonesia.” Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa persatuan Indonesia didasari oleh lima hal utama: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

“Persatuan bangsa Indonesia akan kekal karena mempunyai dasar yang kuat — persamaan kultur, bahasa, dan hukum adat. Satu bangsa yang bersatu karena rohnya kuat,” ujarnya kala itu.

Di penghujung kongres, 28 Oktober 1928, Yamin turut merumuskan naskah Sumpah Pemuda yang dibacakan di Gedung Indonesische Clubgebouw. Naskah itu berisi tiga ikrar monumental:

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

 

Pemikir Serba Bisa dan Pejuang Kemerdekaan

Selain aktif dalam gerakan pemuda, Yamin juga dikenal sebagai penyair, sejarawan, ahli hukum, dan politisi. Karya puisinya seperti “Tanah Air” (1922) dan “Indonesia Tumpah Darahku” (1928) menegaskan gagasannya tentang cinta tanah air dan persatuan bangsa.

Dalam sidang BPUPKI, Yamin menjadi salah satu tokoh penting yang merumuskan dasar negara bersama Soekarno dan Soepomo. Ia bahkan mengusulkan agar Mahkamah Agung diberi kewenangan menguji undang-undang terhadap UUD — gagasan yang baru terwujud puluhan tahun kemudian lewat Mahkamah Konstitusi.

Setelah kemerdekaan, Yamin dipercaya memegang berbagai jabatan penting: Menteri Kehakiman, Menteri Pendidikan, Menteri Sosial, Menteri Penerangan, hingga Ketua Dewan Perancang Nasional.

Mohammad Yamin wafat pada 17 Oktober 1962 saat menjabat sebagai Menteri Penerangan di Kabinet Kerja III Presiden Soekarno. Atas jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1973.

Warisan Pemikiran

Mohammad Yamin dikenang sebagai pemikir kebangsaan visioner. Ia percaya bahwa persatuan hanya bisa tumbuh di atas kesadaran sejarah dan bahasa bersama. Dari gagasannya lahir bahasa pemersatu — Bahasa Indonesia — yang hingga kini menjadi simbol kuat identitas bangsa.

*Tulisan ini merupakan rangkaian kegiatan Merah Muda Fest 2025 untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda 2025 yang akan diselenggarakan Selasa 28 Oktober 2025 di Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan Jakarta dan Sabtu 1 November 2025 di GOR Among Rogo Yogyakarta

Quote