Ikuti Kami

Ahok Minta Generasi Muda Miliki Karakter dan Jaga Reputasi Baik dalam Berpolitik

Ia kemudian membagikan pengalaman awal perjalanannya di dunia politik yang dimulai dari tingkat daerah.

Ahok Minta Generasi Muda Miliki Karakter dan Jaga Reputasi Baik dalam Berpolitik
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Jakarta, Gesuri.id — Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mengingatkan pentingnya bagi generasi muda untuk memiliki prinsip, karakter, dan menjaga reputasi baik ketika masuk ke dunia politik.

Pesan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam acara Millennial Public Pulse bertema "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan" di Jakarta, Rabu (28/10).

"Kalau kita dagang, itu pakai hati nurani. Tapi kalau kita mau berpolitik, kita pakai prinsip. Kalau kita bilang prinsip, Anda pasti harus punya karakter. Anda kalau punya karakter, berarti Anda pilih idealis. Banyak orang itu terdistract, melihat lingkungan itu pragmatis. Lalu Anda mulai berpikir mau ikut cara itu," kata Ahok.

Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar

Ia kemudian membagikan pengalaman awal perjalanannya di dunia politik yang dimulai dari tingkat daerah guna mengedukasi serta membangun kepercayaan rakyat secara langsung.

"Kita bicara kampanye 2 kali tidak jadi. Saya mulai kampanye waktu itu, saya mendidik rakyat. Makanya saya bilang, jangan pernah main di DPR RI dulu. Karena rakyat sudah tidak percaya kepada kalian yang mau jadi pejabat. Di dalam kotak rakyat, udahlah siapa aja sama kok. Udah jadi pejabat, ngibur kok. Nggak pernah ngurusin kita kok. Paling cuma pihara konstituen saja dengan APBN, APBD. Ditiara terus. Makanya orang baru nggak bisa masuk. Lalu kita bagaimana menghadapi seperti itu," ucapnya.

"Kita mendidik rakyat. Makanya waktu saya memulai politik, saya mulai dari DPRD tingkat 2. Kalau DPRD tingkat 2, kampung begitu kecil saja tidak mau percaya kamu, berarti dalam kehidupan kamu sehari-hari kamu ini payah, kira-kira gitu. Temenmu, saudaramu aja nggak mau pilih kamu kok. Banyak anak muda begitu calon DPRD, baru datang ke Pade, Bude, Tante, Om. Pada waktu dia pulang jadi mahasiswa, ngambil minuman pun emaknya yang ngambilin waktu Om Tante datang ke rumah. Bagaimana anda mau jadi politik baru deket? Ini pengalaman," lanjut Ahok yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Mengenai sikap mental dalam berpolitik dan menghadapi kegagalan, Ahok menekankan agar politisi muda tidak memaksakan kehendak dan meyakini bahwa kekuasaan merupakan kehendak Tuhan.

"Lalu kalau nggak kepilih bagaimana? Kita harus percaya kekuasaan itu Tuhan yang kasih, Tuhan yang ambil. Ya kenapa kita ngotot gitu loh? Apakah kita di luar pemerintahan tidak bisa berkarya?" ujarnya.

Ahok juga menyoroti tantangan generasi muda di era perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), di mana persaingan pengetahuan menjadi semakin terbuka dan ketat.

"Lalu ditanya, bagaimana ini untuk memotivasi anak muda? Saya mau cerita begini, hari ini manusia menciptakan AI, termasuk humanoid, dilatih supaya mirip dan melakukan tugas manusia. Itu AI. Makanya hari ini anak muda menghadapi satu persoalan, entry barrier persaingan itu jadi rendah. Kamu bisa, saya juga bisa. Kamu tahu, saya juga tahu. Jadi tiba-tiba anda profesor, dokter pun, saya bisa kalahkan dalam 15 menit pengetahuan anda riset. Asal sudah keluar, di-publish," jelasnya.

Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak

Sebagai penutup, ia berpesan agar setiap individu selalu melakukan "kalibrasi diri" berdasarkan nilai-nilai keagamaan agar tidak tergiur oleh godaan jabatan dan harta, melainkan fokus menjaga reputasi.

"Nah jadi apa ini masalah hari ini? Kita bisa takut, saya juga bisa takut. Waktu saya jadi pejabat, saya juga takut. Masa saya udah nggak jadi pejabat, gue mesti kerja sama orang. Malu dong gue. Saya pengen hidup jadi semacam pejabat. Makanya mulai berpikir gue mesti punya 200 miliar nih. Mesti kasih lahan sawit sama pengusaha, supaya tanamin buat saya 10%. Biar saya hidupnya nyaman. Tapi kenapa kita tidak lakukan? Kita perlu kalibrasi seperti alat ukur. Manusia diciptakan oleh Allah, menurut gambar dan rupa Allah, untuk melakukan kehendak Allah di dunia ini. Makanya kita perlu tiap pagi, atau tiap malam, kalibrasi diri atas firman Tuhan yang kita percaya. Supaya kita tetap sesuai panggilan kita sebagai manusia. Di dunia ini, yang tidak pernah takut akan apapun. Yang tidak pernah iri sama siapapun. Karena kekuasaan dan harta, tidak jaminan Anda bahagia, Anda dihargai," ungkapnya.

"Reputasi yang baik buat anak muda, itu mengalahkan sekaligus kekayaan maupun pejabatan. Ini yang perlu, bagaimana kita bisa tahu, Anda butuh kalibrasi setiap hari. Dengan firman Tuhan yang merupakan promt. Manusia memakai promt. Ini promt nya alat, yang firman Tuhan. Itu yang bisa membuat Anda bertahan di dunia ini," pungkasnya.

Quote