Ikuti Kami

Bersua di KBRI Dili: Megawati Peluk Batin Eks Kader PDI Timor Timur yang Tetap Setia di Tengah Dinamika Sejarah

Silaturahmi Haru Komunitas WNI di Timor-Leste: Megawati Gaungkan Kebanggaan Nasional dan Dengar Refleksi Jajak Pendapat 1999.

Bersua di KBRI Dili: Megawati Peluk Batin Eks Kader PDI Timor Timur yang Tetap Setia di Tengah Dinamika Sejarah
Presiden Kelima RI, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, Foto: Monang Sinaga.

Dili, Gesuri.id – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Timor-Leste menggelar acara makan malam dan ramah tamah hangat yang mempertemukan Presiden Kelima RI, Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, dengan ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Kota Dili dan sekitarnya. 

Acara silaturahmi ini juga dihadiri oleh keluarga besar Megawati termasuk Puti Guntur Soekarno serta Romy Soekarno. Hadir juga jajaran elite PDI Perjuangan seperti Sekjen Hasto Kristiyanto dan Ketua DPP Bintang Puspayoga, Ahmad Basarah, Andreas Pareira, dan Andi Widjajanto.

Di Rumah KBRI Dili, Kamis (9/7/2026) waktu setempat, hadir juga  barisan warga lokal Timor-Leste yang merupakan mantan pengurus PDI Timor Timur sebelum referendum pemisahan tahun 1999.

IMegawati mengaku merasa sangat tersentuh karena berada di gedung KBRI Dili berasa seperti sedang berada di rumah sendiri. Ia meminta agar gedung KBRI selalu terbuka lebar dan menjadi rumah yang mengayomi seluruh rakyat Indonesia di sana. 

Baca: Kisah Perjuangan Ganjar dari Mahasiswa Sampai Jadi Capres

Selain itu, Megawati juga mengingatkan seluruh warga yang hadir untuk selalu menjaga kehormatan bangsa dan bangga dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Di tengah suasana hangat tersebut, atmosfer berubah menjadi takzim ketika beberapa perwakilan eks pengurus PDI masa lalu diberikan kesempatan naik ke atas panggung untuk membagikan refleksi dan catatan sejarah mereka.

Testimoni pertama dibawakan oleh Martin Anastasio, mantan pengurus PDI Perjuangan Timor Timur periode 1996–2000. Dengan suara bersemangat, Martin mengenang kembali beratnya dinamika politik serta berbagai upaya tekanan dan intimidasi yang harus dihadapi para pengurus partai di daerah menjelang gejolak referendum 1999.

Di tengah berbagai situasi sulit yang menguji kesetiaan tersebut, Martin menegaskan bahwa dirinya bersama pengurus lain memilih untuk tetap teguh mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi serta instruksi pusat dari Ketua Umum. 

"Saya tetap memilih jalan organisasi. Saya lebih rela meminta Mama Megawati harus hadir langsung ke Timor Timur saat itu untuk membantu meneduhkan situasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada," ungkap Martin yang langsung memicu tepuk tangan riuh.

Kesaksian lain datang dari Cesar Aleixo Brandao, mantan Ketua Ranting PDI Perjuangan Kecamatan Atauro (Pulau Kambing). Begitu mendengar info dari Sekretaris PDI Provinsi kala itu, Roni Hutagaol, bahwa "Mama Mega" mendarat di Dili, Cesar rela bertaruh menyeberangi lautan selama tiga jam menggunakan kapal dari Pulau Atauro demi bisa hadir di KBRI.

Cesar menceritakan kisah perjuangannya yang penuh risiko saat menghadapi berbagai interogasi dan penahanan dari aparat keamanan setempat di masa lalu akibat situasi politik Dili yang memanas. Karena bersikers memegang mandat "jalan tengah" yang mengedepankan perdamaian sesuai arahan Ibu Megawati, Cesar harus melewati masa-masa sulit di dalam tahanan.

"Saya mengalami banyak sekali ujian fisik dan mental saat itu, tapi saya bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa tetap melindungi saya," ujar Cesar sambil menahan haru.

Dalam kesempatan itu, Cesar turut membuka catatan yang terjadi pada bulan Juli sebelum referendum 1999. Di bawah pantai kawasan Farol, Ibu Megawati sempat menggelar pertemuan singkat selama 15 menit dengan para calon legislatif lokal untuk memberikan arahan internal. Di sanalah, Ibu Megawati menyampaikan pesan kedamaian yang mendalam yang hingga kini disimpan rapat di dalam dada Cesar.

"Ibu Megawati berbicara begini: 'Seandainya kalau masyarakat Timor Timur mau memilih merdeka, kita harus menghormati itu hak-hak mereka.' Kata-kata Ibu itu yang mengajarkan kami tentang esensi demokrasi dan masih saya simpan di sini," kata Cesar sambil menunjuk dadanya.

Mendengar kesaksian para mantan anak buahnya yang melintasi batas negara dan lini masa sejarah, Ibu Megawati mengaku sangat terharu dengan ikatan batin yang tidak pernah putus tersebut. Ibu Megawati langsung mengumumkan rencana pembentukan Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) PDI Perjuangan di Timor-Leste agar koordinasi komunikasi dengan kader lokal yang menetap di Dili dapat terwadahi secara demokratis dan terstruktur.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu

Selain itu, menanggapi permohonan Cesar terkait kebutuhan investasi pariwisata dan perikanan di Pulau Atauro yang berbatasan langsung dengan Maluku Barat Daya, Ibu Megawati berjanji akan segera mengirimkan salah satu Ketua DPP-nya, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri selaku pakar kelautan dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, untuk melakukan riset dan meninjau langsung potensi kemakmuran ekonomi di pulau tersebut.

Megawati juga sempat membagikan memori awal mula persahabatannya yang unik dengan Perdana Menteri Xanana Gusmão yang bermula dari secarik surat yang dikirimkan secara rahasia dari balik jeruji penjara di masa lalu. Ibu Megawati menyampaikan cerita kedekatan dirinya dengan Xanana maupun Presiden Ramos Horta.

"Saya dengan beliau berdua menjadi sahabat lama, dan alhamdulillah mereka berdua masih dapat saya temui dengan sehat hari ini. Dan kami juga berkeinginan untuk kita semua maju bersama," ujar Megawati.

Acara makan malam yang diorganisasi dengan apik oleh KBRI Dili ini ditutup dengan pekik "Merdeka!" yang diteriakkan lantang oleh Ibu Megawati dan dijawab kompak oleh ratusan WNI.

Quote