Jakarta, Gesuri.id – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), menekankan pentingnya menghadirkan pemimpin yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), mampu menjaga lingkungan dari polusi, serta bersedia mendengarkan aspirasi rakyat.
Menurut Ahok, masyarakat perlu menjadikan rekam jejak sebagai pertimbangan utama dalam memilih pemimpin, bukan berdasarkan latar belakang suku, agama, ras, atau antargolongan (SARA).
Hal tersebut disampaikan Ahok dalam acara Millennium Public Pulse di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Mengusung tema “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan”, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengangkat harapan terhadap kepemimpinan yang berintegritas, berpihak kepada masyarakat, serta mampu menjawab persoalan yang dihadapi bangsa.
Dalam kesempatan itu, Ahok menyampaikan sejumlah harapan mengenai sosok pemimpin yang ideal. Ia menyoroti pentingnya kebebasan dalam berproduksi, pemerintahan yang bersih dari praktik KKN, lingkungan yang terbebas dari asap atau polusi, serta kepemimpinan yang terbuka terhadap masukan masyarakat.
Baca: Perjalanan Hidup Ganjar Pranowo Lengkap dengan Rekam Jejak
“Dia bebas produksi, bebas KKN, bebas asap, pemimpin yang mendengar aspirasi rakyat. Nah saya nggak tau ini doa atau kalau saya ditanya, kalau ditambah kata bagaimana di depannya?,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan harapan terhadap tata kelola pemerintahan yang memberikan ruang bagi kegiatan ekonomi, menjunjung integritas, memperhatikan kualitas lingkungan, dan menempatkan aspirasi masyarakat sebagai bagian penting dalam pengambilan kebijakan.
Menurut Ahok, harapan terhadap pemimpin semacam itu tidak cukup berhenti sebagai ungkapan atau doa. Masyarakat juga perlu memiliki pertimbangan yang jelas ketika menentukan pilihan, terutama dengan melihat rekam jejak dan tindakan nyata para calon pemimpin.
Ia menegaskan bahwa latar belakang identitas tidak seharusnya menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan politik. Sebaliknya, masyarakat perlu menilai bagaimana seorang pemimpin menjalankan tanggung jawabnya, mengambil keputusan, serta menunjukkan komitmen terhadap kepentingan publik.
“Berarti anda mesti memilih berdasarkan rekam jejak, bukan berdasarkan suku, agama, ras, atau antargolongan,” kata Ahok yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian tersebut.
Pesan tersebut menekankan pentingnya menjadikan rekam jejak sebagai dasar penilaian terhadap pemimpin. Dengan mempertimbangkan rekam jejak, masyarakat dapat melihat pengalaman, kebijakan, serta tindakan yang pernah dilakukan seseorang sebelum memberikan kepercayaan kepadanya.
Selain itu, Ahok menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tema “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Kemanusiaan” menjadi relevan dengan pesannya mengenai perlunya mengutamakan kualitas kepemimpinan daripada perbedaan identitas.
Dalam masyarakat yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan golongan, perbedaan identitas merupakan bagian dari kehidupan berbangsa. Namun, menurut pesan yang disampaikan Ahok, keberagaman tersebut tidak semestinya mengesampingkan penilaian terhadap integritas dan tanggung jawab seorang pemimpin.
Pemimpin yang mendengarkan aspirasi rakyat juga menjadi salah satu poin penting dalam pernyataannya. Keterbukaan terhadap masukan masyarakat diperlukan agar kebijakan yang dibuat pemerintah dapat mempertimbangkan kebutuhan warga dan persoalan yang mereka hadapi.
Di sisi lain, harapan terhadap pemerintahan yang bebas KKN berkaitan dengan tuntutan agar penyelenggaraan negara dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab. Sementara itu, perhatian terhadap persoalan asap atau polusi mencerminkan pentingnya lingkungan yang sehat bagi kehidupan masyarakat.
Ahok kemudian mengaitkan harapan tersebut dengan doa bersama agar pemimpin yang tidak menjalankan nilai-nilai tersebut segera turun dari jabatannya.
Baca: Mengenal Sosok Ganjar Pranowo. Keluarga, Tempat Bersandar
“Kalau ini adalah doa, ini doa kita bersama, kita tambahin mudah-mudahan penguasa yang nggak ikutin ini cepat turun,” ungkapnya.
Pernyataan itu menegaskan harapannya agar kekuasaan dijalankan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat dan prinsip-prinsip pemerintahan yang bersih. Dalam konteks tersebut, kepercayaan publik terhadap pemimpin menjadi hal penting yang perlu dijaga melalui tindakan dan kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui pernyataannya dalam acara Millennium Public Pulse, Ahok mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menilai kepemimpinan. Rekam jejak, integritas, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesediaan mendengar aspirasi rakyat menjadi sejumlah aspek yang disorotnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema kegiatan yang mengangkat persatuan dan kemanusiaan. Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, penilaian terhadap pemimpin berdasarkan rekam jejak diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih mengutamakan kualitas, tanggung jawab, dan kepentingan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

















































































