Sleman, Gesuri.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman kembali menggelar prosesi sakral upacara adat Jamasan Pusaka Tombak Kyai Turunsih, Senin (13/7).
Ritual penyucian yang berlangsung khidmat di Pendopo Parasamya Kabupaten Sleman ini dipimpin langsung oleh para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.
Ritual jamasan ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap bulan Suro dalam kalender Jawa, atau bulan Muharam dalam penanggalan Islam. Selain sebagai bentuk pemeliharaan fisik, jamasan ini bertujuan untuk menyucikan dan merawat nilai-nilai spiritual yang terkandung pada pusaka daerah tersebut.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Sebagai informasi, Tombak Kyai Turunsih merupakan pusaka resmi milik Pemkab Sleman. Pusaka bersejarah ini diberikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai petenger (penanda) sekaligus hadiah pada peringatan Hari Jadi ke-83 Kabupaten Sleman pada 15 Mei 1999 silam.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, beserta jajaran pejabat di lingkungan Pemkab Sleman turut hadir menyaksikan langsung jalannya prosesi.
Danang menegaskan bahwa upacara jamasan ini adalah wujud nyata pelestarian warisan budaya takbenda sekaligus penghormatan terhadap benda pusaka yang memiliki tempat khusus di hati masyarakat Sleman.
"Terima kasih kepada para abdi dalem dan semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan jamasan pusaka ini. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan dan kemudahan dalam menjalankan tugas demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sleman," ujar Danang.
Lebih dari sekadar senjata tradisional, Tombak Kyai Turunsih sarat akan makna filosofis yang mendalam bagi roda pemerintahan dan masyarakat Sleman:
- Makna "Turunsih": Nama ini berarti "turunnya rasa kasih sayang" atau simbol welas asih.
Filosofi ini menjadi pengingat bagi para pemimpin dan warga Sleman untuk selalu mengedepankan empati, saling mengasihi, dan menjaga kerukunan sesama.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
- Pamor "Beras Wutah": Pusaka ini memiliki pamor Beras Wutah (beras tumpah), yang melambangkan kemakmuran.
Pamor ini menegaskan identitas Kabupaten Sleman sebagai lumbung pangan utama di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang harus senantiasa dijaga kelestarian agrarisnya.
Dengan terlaksananya jamasan ini, Pemkab Sleman berharap nilai-nilai luhur yang diwariskan lewat sebilah tombak tersebut dapat terus hidup dan menjadi spirit pembangunan daerah yang harmonis serta sejahtera.

















































































