Ikuti Kami

Yehuda Christian Dorong Gen Z dan Milenial Kemas Budaya dan Politik Lewat Konten Kreatif

Upaya memperkenalkan budaya kepada generasi muda perlu dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebiasaan di era digital.

Yehuda Christian Dorong Gen Z dan Milenial Kemas Budaya dan Politik Lewat Konten Kreatif
Kader DPC Taruna Merah Putih Jakarta Utara sekaligus Ketua Bidang Pelajar dan Mahasiswa, Yehuda Christian. (istimewa)

Jakarta, Gesuri.id - Kader DPC Taruna Merah Putih Jakarta Utara sekaligus Ketua Bidang Pelajar dan Mahasiswa, Yehuda Christian, mendorong generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana memperkenalkan kembali budaya Indonesia sekaligus meningkatkan kesadaran politik.

Menurut Yehuda, upaya memperkenalkan budaya kepada generasi muda perlu dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter dan kebiasaan mereka di era digital.

“Menurut aku, lebih ke packaging-nya. Anak muda zaman sekarang itu menggunakan teknologi. Jadi, yang bisa kita lakukan misalnya membuat konten di media sosial tentang cerita rakyat, kesenian tradisional, bahkan kebudayaan negara kita, tentu dengan gaya visual yang aesthetic,” ujar Yehuda, Senin (26/10/2026).

Ia menilai media digital memberikan ruang yang luas bagi generasi muda untuk mengenalkan kekayaan budaya Indonesia dengan cara yang lebih kreatif dan mudah diterima oleh masyarakat.

Menurutnya, platform seperti YouTube hingga media berbasis komik digital seperti Webtoon dapat menjadi medium alternatif untuk mengemas cerita rakyat, kesenian tradisional, dan berbagai warisan budaya Indonesia agar lebih dekat dengan generasi muda.

“Contohnya, aku menggunakan YouTube, serta masuk juga ke media baru seperti Webtoon,” katanya.

Selain persoalan budaya, Yehuda menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan melalui partisipasi politik. Ia mengajak Gen Z dan milenial untuk tidak hanya mengikuti popularitas maupun citra yang dibangun oleh para kandidat menjelang Pemilu.

Yehuda menekankan pentingnya masyarakat, khususnya pemilih muda, mencermati program kerja yang ditawarkan setiap pasangan calon (paslon) yang diusung partai politik. Menurut dia, popularitas, jargon, dan gimmick tidak seharusnya menjadi ukuran utama dalam menentukan pilihan politik.

“Yang kita lakukan sebagai Gen Z dan milenial untuk menggunakan suara dalam menentukan masa depan adalah dengan melihat atau mengecek program kerja nyata setiap paslon yang diusung partai, bukan melihat gimmick atau popularitas, bahkan jargon dari setiap paslon, tetapi hasil kerja nyatanya nihil,” ujarnya.

Ia menilai sikap kritis terhadap kandidat merupakan bagian dari praktik demokrasi. Generasi muda, kata Yehuda, memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai isu politik dan sosial melalui media yang mereka kuasai, termasuk media sosial.

“Sebagai generasi muda, kembali ke budaya dan melek politik itu caranya kita suarakan isu politik dan sosial melalui konten media sosial kita. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi itu kembali lagi sebagai bagian dari demokrasi kita,” tuturnya.

Karena itu, Yehuda mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi politik yang hanya mengandalkan jargon, popularitas, atau tampilan di media sosial. Ia mendorong pemilih muda untuk melakukan verifikasi dan melihat rekam jejak kandidat sebelum menentukan pilihan.

“Cermati rekam jejak kandidat atau paslon menjelang Pemilu nantinya, bukan lebih kepada jargon yang menarik dan sebagainya,” kata Yehuda.

Menurutnya, perkembangan teknologi seharusnya tidak hanya dimanfaatkan generasi muda untuk hiburan, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat literasi budaya dan politik. Dengan pendekatan kreatif dan kritis, Gen Z dan milenial dinilai dapat mengambil peran lebih besar dalam kehidupan demokrasi sekaligus menjaga keberlanjutan budaya Indonesia.

Quote