Jakarta, Gesuri.id — Kemeja dan wajah dr. Sofyan Tan dibasahi peluh. Meski begitu, Anggota Komisi X DPR RI itu tetap melayani serbuan warga Medan Helvetia yang antusias mengulurkan tangan untuk bersalaman dan mengajak berswafoto.
Setiap kali hendak melangkah, pergerakannya tertahan oleh warga yang ingin mengabadikan momen bersama sosok yang mereka anggap sebagai pahlawan pendidikan anak-anak mereka.
Baca: Ganjar Bangga dengan Kualitas Bahan Aspal Karya Anak Bangsa

Peristiwa ini terjadi usai kegiatan serap aspirasi (reses) di Jalan Gaperta Ujung, Medan Helvetia, Rabu (5/8). Ratusan warga sabar mengantre. Sofyan Tan pun menyalami mereka satu per satu dengan tersenyum, membantu memegang ponsel warga, bahkan sempat menggendong seorang bayi dari salah satu pengunjung.
"Terima kasih banyak, Pak. Anak saya sudah bisa kuliah. Izin foto, ya, Pak," ujar Binaria Sihaloho (45), warga Jalan Penampungan.
Ungkapan haru Binaria bukan tanpa alasan. Berasal dari keluarga serbaketerbatasan suaminya bekerja sebagai sopir dan ia sendiri seorang juru masak biaya perguruan tinggi dulunya terasa mustahil. Kini, berkat Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah jalur aspirasi Sofyan Tan, anaknya berhasil menempuh semester lima pada Program Studi Informatika.
Sofyan Tan menegaskan bahwa kehadirannya di tengah masyarakat merupakan bentuk komitmen untuk mendengar langsung beban warga.
Menurutnya, bulan Juli dan Agustus menjadi masa paling berat bagi para orang tua karena harus menyiapkan biaya tahun ajaran baru di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok.
"Dua tahun terakhir, harga beras naik signifikan dari Rp9.000 menjadi Rp16.000-an per kilogram. Ini bukti masyarakat menghadapi tekanan ekonomi," tutur politisi tersebut.

Baca: Empat Keberhasilan Ganjar Pranowo Selama Menjadi Gubernur
Oleh karena itu, ia mendesak percepatan penyaluran beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) guna meringankan beban keluarga. Kendati demikian, ia mengingatkan para orang tua untuk tidak berputus asa.
"Pendidikan adalah jalan panjang yang mampu mengubah taraf hidup keluarga. Anak-anak yang dipertahankan sekolahnya hingga perguruan tinggi kelak akan mengangkat harkat dan martabat orang tuanya," tegas Sofyan.
Meskipun perjumpaan itu hanya berlangsung sekitar 60 menit, bagi warga Helvetia, momen tersebut memberi suntikan optimisme untuk terus memperjuangkan masa depan buah hati mereka.

















































































