Ikuti Kami

Dari Sumpah Pemuda ke Indonesia Emas 2045, Azhar Dorong Anak Muda Berani Ambil Peran

Kepemimpinan tidak lahir hanya dari satu organisasi, satu komunitas, atau satu latar belakang.

Dari Sumpah Pemuda ke Indonesia Emas 2045, Azhar Dorong Anak Muda Berani Ambil Peran
Kader muda PDI Perjuangan sekaligus Koordinator Bidang Pendidikan Arus Muda Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Azhar P. Dedytama.

Jakarta, Gesuri.id - Kader muda PDI Perjuangan sekaligus Koordinator Bidang Pendidikan Arus Muda Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Azhar P. Dedytama, menilai persiapan generasi muda menjadi pemimpin masa depan harus dilakukan sejak dini melalui pendidikan, pengalaman berorganisasi, kolaborasi, dan pemberian ruang partisipasi yang nyata.

“Kepemimpinan tidak lahir hanya dari satu organisasi, satu komunitas, atau satu latar belakang. Kepemimpinan tumbuh melalui proses belajar, pengalaman, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan untuk bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki perspektif berbeda,” ujar Azhar.

Menurut dia, keberagaman yang dimiliki Indonesia seharusnya menjadi kekuatan bagi generasi muda untuk membangun kolaborasi, bukan menjadi alasan untuk menciptakan sekat. Karena itu, organisasi kepemudaan, komunitas sosial, pelajar, mahasiswa, hingga kelompok wirausaha muda perlu memperkuat kerja sama yang menghasilkan gagasan dan kerja nyata bagi masyarakat.

Azhar menilai ruang pertemuan dan kolaborasi antargenerasi muda memiliki peran penting dalam membentuk karakter kepemimpinan. Salah satunya melalui kegiatan Merah Muda Visioner yang dinilai dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk bertukar gagasan, memperluas wawasan, dan membangun kesadaran mengenai tanggung jawab terhadap masa depan bangsa.

“Dalam konteks ini, kegiatan seperti Merah Muda Visioner menjadi kesempatan bagi anak muda untuk bertukar gagasan, memperluas wawasan, serta membangun kesadaran bahwa masa depan bangsa merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.

Ia juga mengapresiasi langkah partai politik yang memberikan ruang kepada generasi muda untuk menyampaikan pemikiran, mengembangkan kapasitas, dan mengambil peran dalam proses perubahan. Menurut Azhar, anak muda tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai objek kegiatan, tetapi perlu dilibatkan sebagai subjek yang memiliki kesempatan untuk berkontribusi.

“Saya melihat, ketika partai politik tidak hanya berbicara tentang pentingnya generasi muda, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pemikiran, mengembangkan kapasitas, dan mengambil peran, itu merupakan hal yang patut diapresiasi,” ujarnya.

Azhar menegaskan, pemimpin masa depan tidak terbentuk secara instan. Proses tersebut membutuhkan ruang belajar, kaderisasi, pengalaman berorganisasi, serta kepercayaan yang dibangun secara konsisten.

Ia juga mengingatkan bahwa bonus demografi merupakan peluang strategis bagi Indonesia. Namun, besarnya jumlah penduduk usia produktif tidak otomatis menjamin kemajuan bangsa tanpa diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Bonus demografi merupakan peluang strategis bagi Indonesia, tetapi besarnya jumlah penduduk usia produktif tidak secara otomatis menjamin kemajuan bangsa. Peluang tersebut harus diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, produktivitas, serta pemerataan kesempatan bagi generasi muda,” tuturnya.

Menurut Azhar, Generasi Z harus mempersiapkan diri agar tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut menentukan arah pembangunan. Penguasaan teknologi, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, komunikasi, dan kewirausahaan dinilai menjadi sejumlah kemampuan penting yang perlu dimiliki generasi muda.

Namun, ia menekankan pembangunan generasi muda tidak boleh hanya diarahkan pada kemampuan bersaing di dunia kerja. Kesadaran sosial, pemahaman kebangsaan, serta keberanian untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membentuk generasi pemimpin.

“Anak muda juga perlu memiliki kesadaran sosial, pemahaman kebangsaan, dan keberanian untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan masyarakat,” katanya.

Karena itu, Azhar mendorong agar generasi muda diberikan ruang partisipasi yang lebih luas, termasuk dalam organisasi kemasyarakatan dan politik. Menurutnya, ruang tersebut dapat menjadi tempat bagi anak muda untuk belajar memahami persoalan publik, menyampaikan gagasan, hingga terlibat dalam proses pengambilan keputusan.

Ia berpandangan, perhatian terhadap generasi muda tidak semestinya hanya muncul menjelang momentum politik atau peringatan hari besar nasional. Persiapan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan proses panjang dan berkelanjutan.

