Depok, Gesuri.id – Momentum Bulan Bung Karno tahun ini diramaikan dengan rangkaian acara Bedah Buku Fatmawati dan kompetisi Fatmawati Trophy.
Diikuti oleh peserta dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat, agenda ini sukses menjadi ruang edukasi untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda melalui perpaduan literasi sejarah dan kompetisi desain kreatif.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Depok, Hj. Yuni Indriany menyoroti pentingnya pendekatan literasi dan kreativitas sebagai media pembelajaran sejarah yang efektif dan relevan bagi generasi zilenial dan milenial.

Baca: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
Menurutnya, perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari peran sang Proklamator, tetapi juga dari kontribusi besar para tokoh bangsa lainnya yang penuh keteguhan dan keberanian.
“Kami ingin menghadirkan kembali sosok Fatmawati kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat, menarik, dan mudah dipahami. Literasi mengajak masyarakat mengenal sejarah secara lebih mendalam, sedangkan kreativitas menjadi jembatan agar nilai-nilai perjuangan dapat diwujudkan dalam karya, gagasan, dan tindakan nyata,” ujar Yuni kepada media, Rabu (8/7).
Yuni menilai, selama ini sosok Fatmawati cenderung lebih dikenal sebatas penjahit Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945. Padahal, rekam jejak dan keteladanan Fatmawati jauh lebih luas dari itu.
"Keteladanan Fatmawati itu sangat luas, mulai dari kesederhanaan, ketangguhan, integritas, hingga komitmennya yang tanpa pamrih terhadap bangsa," tuturnya.
Nilai-nilai luhur inilah yang menurut Yuni harus diinternalisasi oleh generasi muda di tengah gempuran teknologi dan arus globalisasi. Ia menegaskan bahwa sejarah tidak boleh sekadar menjadi catatan masa lalu yang berdebu, melainkan harus bertransformasi menjadi bahan bakar inspirasi untuk membangun masa depan.
Lebih lanjut, Yuni menyatakan bahwa PDI Perjuangan memikul tanggung jawab moral untuk terus menjaga api perjuangan para pendiri bangsa, termasuk memperkuat apresiasi terhadap peran perempuan dalam sejarah coreng-moreng kemerdekaan Indonesia.

Baca: Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
“Bagi PDI Perjuangan, mengangkat sosok Fatmawati juga merupakan bentuk penghormatan terhadap peran perempuan dalam sejarah perjuangan Indonesia. Kami ingin generasi muda memahami bahwa kemerdekaan dan kemajuan bangsa lahir dari semangat gotong royong, baik laki-laki maupun perempuan,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Yuni menegaskan bahwa kolaborasi antara bedah buku dan kompetisi desain ini adalah model edukasi modern yang mampu mengawinkan pemahaman sejarah dengan kreativitas. Melalui metode ini, anak muda diharapkan tidak hanya sekadar menjadi pengamat sejarah, tetapi juga mampu menerjemahkannya ke dalam kontribusi nyata.
“Bulan Bung Karno bukan sekadar momentum mengenang masa lalu, tetapi menghidupkan kembali nilai perjuangan agar menjadi inspirasi masyarakat. Semangat Fatmawati harus terus hidup dalam karakter, karya, dan pengabdian generasi penerus Indonesia,” pungkasnya.

















































































