Mojokerto, Gesuri.id – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mojokerto memilih cara yang unik dan sarat nilai sejarah untuk menutup rangkaian peringatan Bulan Bung Karno. Mereka menggelar bakti sosial bertajuk "Merawat dan Melestarikan Budaya" dengan membersihkan makam pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya, di situs Siti Inggil.
Aksi bersih-bersih makam ini menjadi puncak acara yang paling menyedot perhatian dari seluruh rangkaian kegiatan yang digelar sepanjang Juni 2026.
Pihak DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mojokerto menyatakan rasa syukur atas kelancaran seluruh agenda tersebut. Mereka juga mengapresiasi kekompakan seluruh elemen yang terlibat.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
"Kami berterima kasih dan mengapresiasi keterlibatan seluruh pengurus partai, baik tingkat DPC, PAC, ranting, kader partai, maupun masyarakat umum dalam rangkaian kegiatan Bulan Bung Karno," tulis DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mojokerto dalam keterangan resmi yang diterima Harian Disway, Senin, 29 Juni 2026.
Sebelumnya, rangkaian peringatan Bulan Bung Karno di Mojokerto telah dibuka dengan doa bersama. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sarasehan politik bagi Generasi Z (Gen Z), berbagai lomba di media sosial, hingga aksi menanam tanaman pangan pendamping beras. Aksi menanam ini merupakan langkah konkret dalam menjaga ketahanan pangan sesuai arahan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Mojokerto, Ida Bagus Nugroho, menjelaskan bahwa aksi bersih-bersih di situs Siti Inggil ini bukan sekadar agenda seremonial. Kegiatan ini adalah bentuk refleksi dan aktualisasi nyata dari ajaran Trisakti Bung Karno, khususnya poin ketiga: berkepribadian dalam kebudayaan.
"Kita harus tanggap dan peduli untuk merawat serta melestarikan budaya yang ada di Bumi Mojopahit," ujar Ida Bagus Nugroho.
Ida Bagus menekankan pentingnya bagi seluruh kader dan masyarakat untuk meneladani semangat sang Proklamator secara substansial.
"Sebagai pengikut Bung Karno, kita harus mewarisi apinya atau semangat perjuangannya, bukan 'abunya'. Berpolitik itu harus selalu berpihak kepada rakyat," tegasnya.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
Ia menambahkan, momen-momen penting di bulan Juni—mulai dari Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, hari lahir Bung Karno pada 6 Juni, hingga hari wafatnya pada 21 Juni—menjadi landasan filosofis yang kuat mengapa agenda Bulan Bung Karno ini rutin digelar setiap tahun.
Melalui momentum ini, Bagus mengajak semua pihak, terutama generasi muda, untuk terus membumikan ajaran ekonomi dan sosial Bung Karno di tengah masyarakat.
"Bung Karno mengajarkan kita untuk membumikan ajaran Trisakti dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kekuasaan bukanlah segalanya, melainkan sebuah kepercayaan dari rakyat yang harus diabdikan sepenuhnya untuk kesejahteraan kaum Marhaen," pungkasnya seraya meminta para kader untuk tetap bergotong royong dan setia berada di "Garis Rakyat".

















































































