Ikuti Kami

Ony Setiawan Bedah Relevansi Marhaenisme Hadapi Neoliberalisme

Marhaenisme yang dicetuskan Bung Karno masih sangat kontekstual untuk menghadapi gaya baru penjajahan ekonomi saat ini.

Ony Setiawan Bedah Relevansi Marhaenisme Hadapi Neoliberalisme
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tuban, Ony Setiawan.

Tuban, Gesuri.id – Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tuban, Ony Setiawan, mengajak generasi masa kini untuk kembali membumikan pemikiran Soekarno dalam menjawab tantangan zaman. 

Ia menegaskan bahwa ideologi Marhaenisme yang dicetuskan Bung Karno masih sangat kontekstual untuk menghadapi gaya baru penjajahan ekonomi saat ini.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara diskusi publik bertajuk "Pemikiran Soekarno dan Relevansinya" yang dikemas lewat agenda Ngopi Bareng Cak Ony di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tuban, Selasa (30/6). 

Baca: Ini Deretan Program Ganjar Pranowo

Diskusi yang digelar dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno ini berlangsung interaktif dan dipadati peserta hingga akhir acara.

Ony mengulas kembali salah satu dokumen politik dan hukum paling monumental, yaitu pidato pembelaan (pledoi) berjudul Indonesia Menggugat yang dibacakan Bung Karno pada 2 Desember 1930 di pengadilan kolonial Belanda (Landraad) Bandung.

"Pemikiran radikal Bung Karno tentang antikolonialisme dan imperialisme saat itulah yang melahirkan Marhaenisme. Hingga akhirnya Pancasila yang disampaikan Bung Karno dalam pidato 1 Juni disempurnakan redaksinya seperti sekarang ini, yang kini menjadi asas PDI Perjuangan dalam AD/ART partai," ujar Ony.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur ini menjelaskan, secara esensial Marhaenisme adalah ideologi yang berfokus pada pembelaan terhadap kaum marhaen. Mereka adalah rakyat kecil—seperti petani dan buruh—yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi hidupnya tetap melarat akibat cengkeraman sistem kapitalisme yang menindas.

Ony memaparkan bahwa Bung Karno memeras nilai-nilai tersebut ke dalam tiga pilar utama yang dikenal sebagai Trisila, yaitu:

- Sosio-Nasionalisme: Nasionalisme yang berwatak sosial, menempatkan kemanusiaan dan keadilan di atas segalanya.

- Sosio-Demokrasi: Demokrasi yang tidak hanya menuntut persamaan hak politik (pemilu), tetapi juga keadilan di bidang ekonomi agar tidak ada rakyat yang kelaparan.

- Ketuhanan yang Berkebudayaan/Maha Esa: Aspek spiritualitas yang membentengi perjuangan agar tetap berada dalam koridor kemanusiaan yang beradab.

"Bagi Bung Karno, Indonesia merdeka bukanlah akhir perjuangan, melainkan sebuah 'jembatan emas' untuk mencapai masyarakat yang adil, makmur, dan bebas dari penindasan," tegas legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Tuban-Bojonegoro tersebut.

Ony mengingatkan bahwa Pancasila yang digali dari bumi Nusantara tidak boleh sekadar menjadi hafalan teks formal. Pancasila harus menjadi jiwa penuntun untuk menghapus sistem penindasan manusia atas manusia (l'exploitation de l'homme par l'homme).

Baca: Ganjar Pranowo Pimpin Demo Hari Antikorupsi 

Di abad ke-21 ini, wajah kemelaratan telah berubah bentuk sehingga Marhaenisme justru menjadi makin relevan sebagai pisau analisis.

"Jika dahulu kolonialisme bersifat fisik, hari ini imperialisme menjelma menjadi neoliberalisme dan neokolonialisme. 

Sistem ini menciptakan ketergantungan ekonomi pada investasi asing yang sering kali tidak berpihak pada kepentingan masyarakat lokal," pungkasnya.

Quote