Ikuti Kami

51 Tahun PDI Perjuangan, Semakin Besar Tantangan, Semakin Dikuatkan

PDI Perjuangan tetap istiqomah menjadi partai ideologis yang menjaga amanah Undang-Undang dengan merawat konstitusi.

51 Tahun PDI Perjuangan, Semakin Besar Tantangan, Semakin Dikuatkan
Afthon Lubbi.

Jakarta, Gesuri.id - Penulis bukan kader PDI Perjuangan, bukan pula simpatisan. Tapi melihat situasi politik Indonesia hari ini, penulis bersaksi bahwa partai banteng ini memiliki garis perjuangan yang tidak main-main. Jauh berbeda dengan partai-partai lain yang oportunis untuk memenangkan hati rakyat dalam pesta demokrasi, PDI Perjuangan tetap istiqomah menjadi partai ideologis yang menjaga amanah Undang-Undang dengan merawat konstitusi.

Pada pemilu 2024 ini, jika PDI Perjuangan mau sedikit oportunis saja, ia bisa melanggengkan kemenangan secara mudah dengan menuruti semua keinginan Jokowi, petugas partai yang ingin meneruskan jabatan presiden tiga periode, atau memperpanjang masa jabatan, pun dengan memasangkan Ganjar Pranowo dengan orang yang diinginkan Jokowi, semua ditolak.

Baca: 3 Bandara Dibangun di Era Ganjar

PDI Perjuangan lebih memilih memegang bara yang panas, tegas menjaga konstitusi dan tidak mau bermain-main dengan Undang-Undang. Pun ketika memilih pendamping Ganjar, PDI Perjuangan meminang orang yang dikehendaki rakyat, Mahfud MD, tokoh jujur kenyang asam garam politik yang sudah melewati carut marut negeri ini dengan prestasi yang gemilang dalam trias politik demokrasi, sebagai anggota legislatif di DPR, eksekutor pemberani sebagai menteri pertahanan era Gus Dur plus menkopolhukam di era Jokowin dengan membongkar banyak kasus besar, dan bahkan menjadi ketua Mahkamah Konstitusi, lembaga yang menjaga marwah bangsa, mengoreksi segala aturan negara untuk kepentingan rakyat, di saat banyak ketua MK tersandung masalah hukum, Pak Mahfud MD justru menjadi ketua MK yang sangat bersih dan berprestasi. Jelas PDI Perjuangan lebih memilih Pak Mahfud MD dibanding tokoh lain di negeri ini. PDI Perjuangan tahu, ia tak akan bisa mengendalikan Pak Mahfud, karena itulah tujuannya, memberantas mafia hukum yang mengganggu demokrasi.

PDI Perjuangan ibarat pohon besar yang terus berbuah. Ia melahirkan banyak sekali pemimpin di negeri ini. Jika berbicara meritokrasi, PDI Perjuangan adalah partai pelopornya. Disebut ketua umumnya tidak berganti-ganti, itulah kehendak demokrasi anggota partai ini, anak-anak ideologis Bung Karno yang saat ini masih ingin di-'emong' oleh seorang ibu yang kuat dan pemberani. Megawati jelas mengambil kebijakan partai dengan prinsip-prinsip meritokrasi, ia pilih Jokowi yang bukan siapa-siapanya, ia pilih Ganjar yang juga bukan siapa-siapanya. Padahal Mega punya tiket untuk anaknya sendiri yang juga mengikuti kaderisasi partai dari bawah, Puan Maharani.

Baca: Ini Profil Singkat Ketua TPD Ganjar-Mahfud Provinsi Sumatera Selatan

Meski demikian, PDI Perjuangan tetap akan dilempari kotoran oleh para pendengkinya. Pohon yang baik tetap akan tumbuh. Kotoran, cacian, makian, dan fitnah, hanya akan jatuh di bawah pohon yang subur menjadi pupuk perjuangan. Dengan pupuk semacam itu, PDI Perjuangan semakin tumbuh besar dan tinggi di atas bumi Indonesia. Akarnya kuat, batangnya kokoh, daunnya lebat, rantingnya terus berkembang, bunganya wangi, menghasilkan buah-buah matang yang siap dipetik oleh rakyat.

Kini PDI Perjuangan berusia 51 tahun. Partai tua yang tetap diisi anak-anak muda bahkan belia. "Patah tumbuh hilang berganti". Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah siap berganti.

Kita semua tahu, salah satu anak kesayangan PDI Perjuangan yang sudah matang, memilih jatuh sendiri, membusuk bersama kotoran-kotoran yang berserak di atas tanah. Sebelum ia hilang ditelan bumi, Ganjar Pranowo sudah siap mengganti, melanjutkan tongkat estafet NKRI.

Oleh: Afthon Lubbi

Quote