Sidoarjo, Gesuri.id — Kabar duka yang mendalam menyelimuti seluruh keluarga besar PDI Perjuangan atas berpulangnya Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai DPC PDI Perjuangan Sidoarjo yang juga legislator setempat, Bambang Riyoko.
Kepergian sosok senior yang begitu mendadak ini menyisakan kesedihan mendalam sekaligus kebanggaan luar biasa bagi seluruh kader, mengingat almarhum tetap setia mengawal tugas kepartaian hingga beberapa jam sebelum mengembuskan nafas terakhirnya. Dedikasi tanpa batas yang ditunjukkan oleh almarhum kini menjadi warisan spiritual berharga yang membakar semangat perjuangan bagi seluruh barisan yang ditinggalkan.
Langkah hidup almarhum mencerminkan sebuah loyalitas mutlak yang melampaui sekat formalitas pekerjaan, di mana kepentingan organisasi dan masyarakat selalu diletakkan di atas segalanya. Kehadiran fisik dan pemikirannya di tengah-tengah momentum krusial partai menjadi bukti nyata bahwa semangat ideologis tidak akan pernah padam oleh usia. Pengorbanan waktu dan energi yang dicurahkan hingga detik-detik terakhir hidupnya menanamkan rasa hormat yang mendalam di hati setiap orang yang mengenalnya.
Sejawat almarhum di DPC PDI Perjuangan Sidoarjo, Choirul Hidayat, mengungkapkan momen-momen terakhir bersama mendiang saat menghadiri rapat penjaringan calon Ketua Ranting yang berlangsung sangat emosional. Kehadiran almarhum pada malam itu menunjukkan komitmen tinggi terhadap tata kelola organisasi yang kokoh di tingkat akar rumput demi menjaga soliditas internal. Sebuah pesan penting dan strategis disampaikan dengan penuh ketegasan demi keberlangsungan struktur kepartaian yang sehat serta merata.
"Ijin saya mau ngomong, sedikit saja. Untuk pembentukan Pengurus Ranting, usahakan tempat tinggal masing-masing pengurus tidak dalam satu RW apalagi RT. Sudah, itu saja. Terimakasih," ujar Bambang Riyoko dalam interupsi terakhirnya malam itu.
Choirul Hidayat menambahkan bahwa kejelian almarhum di ujung rapat tersebut menjadi bukti nyata bagaimana seorang kader senior sangat memperhatikan aspek manajerial organisasi hingga akhir hayatnya. Komitmen ini membuktikan bahwa pengabdiannya tidak pernah luntur oleh dinamika waktu, melainkan terus bergerak secara konsisten demi memastikan fondasi partai di tingkat bawah tetap terjaga dengan kokoh. Rekam jejak almarhum yang selalu hadir lebih awal dan mendukung penuh operasional partai menjadi cermin kepemimpinan yang tulus dan patut diteladani.
Lebih dari sekadar aktif dalam rapat-rapat struktural, almarhum juga dikenal luas sebagai penyokong utama pergerakan partai sejak era awal tahun 90-an dengan mengandalkan kemampuan finansial pribadinya. Di masa-masa sulit ketika pergerakan membutuhkan dukungan nyata, almarhum hadir sebagai pilar penyangga yang memfasilitasi berbagai kegiatan operasional tanpa pernah mengharapkan pamrih atau tepuk tangan panggung politik. Keikhlasan seperti inilah yang membangun kedekatan emosional yang sangat kuat di antara sesama kader seperjuangan.
Sikap ringan tangan almarhum juga menyentuh berbagai kelompok masyarakat, mulai dari urusan legalitas aset penting organisasi hingga pemenuhan fasilitas fasilitas olahraga bagi komunitas warga di pelosok desa. Tindakan nyata yang dilakukan secara senyap ini menegaskan bahwa politik bagi almarhum adalah sarana untuk menebar kemaslahatan dan gotong royong, bukan sekadar mengejar popularitas semata. Kepergian sosok yang begitu peduli ini tentu meninggalkan ruang kosong yang teramat besar bagi masyarakat Sidoarjo.
Rasa kehilangan yang mendalam dan penghormatan yang tinggi juga disampaikan oleh pihak keluarga melalui sang adik, Iswahyudi, yang mengisahkan prosesi penghormatan terakhir almarhum. Pihak keluarga secara khusus meminta agar mobil ambulans milik organisasi menjadi sarana pengantaran jenazah menuju peristirahatan terakhirnya di makam desa setempat. Permintaan ini menjadi simbol pengikat emosional yang tak terpisahkan antara perjalanan hidup almarhum dengan bendera perjuangan yang dicintainya.
"Agar jenazah almarhum diantar ambulans Baguna. Karena lebih dari separuh usianya untuk mengabdi kepada PDI Perjuangan," ungkap Iswahyudi dengan penuh rasa haru saat mengenang dedikasi sang kakak.
Langkah senyap almarhum yang penuh ketulusan dalam merawat organisasi kini bertransformasi menjadi sebuah warisan inspirasi yang abadi bagi generasi penerus. Kepergian Bambang Riyoko bukan sekadar akhir dari sebuah perjalanan hidup, melainkan sebuah momentum refleksi bagi seluruh kader untuk terus menyalakan api perjuangan yang menyala.
Melalui keteladanan yang ditinggalkannya, seluruh jajaran kepartaian tertantang untuk menjaga soliditas, memperkuat barisan, dan melanjutkan kerja-kerja nyata demi kemanusiaan.

















































































