Ikuti Kami

Ganjar: Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora Diidamkan Rakyat

"Ini jembatan yang sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten yakni Blora dan Bojonegoro".

Ganjar: Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora Diidamkan Rakyat
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat meresmikan Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora, Minggu (3/1)

Semarang, Gesuri.id - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten itu.

Mereka yang hendak menyeberang sungai Bengawan Solo, lanjutnya, selama ini harus menggunakan perahu sederhana.

Baca: HUT 48, PDI Perjuangan Gerakkan Penghijauan, Bersih Ciliwung

"Ini jembatan yang sudah lama diidamkan masyarakat dari dua kabupaten ini, yakni Blora dan Bojonegoro. Hari ini sudah jadi, mudah-mudahan yang beresiko tinggi karena nyeberangnya pakai getek, pakai perahu, besok bisa lewat jembatan ini," katanya, Minggu (3/1). 

Ganjar juga mengapresiasi kerja sama yang baik antara Pemkab Blora dan Bojonegoro. Selain itu, Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora juga merupakan bukti kerja sama yang baik antara Pemprov Jateng dan Jatim. 

Siti Halimah (60) tampak semangat menggandeng cucunya yang masih balita. Bersama puluhan warga lain, Mbah Siti ingin menyaksikan sejarah dalam hidupnya, yakni peresmian Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora (TBB).

Yah, jembatan yang diresmikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Mensesneg Pratikno, Menhub Budi Karya Sumadi dan Menteri PUPR Basuki pada Sabtu (3/1) itu memang sejak lama diidamkan warga. Bagaimana tidak, sejak kecil sampai usianya 60 tahun, Mbah Siti harus menantang maut jika ingin bepergian ke Bojonegoro.

Bagaimana tidak, akses satu-satunya warga untuk menyeberangi sungai Bengawan Solo yang dalam dan alirannya deras itu adalah menggunakan perahu.

Tiap menyeberang, Mbah Siti mengatakan selalu was-was karena angkutan itu memang tidak menjamin keamanan warga. "Alhamdulillah seneng, saiki nek lewat mpun gampil (sekarang kalau menyeberang sudah mudah). Biasane nyabrang kali nganggo prau (biasanya menyeberang sungai pakai perahu), nggeh wedhi (ya takut)," katanya.

Mbah Siti mengatakan pernah melihat perahu yang digunakan untuk akses angkutan warga menyeberang itu tenggelam. Meski tak ada korban jiwa, namun kenangan itu membuatnya selalu ketakutan.

Hal senada disampaikan Tamhadi (60) warga lainnya. Dia mengatakan, sejak kakeknya dulu, warga memanfaatkan penyeberangan dengan perahu apabila hendak ke Bojonegoro atau ke Blora.

Baca: Ganjar Pranowo Buka-bukaan Soal Dirinya Jadi Gubernur

"Karena kalau lewat jembatan jauh, harus memutar. Jadi warga memilih naik perahu. Saya mengalami sejak kecil, ketika ongkosnya masih 500, sekarang sudah 2000," katanya. 

Jembatan Terusan Bojonegoro-Blora dibangun pada bulan Juni 2020 lalu memiliki panjang 1.100 meter dengan lebar 9 meter. 

Jembatan itu menghubungkan wilayah Bojonegoro tepatnya di Desa Luwih Haji Kecamatan Ngraho dengan Kabupaten Blora tepatnya di Desa Medalem Kecamatan Kradenan. 

Pembuatan jembatan itu menghabiskan anggaran sekitar Rp97,5 miliar atas kerjasama antara Pemkab Blora dan Bojonegoro itu. Demikian dilansir dari jpnncom.

Quote