“Persiapan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan proses panjang dan berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya membangun kapasitas anak muda harus dimulai sejak sekarang, bukan menunggu ketika Indonesia genap berusia satu abad kemerdekaan,” ujar Azhar.

Ia juga menilai momentum satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 perlu dipersiapkan jauh-jauh hari. Menurutnya, peringatan tersebut tidak seharusnya hanya menjadi seremoni, tetapi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah dan semangat persatuan generasi muda.

“Kesadaran sejarah harus mulai dibangun jauh sebelumnya melalui pendidikan, diskusi, kolaborasi, dan kegiatan yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk bertumbuh,” katanya.

Azhar mengapresiasi ikhtiar yang dibangun melalui kegiatan Merah Muda Visioner sejak beberapa bulan sebelum momentum satu abad Sumpah Pemuda. Baginya, langkah tersebut menunjukkan bahwa membangun generasi masa depan membutuhkan kesadaran untuk memulai lebih awal dan konsistensi dalam menjaga prosesnya.

Menurut Azhar, Indonesia Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi generasi muda, tetapi juga oleh keseriusan dalam mempersiapkan mereka. Bonus demografi, kata dia, harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, memperluas keadilan sosial, dan melahirkan generasi yang mampu membawa bangsa menuju kemajuan.

Ia kemudian mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tetap relevan bagi generasi saat ini. Jika generasi muda pada 1928 mampu melampaui berbagai perbedaan dan membangun kesadaran persatuan, generasi muda masa kini dinilai perlu meneruskan semangat tersebut melalui karya, pemikiran, dan pengabdian yang sesuai dengan tantangan zaman.

Azhar menyebut setidaknya ada tiga nilai yang harus menjadi fondasi kepemimpinan anak muda, yakni kejujuran, keberanian menyuarakan kebenaran, dan kerja nyata.

“Pertama, kejujuran sebagai dasar kepercayaan. Seorang pemimpin harus mampu menjaga integritas, bertanggung jawab atas keputusan, dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya,” katanya.

Kedua, lanjut dia, keberanian menyuarakan kebenaran. Anak muda perlu berani menyampaikan kritik, menawarkan gagasan, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Namun, keberanian tersebut harus disertai pengetahuan, argumentasi yang bertanggung jawab, serta kesediaan menerima koreksi.

“Ketiga, kerja nyata sebagai ukuran pengabdian. Kepemimpinan tidak semestinya hanya diukur dari jabatan, popularitas, atau banyaknya pernyataan yang disampaikan. Kepemimpinan harus dibuktikan melalui kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat,” ujar Azhar.

Ia menilai partai politik, organisasi kepemudaan, dan lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk memastikan generasi muda tidak hanya menjadi pendengar. Anak muda perlu diberikan ruang untuk berpendapat, berinisiatif, mengembangkan kapasitas, dan mengambil tanggung jawab.

Dalam konteks itu, Azhar kembali mengapresiasi kegiatan Merah Muda Visioner sebagai salah satu ruang partisipasi bagi generasi muda. Menurutnya, kesadaran sejarah akan menjadi lebih bermakna apabila diikuti dengan upaya mempersiapkan generasi penerus.

“Untuk menghormati perjuangan generasi terdahulu tidak cukup hanya dengan mengenang peristiwa sejarah, tetapi juga dengan meneruskan nilai-nilai perjuangan tersebut melalui tindakan nyata pada masa kini,” katanya.

Azhar juga mengutip filosofi Sunda yang menjadi salah satu prinsip yang ia pegang, yakni “Nu konsisten bakal nepi, nu setia bakal dipercaya.” Filosofi tersebut, menurutnya, mengajarkan pentingnya konsistensi dalam perjuangan dan kesetiaan terhadap nilai-nilai yang diyakini.

“Perjuangan tidak dapat dibangun hanya melalui semangat sesaat. Dibutuhkan konsistensi dalam bekerja, kesetiaan terhadap nilai-nilai yang diyakini, dan keteguhan untuk tetap bertanggung jawab dalam setiap proses,” ujarnya.

Ia meyakini nilai tersebut relevan dalam membangun kepemimpinan generasi muda sekaligus kehidupan berbangsa dan bernegara. Perubahan, kata Azhar, membutuhkan orang-orang yang tidak hanya berani memulai, tetapi juga mampu menjaga komitmen dan menyelesaikan tanggung jawabnya.

“Semangat Sumpah Pemuda harus kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari: menjaga persatuan di tengah perbedaan, berani menyampaikan kebenaran, serta bekerja untuk kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi maupun kelompok,” pungkasnya.

Quote