Ikuti Kami

Surat Islam Dari Ende, 15 September 1935

Di dalam surat ini BungKarno mengartikannya, ‘Tidak memegang kepada pokok-pembicaraan saja.”

Surat Islam Dari Ende, 15 September 1935
Ir. Soekarno (Bung Karno)

Assalamu'alaikum,

Paket pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Ende
semuamembilang banyak terima kasih atas
potongan 50% yang tuanizinkan itu. Kawan-kawan 
semua bergirang, dan mereka adamaksud lain kali
akan memesan buku-buku lagi, insya Allah.

Saya sendiripun tak kurang-kurang berterima kasih,
mendapat hadiah lagi beberapa brochures. Isinya
brochure Congress Palestina itu, tak mampu 
menangkap "centre need of lslam".

Di Palestina orang tak lepas dari conventionalism,
tak cukup kemampuan buat mengadakan
perubahan yang radikal di dalam aliran yang
nyata membawa Islam kepada kemunduran.

Juga pimpinan kongres itu ada "ruwet", orang seperti
tidak tahu apa yang dirapatkan, bagaimana caranya
teknik kongres. Program kongres yang terang dan
nyata rupanya tak ada. Orang tidak zakelijk, dan saja
kira di kongres itu, orang terlalu "meniup pantat
satu sama lain", terlalu "Caressing each other",
terlalu "mekaar lekker maken". Memang begitulah
gambarnya dunia Islam sekarang ini:

Baca Juga: Surat Islam Dari Ende, 17 Juli 1935

kurang Roh yang nyata, kurang Tenaga yang Wujud,
terlalu "bedak membedaki satu sama lain", terlalu
membanggakan sesuatu negeri Islam yang ada
sedikit berkemajuan, orang Islam biasanya sudah
bangga kepada "Mesir" dan "Turki"! terlalu
mengutamakan pulasan-pulasan yang 
sebenarnya tiada tenaga!!!

Brochures yang lain-lain sedang saya baca, Insya Allah
nanti akan saya ceriterakan kepada tuan saya punya
pendapat tentang brochure-brochure itu. Terutama
brochure-nya tuan A. D. Hasnie saya perhatikan betul.
Buat sekarang ini, sesudah saya baca brochure Hasnie 
itu secara sambal lalu, maka bisalah sudah saya
katakan, bahwa cara pemerintahan Islam" yang
diterangkan di situ itu, tidaklah memuaskan saya, 
karena kurang "up to date". Begitukah hukum
kenegaraan Islam? Tuan A. D.

Hasnie menerangkan, bahwa demokrasi parlementer itu,
cita-cita Islam. Tetapi sudahkah demokrasi parlementer
itu menyelamatkan dunia? Memang sudah satu
anggapan-tua, bahwa demokrasi parlementer itu
puncaknya ideal cara-pemerintahan. Juga Moh. AR,
di dalam ia punya tafsir Qur'an yang terkenal,
mengatakan bahwa itulah idealnya Islam. Padahal
ada cara pemerintahan yang lebih sempurna lagi,
yang juga bisa dikatakan  cocok dengan
azas-azasnya Islam!

Brochure almarhum H. Fachroeddin akan berfaedah
pula bagi saya, karena saya sendiripun banyak
bertukaran fikiran dengan kaum pastoor di Endeh. 
Tuan tahu, bahwa pulau Flores itu ada "pulau missi"
yang mereka sangat banggakan.  Dan memang
"pantas" mereka membanggakan mereka punya
pekerjaan di Flores itu. Saya sendiri melihat,
bagaimana mereka "bekerja mati-matian" buat
mengembangkan mereka punya agama di Flores. 

Baca Juga: Surat Islam Dari Ende: Oetusan Wahabi

Saya ada "respect" buat mereka punya kesukaan
bekerja itu. Kita banyak mencela missi, tapi apakah
yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam
dan memperkokoh agama Islam? Bahwa missi
mengembangkan roomskatholicisme , itu adalah
mereka punya "hak", yang kita tak boleh cela dan
gerutui. Tapi  "kita", kenapa "kita" malas, kenapa
"kita" teledor, kenapa "kita" tak mau kerja, kenapa
"kita" tak mau giat? Kenapa misalnya di Flores
tiada seorangpun muballigh Islam dari sesuatu
perhimpunan Islam yang

ternama (misalnya Muhammadiyah) buat
mempropagandakan Islam di situ kepada 
orang kafir? Missi di dalam beberapa tahun
sahaja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir
di Flores,tapi berapa orang kafir yang bisa
"dihela" oleh Islam di Flores itu? Kalau dipikirkan,
memang semua itu "salah kita sendiri", bukan
salah orang lain. Pantas Islam selamanya 
diperhinakan orang!

Kejadian di Bandung yang tuan beritakan, sebagian
saya sudah tahu, sebagian belum. Misalnya,
saya belum tahu, bahwa tuan punya anak telah 
dipanggil kembali ke tempat asalnya. Saya bisa
menduga tuan punya duka cita,dan sayapun s
emakin insyaf , bahwa manusia punya hidup adalah
sama sekali di dalam genggaman Ilahi.

Yah, kita harus tetap tawakkal, dan haraplah tuan suka
sampaikan saya punya ajakan tawakkal itu kepada
Saudara-saudara yang lain-lain, yang juga 
tertimpa kesedihan.

Sampaikanlah salamku kepada semua.

Wassalam,
SUKARNO


Publisher "The Spirit of Islam" kini saya sudah tahu: Doran & Co., New York. Saya sudah dapat persanggupan ongkosnya dari saya punya mbakyu, dan sudah pesan buku itu. Saya ingin tahu pendapat Ameer AU, apakah yang menjadikan kekuatan Islam, dan apakah sebabnya "semangat kambing" sekarang ini. Cocokkah dengan pendapat saya, atau tidak?

Catatan Kaki:

Bahasa Inggris: kepentingan Islam terpenting.
Bahasa Inggris: konvensionalisme, suatu paham yang mendasarkan pada keputusan Bersama.
Di dalam surat ini
BungKarno mengartikannya, ‘Tidak memegang kepada pokok-pembicaraan saja.”
Bahasa Belanda: Rantainya adat-kebiasaan
Bahasa Inggris: saling membelai satu sama lain.
Bahasa Belanda: saling melezatkan satu sama lain.
Bahasa Inggris: respek.
Agama Katolik Roma.
Bahasa Arab: Insaf, sadar, mengerti benar (akan).
Bahasa Arab: Berserah diri kepada Tuhan.

Quote