Subang, Gesuri.id - Wakil Ketua Bidang Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang, Adityarini Christina Napitupulu, S.Sos., M.A., M.I.P., (c) M.M., menegaskan nilai-nilai Sumpah Pemuda harus terus diaktualisasikan sesuai dengan tantangan zaman.
Di era digital, semangat persatuan tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui sikap bijak bermedia sosial, menjaga toleransi, melawan hoaks, serta menghasilkan karya dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928 merupakan tonggak sejarah penting yang menyatukan tekad pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang suku, agama, dan daerah untuk berbangsa dan bertanah air satu, yaitu Indonesia. Sumpah Pemuda membuktikan bahwa ego kedaerahan harus dikesampingkan demi tujuan yang lebih besar, yakni kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Tanpa momen ini, perjuangan bangsa di masa lalu akan terus terpecah-pecah,” kata Adityarini, Senin (26/10/2026).
Menurut Adityarini, tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan perjuangan para pemuda pada 1928. Jika dahulu persatuan menjadi modal utama untuk memperjuangkan kemerdekaan, kini nilai tersebut diuji melalui kemampuan generasi muda menghadapi polarisasi, penyebaran informasi palsu, dan berbagai bentuk provokasi di ruang digital.
“Nilai Sumpah Pemuda saat ini tidak lagi diuji lewat pertempuran fisik, melainkan melalui cara kita menyikapi keberagaman di media sosial, melawan hoaks, menjaga toleransi, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu perpecahan. Semangat Sumpah Pemuda harus diteruskan melalui tindakan nyata, seperti belajar dengan sungguh-sungguh, berkarya, berinovasi, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ucapnya.

Ia menjelaskan, nilai Sumpah Pemuda dapat diterapkan melalui tiga ikrar utama, yakni satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Ketiganya tetap relevan sebagai landasan bagi generasi muda untuk menjaga persatuan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan budaya.
Dalam konteks satu nusa, Adityarini menekankan pentingnya merawat keberagaman, termasuk di ruang digital. Menurutnya, generasi muda harus mampu menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, menghindari perundungan siber (cyberbullying), serta tidak menyebarkan konten yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Sementara itu, nilai satu bangsa dapat diwujudkan dengan membangun generasi muda yang terbuka terhadap perkembangan dunia tanpa kehilangan jati diri nasional. Pengaruh budaya asing, seperti K-Pop, anime, dan budaya Barat, tidak harus dipandang sebagai ancaman selama generasi muda tetap mengenal, menghargai, dan melestarikan budaya Indonesia.
Adapun nilai satu bahasa, lanjutnya, menegaskan pentingnya Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu sekaligus sarana diplomasi budaya. Di tengah perkembangan bahasa gaul dan penggunaan bahasa campuran, generasi muda perlu mampu menempatkan bahasa sesuai konteks, terutama dalam komunikasi formal dan kegiatan yang membawa nama Indonesia di tingkat internasional.
Lebih lanjut, Adityarini menilai perjuangan generasi muda pada masa kini harus diwujudkan melalui kreativitas, inovasi, dan prestasi. Kemajuan teknologi membuka peluang bagi anak muda untuk berkontribusi melalui karya digital, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kreatif, serta berbagai pencapaian yang dapat mengharumkan nama bangsa di tingkat global.
Selain itu, semangat gotong royong perlu diterjemahkan ke dalam bentuk kolaborasi modern. Generasi muda dituntut mampu bekerja sama melampaui perbedaan latar belakang, bidang keahlian, suku, maupun negara untuk menjawab berbagai persoalan, mulai dari lingkungan, kesehatan mental, hingga pendidikan.
Menurut Adityarini, semangat persatuan yang ditunjukkan para pemuda pada 1928 harus menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk mengesampingkan ego kelompok dan mengutamakan kepentingan bersama. Dengan demikian, Sumpah Pemuda tidak berhenti sebagai peringatan sejarah, tetapi menjadi pedoman dalam membangun masa depan Indonesia.
Adityarini Christina Napitupulu juga menjabat sebagai Sekretaris Taruna Merah Putih Jawa Barat dan Ketua WANOJA Perjuangan Kabupaten Subang. Melalui peran tersebut, ia menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kegiatan sosial, kepemudaan, dan pembangunan daerah sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Sumpah Pemuda.

















































































